
Baca karya baru saya ya semua. Ada beberapa pembaca menanyakan karya baru saya. Yuk mampir agar saya semakin semangat ngerjainnya :
Selamat membaca!
Setelah membiarkan Maharani meluapkan kesedihan dan segala resah dalam hatinya, kini wanita itu pun mulai mengurai pelukannya. Ia sudah dapat bernapas dengan lega setelah melihat kondisi suaminya yang saat ini tampak baik-baik saja. Sampai akhirnya, ketika lengan Dion tak sengaja disentuh oleh Maharani, pria itu meringis kesakitan.
"Kenapa Mas, bagian ini sakit? Terus mana lagi yang luka, Mas?" tanya Maharani kembali mencemaskan kondisi suaminya. Namun, raut cemas di wajahnya tampak begitu berbeda tak seperti sebelumnya.
"Iya Ran, tapi ini bukan luka yang parah kok. Tadi Dian sudah membantuku memasangkan perban ini. Kamu enggak perlu cemas lagi ya!" Dion mengusap sebelah pipi Maharani dengan begitu lembut. Pipi yang sampai saat ini terasa lembab karena masih terdapat sisa air mata yang luput diusapnya.
Mendengar jawaban Dion, entah kenapa rasa cemburu mulai mengusik pikiran Maharani. Membuat sentuhan jemari Dion pada pipinya terasa hambar. Wanita itu pun hanya menatap datar wajah suaminya tanpa senyuman.
"Jadi ternyata Dian yang sejak tadi mengobati luka-luka Mas Dion. Apa jangan-jangan Mas Dion sengaja mematikan ponselnya agar tidak diganggu sama aku ya?" batin Maharani yang kini terusik oleh rasa cemburu yang bergejolak dalam hatinya.
"Ran, kamu kenapa? Kok kamu kaya marah begitu sama aku?" tanya Dion merasa aneh akan perubahan sikap Maharani yang seketika diam tanpa suara.
"Enggak apa-apa, Mas. Ya sudah kalau kamu memang baik-baik saja. Lagipula kehadiran aku di sini juga percuma, malah mungkin hanya mengganggu waktu kamu saja berdua sama Dian." Maharani tiba-tiba memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu ruangan. Membuat Dion mulai membaca bahwa istrinya saat ini sedang dilanda rasa cemburu karena mendengar ceritanya.
__ADS_1
"Pasti Rani cemburu deh sama Dian," batin Dion yang dapat membaca apa yang sebenarnya terjadi pada Maharani.
Tanpa berpikir, Dion pun dengan cepat meraih lengan istrinya. Membuat langkah Maharani terhenti dan pandangannya kembali melihat ke arah Dion.
"Kamu jangan marah ya! Pasti kamu berpikir yang tidak-tidak deh saat ini. Maafin aku ya, aku tuh sengaja matiin hp-ku karena aku pasti tidak akan bisa berbohong saat kamu bertanya padaku. Aku hanya tidak ingin membuatmu cemas. Makanya, aku berpikir sebaiknya aku mematikan ponselku saja sampai aku pulang ke rumah. Maafin aku ya, ternyata aku salah. Kamu malah mencemaskan aku karena hal ini. Bahkan sampai datang ke sini sama Mama Vania," ucap Dion menjelaskan dengan penuh kesungguhan. Membuat hati Maharani seketika luluh. Rasa cemburu yang sempat mengusik hatinya pun perlahan mulai hilang. Ia kini coba menepikan egonya dan lebih memikirkan kondisi suaminya yang sedang terluka.
"Iya Mas, aku yang minta maaf ya. Saat seperti ini harusnya aku tuh enggak cemburu sama kamu. Ya sudah, lupakan saja yang tadi aku katakan! Sekarang aku ingin melihat lukamu dulu, Mas!"
Dion pun mulai dapat bernapas lega. Baginya, kemarahan Maharani hanya akan membuat hari-harinya menjadi semakin buruk. Terlebih tadi pagi ia sudah mengalami peristiwa yang hampir saja mengancam nyawanya.
"Ran, coba ceritakan sama aku. Kenapa kamu tahu kalau aku telah mengalami hal yang buruk?" tanya Dion sesaat setelah mengajak Maharani duduk di sebuah sofa yang memang tersedia di dalam ruangannya.
"Jadi tadi itu Nina datang ke rumah dan mengatakan padaku bahwa dia telah memerintahkan orang untuk mencelakaimu, Mas. Makanya, aku tuh cemas banget. Bahkan aku sempat pingsan. Sampai akhirnya, pas aku sadar, Nina sudah tak ada lagi di rumah," tutur Maharani menceritakan apa yang dialaminya di rumah.
"Betul Mas. Nina yang itu. Makanya, aku benar-benar enggak habis pikir. Dia bilang padaku, katanya dia salah. Kematian Mas Rendy bukan karena dia depresi karena aku menolak kembali padanya, tapi ada hal lain."
Dion pun coba berpikir sesaat. "Ada hal lain? Maksudnya apa ya? Apa Rendy dibunuh oleh seseorang?" tanya pria itu menerka-nerka.
"Aku sendiri kurang tahu, Mas. Seingat aku Mas Rendy tidak pernah memiliki musuh, tapi sekarang yang penting aku ingin melihat lukamu dulu, Mas!"
__ADS_1
Dion pun mulai membuka jas dokter yang dikenakannya. Ia kemudian menunjukkan luka sayatan pada lengannya yang sudah dibalut oleh perban. Terdapat satu luka di lengan kirinya dan juga paha sebelah kanannya.
"Apa ini sakit, Mas?" tanya Maharani sambil memegangi luka pada lengan Dion dengan perlahan. Saat ini, kedua bola matanya terlihat kembali basah oleh air mata.
"Kamu kenapa menangis lagi, Ran?" tanya Dion merasa cemas karena melihat ada bulir kesedihan yang kembali singgah di mata indah istrinya.
"Aku takut sekali, Mas. Aku takut kehilanganmu, aku takut kamu pergi ninggalin aku, Mas." Tangisan Maharani kembali pecah. Membuat Dion kembali melabuhkan tubuh istrinya yang rapuh ke dalam pelukannya.
"Sudah ya, sayang! Kamu jangan menangis terus! Sekarang yang terpenting kan, aku baik-baik saja. Lagipula kasihan Mama Vania tuh, masa nunggu sendirian terus di depan."
Perkataan Dion membuat Maharani dengan cepat mengurai pelukannya. "Maafin aku, Mas. Aku sampai lupa kalau aku ke sini sama Mama. Ya sudah kalau begitu, aku panggil Mama dulu ya untuk masuk, tapi apa enggak ganggu waktu kerja kamu, Mas?"
Dion pun tersenyum sembari membantu Maharani mengusap air mata di kedua pipinya. "Enggak kok, sayang. Lagipula jam kerjaku sudah selesai, ini waktunya aku pulang."
Mendengar perkataan Dion, Maharani pun menjadi lega. Kini wanita itu bangkit dari posisi duduknya, lalu mulai melangkah menuju pintu ruangan. Sementara Dion masih teringang akan semua cerita Maharani tentang Nina.
"Aku akan melaporkan penyerangan ini kepada pihak berwajib. Wanita itu harus mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukannya. Bukan hanya sudah menghina Rani saat itu, tapi dia juga merencanakan untuk membunuhku," batin Dion tampak geram dengan apa yang dilakukan oleh Nina.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Follow Instagram Author : ekapradita_87. Terima kasih banyak.