Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Menghapus Jejakmu


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah selesai menyuapi dan memberikan obat untuk sang ibu, kini Maharani sudah terlihat kembali masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu memilih untuk duduk dan menempati salah satu meja yang berada di sudut ruang kamar, meja yang sering ia jadikan sebagai tempat untuk belajar sewaktu kuliah dulu.


Saat tak ada hal yang harus ia kerjakan saat ini, Maharani pun memutuskan untuk mengeluarkan laptop dari dalam tas tempat biasa ia menyimpannya jika tidak sedang digunakan. Setelah mengambilnya, wanita itu mulai meletakkannya di atas meja tersebut dan langsung menyalakannya. Hanya butuh beberapa detik, kini laptop pun sudah menyala dan Maharani terlihat mulai membuka salah satu file dokumen pada laptopnya yang menyimpan banyak sekali foto dan juga video masa lalunya ketika masih bersama dengan Rendy.


Jika dihitung-hitung mereka sudah menjalin hubungan selama enam tahun, satu tahun saat mereka masih berpacaran dan lima tahun lagi setelah mereka memutuskan untuk membina rumah tangga dan menjadikan pernikahan sebagai pembuktian dari cinta keduanya.


Sorot mata yang nanar tampak jelas tersirat saat kursor pada laptop miliknya ia tuntun ke sebuah file dokumen. Saat itulah napas Maharani sejenak tertahan beberapa saat sebelum jari telunjuknya mulai menekan tombol mouse untuk membuka file dokumen yang bertuliskan sebuah momen yang pernah mereka lewati saat masih pacaran dulu. File yang tertera dengan judul, "First Dinner With You".


"Andai kamu masih setia, Mas. Mungkin sampai saat ini kita masih terus bersama, tapi aku tidak menyalahkanmu karena kamu berhak untuk bahagia. Aku yang tidak bisa memberikan kamu keturunan, memang bukanlah wanita yang pantas untuk terus mendampingi, Mas," ucap Maharani terdengar begitu lirih saat mengatakannya. Bahkan saat ini kedua matanya mulai terlihat berkaca-kaca menahan kesedihannya.


Merasa apa yang ia lihat mulai melemahkannya, kini Maharani pun sejenak mengusap wajahnya sambil membaca istighfar, agar kondisi hatinya kembali dapat tegar dalam menerima kenyataan yang harus dijalaninya. Sebuah kenyataan yang pahit karena impiannya untuk dapat menikah sekali seumur hidup harus kandas oleh sebuah pengkhianatan.


"Aku harus menghapus semua foto-foto ini. Aku tidak mau larut dalam kesedihan karena terus mengingat masa laluku bersama Mas Rendy." Maharani mengatakan semua itu dengan penuh keyakinan.


Tanpa ada keraguan, semua foto yang berada dalam file itu pun hilang satu persatu dan tak lagi ada dalam laptopnya. Namun, bukan hanya satu file saja, tapi puluhan file lain dengan judul file yang berbeda ikut dihapus oleh Maharani tanpa sempat ia buka untuk melihatnya.


Maharani paham betul, karena dengan melihatnya terlebih dulu, itu malah akan melemahkan dan membawa ingatannya kembali mengingat segala kenangannya bersama Rendy. Kenangan yang masih sangat melekat dalam memorinya. Setelah selesai menghapus beberapa file, kini tibalah Maharani pada file terakhir yang membuatnya tergerak untuk membukanya. Bagaimana tidak, momen itu adalah saat hari pernikahan mereka. Momen yang tentunya sangat berkesan sekali untuk Maharani saat itu. Bahkan sampai detik ini, Maharani masih menasbihkan momen pernikahan dengan Rendy adalah sebagai momen yang paling membahagiakan sepanjang hidupnya.


