
Rey juga mencoba mencari tahu dimana pasien bernama Ikhsan, sebab setahu Rey. Mira itu masih istri Ikhsan, atau mereka sudah bercerai. Gila, Rey kali ini benar benar tidak sangka, jika istri dari sepupu Diah menikah dengan suami Diah. Rey mencoba mencari tahu, apa yang terjadi pada Diah saat ini.
Di saat bertarung dengan nyawa, hati Mira merasa bersalah. Apalagi di saat Mey anak dirinya juga, meski bukan dari rahimnya. Ia berusaha tidak egois. Saat itu Mira ingin sekali memiliki seutuhnya bang Fariz. Apalagi di saat bang Fariz mengacuhkannya, ia berdoa agar di beri kelembutan hati Fariz tetap menceraikan Diah, mencintainya seumur hidup tanpa dibandingkan dengan istri pertama bernama Diah.
Tetapi ketika tahu soal Mey, dan masalah satu persatu, membuat diri Mira merasa bersalah sejujurnya ia penyayang pada anak kecil, hanya egois jika harus berbagi suami, tidak tahu diri ketika wanita baik, harus ia sakiti dengan memiliki seutuhnya bang Fariz.
Terkadang hati Mira berbisik mendoakan agar Diah sembuh, tapi kadang ada sisi buruknya yang berharap mbak Diah itu segera di panggil oleh Tuhan, agar mbak Diah mungkin tidak terlalu sakit lagi.
"Huhuhu, Bunda. Apakah Bunda Diah, akan sembuh. Mey ga mau di tinggal." isak nya menangis.
"Mey sayang! ada bunda Mira, kita nanti mampir ke musholla. Berjamaah bareng mau?"
"Iya, Mey mau. Sebenarnya bunda sakit apa ya? Bunda Mira tahu gak?"
Mira hanya bisa memeluk, tidak bisa membayangkan jika anak ini tahu, jika sebenarnya dia bukan anak asli mbak Diah dan Bang Fariz. Tapi Mira tidaklah egois, ia tidak mungkin membuka semuanya, sejujurnya janjinya pada allah swt, ia tidak berhak atas segala rahasia mbak Diah, terlebih kadang ibu mertuanya tampak jelas tak suka pada Mey, padahal Mey anak yang cerdas, dari sudut manapun Mey anak yang baik dan penurut.
"Mira, kamu kalau sudah sampai rumah. Ajak Mey ke rumahmu dulu ya! sebab ibu mau pergi kali ini ada arisan." ujar Nara, ibu mertuanya.
Ingin sekali Mira membantah, tapi hanya bisa menurut adalah hal baik untuk saat ini, apalagi ia juga tidak ingin dirinya terbongkar, jika dirinya masih mempunyai suami di berbeda lantai dengan keadaan kritis.
Deg.
__ADS_1
Bu Ana dari sudut lain, selaku besannya tidak sangka bisa terang terangan, di depan bocah bernama Mey. Apa tidak ada simpati sedikitpun, bahkan terlihat jelas jika Bu Nara, ibunda Fariz tak menyukai Mey. Mey sendiri hanya menunduk tidak pernah sedikitpun mau, tinggal sebentar dengan bu Nara.
"Mey ga apa apa kan, sama bunda Mira dulu."
"Iya cantik, sama nenek Ana ya. Nanti kalau paman dah kabarin, bunda Diah dah siuman. Kita jenguk ya?" senyum nampak seperti nenek yang baik.
"Iyaa .. mau nek, bunda Mira. Makasih."
"Hadeuh! baguslah, Mey asal kamu Tahu ya. Bu Nara, nenek kamu bukan ga mau ketampungan kamu di saat seperti ini, sibuk. Bahkan waktu bunda Diah kamu mau nitip ke penang, Nenek ga bisa kan. Tahu sendiri ya, kamu harus maklumin nenek sibuk ini. Sebab kamu itu ..."
