
Fariz saat ini berada di rumah sakit, dimana saat ini ia amat tertekan dan membatin keheranan. Mengapa bisa, hidupnya menjadi gila ketika istri pertamanya ia sia siakan, dimana usaha catering kembali pesat dan kini semakin menurun di ambang kebangkrutan. Dimana ibu mertua Diah saat ini, menyesal karena tahu yang menafkahi semua tagihan dan biaya lain adalah Diah, bukan putranya.
Sehingga Fariz berniat memperbaiki dan menjenguk Diah yang telah siuman dari kecelakaan.
“Diah, mas minta maaf. Jangan mendiami ku seperti ini,” kata Fariz penuh salah. Ia tidak suka melihat kekasih hatinya diam tanpa berbicara, sebab menjadi bumerang dalam batinnya.
“Tidak ada yang mendiami mu, Mas.” Diah membalas rengkuhannya. Tangannya sudah mengusap punggung Fariz lembut.
Mereka saling berpelukan seolah melupakan masalahnya sejenak. Fariz hanya ingin ada dirinya dengan Diah, tidak ada wanita lain.
Di sepertiga malam, dan tragedi kecelakaan menimpanya. Diah tak lagi melakukan kewajibannya dan mengadahkan doa. Lagi-lagi hatinya mendapat petunjuk mengenai niatannya agar sang suami menetap pada istri barunya saja.
Entah, jika bukan karena petunjuk-Nya, Diah tidak akan seantusias ini. Namun, ia hanya meminta agar hati suaminya dilembutkan dan dipermudah menuju proses yang lebih sakral.
Setelah menumpahkan unek-unek dalam hatinya. Diah beranjak, lalu berpindah tempat. Ada banyak PR dirinya yang harus segera diselesaikan, masuk ke dalam ruangan kerja dan membuat pola yang sempat tertunda.
Hampir setiap pagi, Diah bergelut dengan pola, bahan dan juga jarum sebelum Subuh tiba. Ia benar memanage waktunya agar pekerjaan dan mengurus rumah dapat dilakukan sendiri. Serta usaha catering nya berjalan dengan sempurna.
Tidak ingin terlewat sedikit pun merawat suaminya yang paling utama. Tujuh tahun berjalan, Fariz tak pernah berkomentar tentang pekerjaannya. Bahkan, pria itu sering membantu Diah. Dan setelah semakin hari Fariz berubah semakin menggila, ia jadi kasar dan tak pernah menafkahinya sejak pernikahan ketiga.
Sedikit pun tidak ada yang berubah dalam diri Fariz setelah Diah mengungkapkan permintaannya. Ia akan menunggu sampai hatinya benar terbuka dan pasrah. Yakin betul jika Allah memberikan kemudahan dalam hati suaminya agar segera sadar.
__ADS_1
Saking asyik menggunting pola kardus name tag, Diah hampir lupa membangunkan suaminya dan ternyata dia sudah berada di belakang yang merangkul tangannya di leher.
“Kamu kebiasaan, memangnya kamu nggak lelah?” Fariz mengusap lembut pipi istrinya, lalu mengecupnya singkat.
“Maaf, Mas, aku lupa tidak membangunkan,” kekeh Diah membalas kecupan seperti biasa.
“Diah, Mas rindu,” bisik Fariz mendayu tepat berada di telinganya. Angin yang berembus kencang membuat gorden ikut tersipu seolah mengerti akan keinginan Fariz untuk menghangatkan tubuh. Itulah ingatan manis Fariz, yang kini menatap istrinya di rumah sakit dengan ingatan kenangan manis.
Diah yang mengerti keinginan suaminya, ia langung melepaskan benda pipih di atas meja. Kemudian tangannya merangkul di leher Fariz penuh manja.
“Sejauh mana rasa rindu Mas sama aku?”
Diah kembali, menggoda suaminya dengan senyum yang terbit di bibir. Bahkan tangannya sudah menyapu di wajah, lalu turun sampai bidangnya, jujur ia menahan rasa sakit dengan ikhlas.
Saat itu, Fariz sudah mendekatkan wajahnya ke arah buah merah yang sedikit basah dan membuat matanya berbinar kehausan.
Diah yang agak ragu, tetapi melihat tatapan Fariz penuh mohon, seolah tak ada lagi alasan untuk menolaknya. Sebagai seorang istri, memang sudah menjadi kewajibannya membahagiakan suami dengan memberikan nafkah batin.
"Mas, tapi ini rumah sakit. Mas Fariz sudah pernah membuatku bahagia, jadi tetaplah bahagiakan Mila. Dan bawa Mila dalam relungan rumah tangga yang bahagia, mas Fariz harus bertanggung jawab. Diah ikhlas." lirihnya membuat Fariz yang merengkup melepas.
Tlit.
__ADS_1
"Diah .. Diah bangun Diah."
Fariz frustasi, dimana tadi dia menatap Diah berbicara siuman dengan fasih, tapi kala ini ia syok karena Diah dan monitor berada dalam garis lurus.
Diah .. teriak Fariz.
Dimana saat itu Fariz pingsan, dan kala ia sadar di ranjang rumah sakit. Ibu nya dan Mila habis menangis, dimana mereka sudah memakai pakaian serba hitam.
"Kenapa dengan kalian, aku kenapa?"
"Mas, maaf tapi. Mbak Diah, dia sudah di surga."
Deg.
Ah! tidak .. rasa penyesalan sudah usang, dan rasanya tidak wajar jika Fariz meminta Tuhan mengembalikan kehidupannya yang sudah di berkahi dulu.
'Diah, mas Fariz memang bodoh. Maafkan aku Diah ..'
End.
Terimakasih sudah membaca cerpen novel kisah Diah.
__ADS_1
Berakhir Sad.
Yuks mampir ke judul Duri Pernikahan, Baby Genius, dan Pengantar Box Jutawan.