Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Selamat membaca!


Setibanya di depan pintu, suara panggilan yang tak asing di telinganya mulai menyadarkan pikiran Maharani bahwa itu adalah Nina.


"Nina, kenapa datang ke rumahku seperti terburu-buru begitu ya?" tanya Maharani pada dirinya sendiri.


Tanpa membuang waktu, wanita itu pun menepikan sejenak rasa penasarannya dengan membuka pintu. Dilihatnya, wajah Nina yang panik membuat Maharani semakin larut dalam rasa penasaran. Namun belum sempat ia bertanya, Nina langsung melangkah masuk sambil bertanya tentang keberadaan Dion saat ini.


"Rani, di mana Dion? Apa dia ada di rumah? Dia pasti ada di rumah kan?" tanya Nina begitu panik. Membuat Maharani semakin kebingungan.


"Kamu kenapa Nina? Datang-datang langsung nanyain Mas Dion. Kenapa sih sebenarnya? Ada apa Nina?" tanya Maharani sambil menangkup kedua sisi lengan Nina dengan begitu erat.


Nina seketika terdiam. Ia coba mengatur napasnya yang tergesa. Pikirannya saat itu sudah benar-benar takut bahwa orang suruhannya bernama Angga sudah menyelesaikan tugas yang diberikan olehnya. Sebuah tugas untuk menghabisi nyawa Dion agar Maharani merasa hancur sama seperti apa yang dirasakannya, saat mengetahui kematian Rendy.


"Maafkan aku, Rani." Nina langsung mendekap tubuh Maharani dengan erat. Tangisannya pun seketika pecah tak lagi dapat ditahan. Terdengar penuh penyesalan, Nina terus meminta maaf kepada Maharani dengan derai air mata pada kedua pipinya.


"Maksud kamu apa? Minta maaf apa?" tanya Maharani mengurai pelukan Nina yang masih belum menyampaikan maksud kedatangannya saat ini. Membuatnya ikut merasakan kepanikan yang begitu jelas di wajah Nina.


"Coba jawab dulu, di mana Dion saat ini?" tanya Nina mengulang pertanyaannya karena belum mendapatkan jawaban dari Maharani.

__ADS_1


"Mas Dion tidak di rumah. Dia sedang di klinik." Maharani menjawab sesuai apa yang ada dipikirannya. Walaupun ia sebenarnya belum mendapatkan kabar dari Dion.


"Kita harus ke klinik sekarang, Ran!" Nina menarik tangan Maharani dengan kuat. Namun, Maharani langsung menghempaskannya dengan keras. Ada amarah yang mulai tersulut dalam dirinya ketika pertanyaannya diabaikan oleh Nina.


"Tidak, aku tidak mau ikut. Memangnya kenapa aku harus ikut ke klinik? Memangnya ada apa dengan Mas Dion? Sebenarnya apa sih yang kamu khawatirkan Nina?" Raut wajah Maharani menegaskan bahwa dirinya benar-benar tidak suka atas sikap Nina saat ini.


Melihat kemarahan Maharani, membuat Nina merasa perlu menceritakan semua hal yang membuatnya merasa cemas saat ini. Namun, ia bingung harus memulainya dari mana. Terlebih apa yang akan diceritakannya, pasti bisa membuat Maharani semakin marah. Bahkan mungkin akan membencinya.


"Ya Allah, aku harus mulai dari mana ya? Tapi mau tidak mau, aku tetap harus menceritakan semua ini kepada Rani. Aku memang salah, sudah sepantasnya aku menerima segala hukuman bila sesuatu yang buruk sampai terjadi dengan Dion," batin Nina coba menimang sebelum ia mulai bercerita kepada Maharani tentang alasan mengapa dirinya bisa sepanik itu.


"Nina, coba ceritakan! Sebenarnya ada apa ini?" tanya Maharani dengan suaranya yang tegas karena melihat Nina hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya.


"Baiklah, aku jujur sama kamu. Saat ini, Dion sedang dalam bahaya karena ada seorang pria bernama Angga ingin membunuhnya. Aku minta maaf, Ran. Aku pikir kematian Mas Rendy itu karena dia depresi setelah kamu menolak permintaannya untuk kembali padanya, tapi ternyata aku salah. Aku minta maaf, Ran." Nina pun berlutut sambil memegangi kedua kaki Maharani yang terasa gemetar dalam genggamannya. Ia terus menangis, menyesali semua yang telah dilakukannya. Rasa sesal yang begitu tersirat dari isak tangisnya yang terdengar amat piluh.


"Ran! Ya Allah, Ran." Nina langsung merengkuh tubuh Maharani dengan rasa cemas yang semakin membuatnya merasa sangat bersalah. Terlebih saat ia mendapati kondisi Maharani yang saat ini sudah tak sadarkan diri.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang ini? Aku mohon selamatkan, Dion. Aku mohon ya Allah," batin Nina terus berharap dengan air mata yang terus menetes semakin deras membasahi kedua pipinya.


Kini Nina tampak sudah memangku tubuh Maharani di atas kedua pahanya. Ia coba menepuk kedua pipi Maharani secara bergantian untuk menyadarkannya. Namun, semua itu percuma karena Maharani masih juga belum sadar.

__ADS_1


"Ran, bangun, Ran. Ayo bangun! Ayo kita pergi ke klinik sekarang untuk memperingatkan Dion!" Nina terus mencoba menyadarkan Maharani.


Sampai akhirnya, dering ponselnya berbunyi. Membuat wanita itu seketika menjeda ucapannya. Sambil merogoh tas tangan yang melingkar pada pundaknya, Nina pun mengambil benda pipih itu dan mulai menatap layar pada ponselnya.


"Angga. Alhamdulillah, akhirnya dia menghubungiku. Semoga saja dia belum melakukan apa-apa kepada Dion," batinnya dengan penuh harap


Tanpa berlama-lama, Nina langsung menjawab panggilan itu dengan suara panik yang terdengar oleh Angga dari seberang sana.


"Angga, kamu di mana? Tolong batalkan apa yang aku perintahkan! Semua ini salah paham, aku yang salah. Makanya, aku minta kamu batalkan semua itu. Jangan sakiti Dion!"


"Maaf Nina, kamu telat. Aku sudah menghabisinya. Pokoknya dalam dua jam, aku minta sisa pembayaran harus kamu selesaikan. Bila tidak aku pastikan kamu akan mendekam di dalam penjara!" ancam Angga yang langsung memutus sambungan teleponnya.


"Halo, Angga! Halo, Angga. Kenapa sih dia main tutup saja teleponnya? Sekarang bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan nanti kepada Rani?" Nina begitu terpuruk dengan air mata yang terus membasahi wajahnya. Air mata penyesalan yang sia-sia karena itu tidak bisa merubah apa pun yang telah didengarnya dari Angga.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian.

__ADS_1


Follow Instagram Author : ekapradita_87


Baca juga Sekretarisku Canduku, Suamiku Calon Mertuaku, Istri Ketiga Sang CEO, One Night Stand With My Boss (Semua itu sudah tamat).


__ADS_2