"Bu Nara cukup, saya harap jangan di tambah!" ujar bu Ana, saat itu tidak pernah sangka, jika besannya sepicik itu pada Mey dan Diah.
Mira sendiri menahan tangis, ia memeluk Mey kala satu mobil, supir bu Nara sendiri mengantarkan Mira dan ibunya pulang lebih dulu, barulah bu Nara pergi dengan bantuan supirnya.
Nara terlihat senyum, pada Mira dan perhatian. Berbeda pada Mey yang tampak menunduk saja, bahkan Mey sendiri merasa nenek Nara, pilih kasih dan tak pernah lembut perhatian itu. Sehingga mobil Nara pergi tak terlihat, Mey menatap bunda Mira yang mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Bunda Mira, Nenek. Kenapa nenek Nara tidak kelihatan suka ya sama Mey?"
Deg.
Hati wanita dan ibu mana, yang tega mendengar perasaan sekecil seperti Mey tersakiti batinnya, dan dibedakan. Mira sendiri sedih, andai ia di posisi mbak Mira juga tidak akan sanggup, hanya karena tidak bisa mengandung. Bukankah anak kandung dan adopsi sama saja, kenapa bisa bu Nara bersikap dingin seperti itu.
__ADS_1
Bu Ana sendiri teriris saat itu, andai putrinya tidak hamil mungkin perlakuan besannya itu sama seperti Diah saat ini dan Mey yang tidak mengerti apa apa.
"Itu perasaan Mey saja, ayo sayang! kita masuk bentar lagi adzan magrib!" dianggukan Mey.
***
Sementara di rumah sakit, Fariz sadar hanya bisa berdoa, meminta maaf atas dirinya yang tidak peka dan membawa dirinya seperti suami durhaka terhadap Diah selama ini. Bahkan Fariz kali ini melihat istrinya masih koma, dalam biusan perlu observasi setelah pengangkatan rahim.
Namun tidak bisa dipungkiri, ketika Diah siuman perlu kemo dan lanjutan agar Diah bisa bertahan hidup, dan tak boleh bekerja terlalu berat lagi.
Fariz pun mencoba ke catering, melihat perkembangan dan meminta salah satu karyawan bertugas bertanggung jawab atas usaha Diah kali ini. Bukan tanpa alasan, semua karyawan takjub karena pertama kalinya, suami asisten bosnya itu baru menunjukan muka. Gagah tampan dan perfect dari segi manapun.
Fariz sendiri sempat melihat sebuah foto, dalam laptop Diah, ia melihat kemeja buatan tangan istrinya, yang Fariz ingat mirip seperti Rey kenakan. Fariz ingin memastikan label dirinya dan momen mereka apakah ada di kemeja batik tersebut.
'Ini adalah buatan kedua kemeja Diah untuk bang Fariz yang selama ini Diah belum bisa berhenti bekerja, usaha dan memiliki keturunan, terimakasih atas perhatiaan dan kebahagiaan mas Fariz berikan pada Diah. Diah membuat ini, Diah minta maaf, jika kelak Diah tidak bisa membuatkan lagi kemeja untuk mas Fariz. Pesan Diah, sayangi Mey dan istri barumu perhatikan juga mas. Melihat kalian bahagia, Dira mungkin akan bahagia mas.'
Deg!
Sebuah pesan dari kaligrafi design butik kemeja yang ia buat, benar benar menyentuh hati Fariz. Hingga Fariz menghapus air matanya, lalu membawa laptop kerja Diah yang ada. Tak lupa meminta seluruh partner mendoakan Diah, dan terus semangat bekerja. Tak lupa salah satu karyawan Diah. Fariz tugaskan untuk handle segala hal selama tak ada.
"Diah, ternyata sesibuk ini catering kamu berkembang, dan kamu menahan rasa sakit fisik dan mentalmu sangat aman, aku memang sudah keterlaluan padamu. Maaf!" lirih Fariz seolah penyesalan datang padanya.
__ADS_1
TBC.