AIR MATA DIAH

AIR MATA DIAH
KECELAKAAN DIAH


__ADS_3

Diah yang berjalan menuju rumah sakit, dimana ia mendapat kabar jika mas Fariz kecelakaan. Dimana Ikhsan saat itu ikut mengantar Diah, dimana kali ini mereka selesai acara catering.


Namun tiba saja, kecelakaan di mobil Ikhsan, membuat Diah tidak sadarkan diri. Dimana kabar Diah kecelakaan saat ini, kembali menang pada Mira. Mira sengaja membuat kabar tidak benar, agar Ikhsan tidak tahu jika dirinya bersama Fariz, dan kali ini di dalam mobil dua manusia itu sedang kritis.


Hingga beberapa jam kemudian.


Fariz kembali terpukul, dia tidak lagi bersuara. Sebelum kembali ke depan ruang Igd! Ia mengirim pesan pada sang ibu, untuk menitipkan Mira. Bahkan kala itu Mira datang menyusul membuat Fariz masih diam bagai hidup dan matipun enggan.


"Bang, boleh Mira ikut duduk di samping bang Fariz?" tanya Mira, membuat anggukan Fariz duduk lemah di depan ruangan dokter.


Sementara dokter keluar, ia terlihat kembali observasi pasiennya, yang bernama Diah. Fariz hanya bisa, menangis tanpa bersuara membuat Mira ikut sedih, ternyata suaminya amat sayang pada istri pertamanya meski ia sedang menggilai dirinya, apalagi di lantai lain Mira sudah mengurus adminitrasi Ikhsan.


'Bang! setidaknya beritahu Mira, apa yang bisa aku bantu? Aku juga sedih, ada apa dengan semuanya bang. Apa abang .., sebab ..'


"Cukup Mira! abang hanya ingin fokus Diah sembuh. Abang ingin meminta maaf, abang bersalah! kamu juga nanti harus pulang, jaga kandungan kamu agar baik baik saja! salah abang, yang meminta Diah pergi ke suatu tempat, hingga alami kecelakaan." pinta Fariz.


"Jadi mbak Diah, kangker stadium lanjut bang? itu sebabnya abang enggak berani ceraikan dia, lalu abang nyampur dan nyampur ke aku, gimana nasib aku?"


"Tolong jangan beritahu yang lain, Mira! abang sangat bersalah, kemarin abang memarahi Diah, karena ia pergi tanpa izin abang. Hanya seutai pesan tanpa menunggu abang. Jadi abang mendiamkannya hingga saat ini, maka dari itu belas kasih kecelakaan dan sakit yang dia sembunyikan, abang hanya ingin memiliki dua istri tanpa menceraikan Diah."


Deg.


Mira lagi lagi terdiam, ia hanya memegang bahu suaminya untuk bersabar.


Tak lama Mira dan Fariz kembali ke ruang Igd. Ia menatap seseorang, yakni itu adalah sepupu Diah yang ia rawat bersama keluarga ibu Diah, seperti anak sendiri bagi Diah.


"Om! kenapa bunda Diah belum selesai juga, kenapa lama sekali. Huhuhu." isak tangis Mel membuat Fariz dan Mira tak tahan, terlebih di ujung sana terlihat Rey tiba, setelah menghandle beberapa klien. Rey sendiri adalah teman kerja Diah, sekaligus Fariz mengenalnya juga.

__ADS_1


Mira yang menoleh, ikut dikejutkan dengan Mas Rey, yang tampak biasa saja, tapi lebih ke dekat pada bu Ana yang menyalaminya. Atau mungkin karena Rey sudah tahu jika dirinya suami bang Fariz.


"Gimana keadaan Diah ya bu?" tanya Rey.


"Masih di ruang pemeriksaan."


Sreeth! hidung Fariz juga sudah meler, merah dan sembab sudah terlihat.


"Fariz, kenalkan ini Rey. Partner kerja Diah, sahabat Diah juga. Teman baik Diah juga, di university yang sama." ujar bu Ana, pada Mira.


'Gue dah kenal, ingin sekali Rey nyerocos seperti itu, tapi ia tak sampai hati.' batin Rey bergerutu karena tahu siapa Mira, benar benar wanita licik.