"Pernikahan yang kamu janjikan itu ternyata tak bisa membuat kita bersama selamanya, Mas. Semua hanya indah di awal seperti yang terlihat pada foto-foto ini, tapi pada akhirnya kamu memberikan luka yang membuatku benar-benar merasa hancur. Aku tidak percaya bahwa pria yang selama ini aku nilai paling baik di dunia dan mampu menerima kekuranganku ternyata diam-diam menduakan aku dengan wanita lain, tapi ternyata Allah itu adil Mas, sekarang kamu sudah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati dan dibohongi, Mas? Namun, walaupun kamu memperlakukan aku dengan sangat kejam, aku tetap mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kamu kuat dalam melalui ujian ini dan secepatnya bertaubat atas segala kesalahan-kesalahan yang sudah kamu perbuat, baik dalam keadaan sadar ataupun tidak disengaja." Maharani bergumam di kedalaman hatinya sambil menghapus file terakhir yang tersisa pada laptopnya.


Saat proses penghapusan masih berlangsung, tiba-tiba saja ia mengalihkan pandangan matanya ke arah pintu kamar, ketika mendengar suara pintu kamar diketuk oleh seseorang.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Mba," ucap Bibi Mei dengan ramah.


Maharani pun segera bangkit dari posisi duduknya dan mulai melangkah untuk membukakan pintu, saat mengetahui yang berada di depan kamarnya adalah Bibi Mei, salah satu pelayan yang bekerja di rumah ibunya.


"Waallaikumsalam, Bi. Ada apa?" tanya Maharani dengan ramah sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


Sesaat setelah pintu terbuka, Bibi Mei pun langsung menyodorkan sebuket bunga cantik yang berukuran cukup besar ke hadapan Maharani. "Ini Mba, ada kiriman bunga untuk Mba Rani."


"Ya, makasih Bi, tapi ini dari siapa ya?" tanya Maharani kembali sembari menerima buket bunga yang diberikan oleh wanita paruh baya yang usianya sekitar 55 tahun.


Sebuah buket bunga yang membuat Maharani mengulas senyum manis dari kedua sudut bibirnya. Senyum yang sudah terlihat sejak kedua matanya mulai menatap kagum akan keindahan dari buket bunga yang kini sudah ada dalam genggaman kedua tangannya.


"Ini dari Mas Dion, Mba. Kalau begitu Bibi permisi dulu ya, Mba. Oh ya Mba, Bibi ikut bahagia kalau melihat Mba sudah bisa tersenyum seperti ini."


Bibi Mei pun berlalu pergi dari kamar Maharani. Meninggalkan wanita cantik itu yang masih hanyut dengan rasa penasarannya, karena terus memikirkan maksud sang pengirim memberikan buket bunga ini kepadanya.


"Kira-kira apa ya maksud Dion memberikan bunga ini kepadaku?" tanyanya begitu penasaran.


Sampai akhirnya, Maharani menemukan sebuah kartu ucapan yang langsung dibukanya sesaat setelah dirinya duduk di tepi ranjang.


Bunga ini memang indah


Tapi tak ada yang lebih indah dari senyummu

__ADS_1


Ini bukan sekadar pujian


Melainkan sebuah kejujuran


Aku ingin lebih mengenalmu


Walau pertemuan kita berawal dari ketidaksengajaan


Tapi aku ingin ketidaksengajaan itu terus berlanjut, hingga aku dan kamu, menjadi kita


Walau sempat tersenyum selesai membaca surat yang Dion berikan padanya, namun, senyuman itu seketika sirna, Maharani kembali menampilkan wajahnya yang sendu. Tak ada lagi senyuman ataupun kebahagiaan yang sempat terlihat beberapa detik lalu.


"Tidak Dion. Aku tidak pantas untuk kamu karena aku tidak akan bisa memberikan kamu keturunan. Kalau aku menikah denganmu, aku hanya akan menjadi istri yang mandul," lirih Maharani yang seketika menangis karena tak kuasa menahan kesedihannya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian ya.


Terima kasih banyak atas dukungannya.


Jangan lupa berikan gift untuk novel ini.

__ADS_1


Follow Instagram Author juga ya : ekapradita_87


__ADS_2