
Selamat membaca!
Setelah berhasil meredakan kesedihan Maharani, kini wanita itu pun sudah berada di dalam mobil Dion. Mobil yang dikendarai sendiri oleh pria itu untuk menuju gedung pernikahan mereka.
"Ran, apa kamu baik-baik saja?" tanya Dion sambil terus mengemudikan mobilnya.
Maharani yang tak ingin merusak hari bahagianya, seketika mengulas senyuman dari kedua sudut bibirnya, walau terkesan dipaksakan. "Aku enggak apa-apa, Dion. Aku hanya merasa bersalah atas kematian Mas Rendy, kalau saja kita tidak mengundangnya untuk datang ke pernikahan kita hari ini, mungkin saja dia tidak akan bunuh diri."
Mendengar jawaban Maharani, Dion pun dengan cepat menepis pemikiran calon istrinya itu. "Semua ini bukanlah kesalahanmu, Ran. Kamu harus ingat, semua itu adalah pilihan Rendy dan bukan kemauan kamu." Sambil terus membagi pandangannya antara melihat jalan dan juga calon istrinya, Dion berusaha mengubah pemikiran Maharani yang menurutnya salah.
Maharani pun terdiam resah. Kini wanita itu coba mencerna perkataan Dion dengan baik, walau raut kesedihan masih jelas menaungi wajahnya.
"Sebenarnya aku ingin berpikir demikian Dion, tetapi entah kenapa aku merasa bahwa aku adalah orang yang harus bertanggung jawab atas kematian, Mas Rendy," batin Maharani merasa piluh.
Melihat Maharani yang hanya terdiam tanpa kata setelah mendengar perkataan Dion, Vania pun merasa perlu untuk ikut menenangkan putrinya yang sampai saat ini masih terlihat begitu bersedih.
"Sayang, benar kata Dion. Semua itu sudah menjadi keputusan Rendy untuk mengakhiri hidupnya sendiri, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakannya agar Allah mau memaafkan semua dosa-dosanya dan memberi tempat yang layak untuk Rendy di surga sana," ucap Vania sambil mendekap tubuh putrinya yang memang berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Betul itu sayang, Mama enggak mau lihat kamu sedih begini! Lagipula ini adalah hari pernikahan kamu dan Dion, apa kamu enggak kasihan sama Dion? Masa di hari pernikahan kalian, Dion harus melihat calon istrinya menangis. Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?" ungkap Dini dengan kata-katanya yang begitu menohok hingga membuat Maharani jadi merasa bersalah karena telah merusak kebahagiaan Dion hari ini.
"Ya Allah, benar kata-kata Mama Dini. Aku tidak boleh bersedih seperti ini. Aku enggak mau merusak kebahagiaan, Dion yang sudah begitu baik padaku," batin Maharani memutuskan.
Setelah mengurai dekapan tangan Vania. Maharani pun kini mulai tersenyum lepas. Ia berusaha tampil dengan raut wajah yang kembali menunjukkan kebahagiaannya, sebelum ia mengetahui kabar tentang kematian Rendy.
"Maafkan Maharani ya Mah, maaf ya Dion. Sekarang aku enggak sedih lagi kok," ucap Maharani dengan seulas senyum manis di kedua sudut bibirnya.
Senyuman yang membuat Dion merasa lega karena akhirnya, ia dapat kembali melihat kebahagiaan di paras cantik Maharani.
"Alhamdulillah Ran, kalau kamu sudah enggak sedih lagi. Aku saja yang merasa gugup sejak pagi tadi biasa saja 'kan?" ucap Dion yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
"Enggak apa-apa kok, Ran," jawab Dion yang tak ingin bila Maharani mengetahui apa yang telah membuatnya merasa gugup.
Dini yang melihat putranya tak ingin memberitahu Maharani pun, akhirnya buka suara dan membeber alasannya. Walaupun harus di awali dengan kekehan singkat yang membuat Dion ketakutan bila sang ibu akan memberitahu calon istrinya itu.
"Dion itu gugup karena dia takut salah saat ijab qobul nanti, Ran. Sejak semalaman dia terus mengulang-ulang kalimat ijab qobul itu. Bahkan tak hanya di kamar, tetapi juga di dalam kamar mandi," ucap Dini yang membuat Maharani jadi tersenyum mendengarnya. Senyuman yang seketika membuat kesedihannya sejenak hilang dari pikirannya.
__ADS_1
"Enggak Ran, jangan dengerin Mama. Mama itu bohong, masa ijab qobul begitu doang aku bisa gugup. Ya enggak mungkin atuh Ran, aku sudah hafal kok. Nih kalau enggak percaya dengerin aku ya!" kilah Dion menepis perkataan Dini, walau sebenarnya apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu adalah sebuah kenyataan.
Tak ingin malu di depan calon istrinya, Dion pun mulai mengingat sejenak hafalannya sejak semalam hingga membuatnya jadi kurang tidur.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Fanny Maharani binti Yusuf Bachtiar dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar, tunai. Tuh, aku sudah hafal 'kan, Ran?" Tanpa kesalahan Dion mengucapkan kalimat ijab qobul itu dan membuat hati Maharani seketika bergetar.
"Ya Allah, aku bahagia sekali bisa menjadi istri dari pria seperti Dion. Baik dan saleh, benar-benar imam yang pastinya bisa menuntunku menuju surgaMu ya Allah. Sekarang aku sudah bahagia bersama pria lain, Mas dan semoga kamu juga tenang di sana. Kamu tidak perlu khawatir karena aku akan selalu mendoakanmu," batin Maharani dengan penuh kesungguhan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak atas dukungannya.
Follow Instagram Author juga : ekapradita_87
__ADS_1
Ikuti juga novel saya yang lain :
ONE NIGHT STAND WITH MY BOSS