Rey juga menyalami Mel, dan mendekat ke anak cantik kesayangan Diah. Irham tidak percaya, kenapa bisa Fariz bodoh! mau menikah lagi, padahal anak secantik Mey sudah sangat berwarna dan harmonis. Meski Rey juga baru tahu, jika Mey adalah anak dari bibi Diah, yang mati syahid. Tak lama malangnya lagi ia ditinggal ayahnya karena tidak sanggup menghidupi dan bunuh diri.


Benar benar istri solehah, andai Rey dulu tidak kalah cepat, mungkin ia sudah khitbah Diah, jika tahu Fariz akan menyakiti Diah seperti ini.


Setahu Rey, ia tahu Diah bersih dan tidak mungkin sekotor wanita malam, hingga Mira yang mendengar kesal apakah semua ini dari masa lalu Fariz yang nakal, hingga Diah yang menderita. Entah kenapa pikiran buruk Mira tiba melayang begitu saja, ke arah sana. Padahal dirinya juga meninggalkan Ikhsan di lantai berbeda.


"Mey, tangan Mey kenapa?" tanya Fariz.


"Paman! waktu itu Mey sempat hilang, maafin Mey ya. Mey yang minta bunda Diah, jangan ganggu paman Fariz. Karena Mey ga mau ganggu dengan Bunda Mira nantinya ikut cari Mey. Terus Bunda bawa Mey langsung ke rumah sakit penang, Mey di rawat disana karena kaki tangan Mey sobek penuh luka. Karena rujukan rumah sakit sana, kata bunda cepat pemulihannya. Tapi luka Mey sedikit saja keliatan bekasnya. Maafin Mey ya. Terus pas kita mau pulang, Bunda juga pingsan di rawat. Ada bibi suster! jagain Mey waktu itu." jelasnya.


Deg.


Terdiam Fariz, syok baru tahu.


"Apa, jadi Mey hilang nak?" tanya nenek Ana, yakni ibu dari Diah, ia begitu tidak percaya hal sebesar ini Diah umpatkan.

__ADS_1


"Fariz, bagaimana bisa kamu tidak tahu. Jika hal seperti ini Diah tidak kasih tahu kamu, apa ada lagi hal besar lebih dari ini. Kamu juga tidak tahu?"


Terdiam Fariz, ia benar benar menjadi suami yang gagal. Tidak adil, jauh dari kata suami sempurna. Hal itu membuat Fariz meminta maaf pada ibu mertuanya. Terlebih di sana ada sosok ibunya, ia yang sudah tahu dari awal hanya diam saja, sebagi ibu Fariz, segitu membenci Diah karena pernah keguguran.


Mira dan Mey pun pulang, dengan ibu serta ibu Nara sang ibu dari Fariz. Tidak termasuk ibu Anna, ia lebih memilih menunggu dan menuju mushola mendoakan putrinya.


Sementara Fariz duduk di temani Rey, yang berdiri menatap Fariz. Andai pukulan bisa membuatnya senang, tapi Rey tahan karena kesal akan sikap Fariz yang tidak becus jadi pria atau suami.


Tak lama dokter keluar membuat Rey syok.


"Keluarga Diah."


"Saya dok!"


"Bu Diah harus di operasi pengangkatan rahim, meski kangker itu masih ada. Setidaknya tidak menyebabkan infeksi dan menyebar lebih. Jika bersedia bapak segera tanda tangani dan prosedur administrasinya."


"Baik, saya minta lakukan yang terbaik dok! selamatkan istri saya."


Rey tidak percaya, apa karena Diah sakit kangker sehingga Fariz menikah lagi. Membuat Rey ingin sekali meninju temannya itu, dimana semua hal yang ia lihat Diah terlihat sehat, tapi benar benar bahagia tidak semestinya saat Diah bercerita, jika suaminya itu terlalu baik.


'Apa seperti ini suami yang kamu anggap baik Diah?' benak Rey.


"Kau boleh memarahiku Rey, aku tahu hatimu masih ada pada istriku. Diam diam kau menyukainya kan?" lirih Fariz.


"Haha! sudah basi, satu kata. Kata yang tepat adalah k-a-u i-t-u bodoh." bentak Rey, yang pergi, ke bagian administrasi lebih dulu, mendahului Fariz yang masih terdiam dengan kesedihan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2