Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Keraguan


__ADS_3

Selamat membaca!


Langkah Dion dan Dini pun terhenti di depan pintu rumah Maharani. Namun, pria itu tak langsung menekan bel yang ada pada sisi kiri pintu tersebut, ia sejenak menarik napas panjangnya untuk membuang rasa gugup yang saat ini tengah menguasai dirinya.


"Kamu kok malah diam? Ayo tekan bel itu Dion!" Dini terus memandangi wajah putranya yang tampak gugup saat ini.


"Iya Mah, sabar aku tuh gugup, Mah," ungkap Dion menjawab pertanyaan sang ibu.


"Udah kamu enggak perlu gugup, bismillah aja!" Akhirnya, Dini jugalah yang menekan bel itu dan seketika bunyi bel pun langsung mendapat sahutan dari sang pemilik rumah yang memang sudah menanti kedatangan mereka.


"Iya sebentar ya," pekik Vania terdengar dari dalam rumah.


Dion pun mulai mengucapkan salam kepada sang pemilik rumah yang sudah semakin dekat suaranya. "Assalamualaikum, Tante."


Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka bersamaan dengan jawaban salam dari Vania yang mulai terlihat oleh pandangan Dion maupun Dini. Kini ketiganya mulai terlihat mengulas senyuman yang menandakan bawah mereka sedang merasa bahagia atas momen yang akan terjadi saat ini.


"Ayo masuk Dion! Yuk Din, masuk!" Vania langsung merangkul pundak sahabatnya setelah punggung tangannya selesai dicium oleh Dion.


"Ya Allah, mudahkan lidah ini untuk mengutarakan niat baikku di depan Maharani dan Tante Vania," gumam Dion yang mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Mengikuti langkah Dini dan juga Vania yang sudah masuk terlebih dulu.



Setibanya di ruang tamu, Vania langsung mempersilahkan Dion dan juga Dini untuk duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


"Ayo silahkan duduk! Sebentar ya aku panggil Maharani dulu di kamarnya," ucap Vania pada sahabatnya dan juga Dion yang mulai menempati salah satu sofa yang ada di ruang tamu.


"Iya Van, kamu hati-hati ya naik tangganya."

__ADS_1


Vania pun sejenak menoleh sebelum melanjutkan langkahnya. "Tenang saja Din, aku sudah lancar kok jalannya. Kamu enggak perlu cemas ya! Apalagi hari ini adalah hari yang istimewa untuk Maharani." Vania pun tersenyum kemudian ia kembali melangkah dan mulai menaiki anak tangga untuk menuju kamar Maharani yang berada di lantai dua rumahnya.


Perkataan yang terlontar dari Vania, setidaknya mampu membuat perasaan hati Dion yang tengah dilanda rasa gugup, sedikit menjadi lega. Bagaimana tidak, baginya perkataan itu adalah sebuah isyarat bahwa Vania saat ini menyetujui hubungannya dengan Maharani.


"Alhamdulillah, Tante Vania sepertinya mendukung dan bahagia dengan lamaran ini. Sekarang tinggal Rani, apa dia mau menerima lamaranku?" batin Dion yang masih ragu dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Maharani.


Terlebih sejak Maharani mengabaikannya, Dion sama sekali tak pernah menghubunginya lagi. Ia memang sengaja melakukan itu karena ingin memberikan waktu pada Maharani untuk sendiri dan memikirkan tentang perasaannya yang telah ia ungkapkan lewat sepucuk surat.


"Dion, kamu masih gugup?" tanya Dini yang seketika membuyarkan lamunan pria itu.


Dion pun langsung menoleh untuk melihat sang ibu yang saat ini tengah memegangi pundaknya. "Iya Mah, aku takut Maharani menolak lamaranku." Jawaban Dion ternyata juga menjadi bahan pemikiran Dini. Ia sendiri juga takut, jika Maharani sampai menolak lamaran putranya karena merasa tidak sempurna sebagai seorang wanita.


"Iya kamu berdoa saja ya! Mama juga sebenarnya takut, jika kemandulan Maharani itu menjadi alasan dia menolak lamaranmu, tapi Mama yakin, nanti kamu pasti bisa meyakinkannya. Kamu harus optimis ya, Dion!" titah Dini memberikan beberapa saran kepada putranya yang saat ini mulai mencerna perkataan dari sang ibu.


Sementara itu di depan kamar Maharani, Vania tampak mulai mengetuk pintu dengan perlahan. "Ran, Ran, ayo keluar tamu kita sudah datang!"


"Mas Rendy sudah datang." Wajah masam yang tampak jelas di wajah Maharani menunjukkan bahwa wanita itu sebenarnya begitu enggan untuk bertemu dengan mantan suaminya. Terlebih saat mengingat pertemuan terakhir mereka yang berakhir dengan tak menyenangkan.


Saat pintu kamar terbuka, Vania pun mulai dapat melihat wajah Maharani yang terlihat masam. Membuat Vania seketika merasa bersalah karena telah membohongi sang putri tentang siapa tamu yang akan datang ke rumah mereka hari ini.


"Kamu kenapa sayang? Kok kayanya enggak semangat banget." Vania mulai mengusap wajah Maharani dengan lembut dan masih terus menatap wajah putrinya yang juga tengah melihatnya.


"Enggak apa-apa kok, Mah. Ya sudah ayo kita turun saja!" ucap Maharani sambil menggenggam tangan Vania yang masih mengusap lembut pipinya dengan perlahan.


Ia tak ingin menceritakan perasaannya, bahwa sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan Rendy. Ya, Maharani memang belum menceritakan tentang tawaran dari Rendy kepada sang ibu. Alasannya hanya satu, ia tak ingin membebani pikiran Vania dengan permasalahannya lagi. Baginya, perselingkuhan yang Rendy lakukan adalah kesedihan terakhir yang ia bagi kepada sang ibu. Saat ini Maharani bertekad untuk tak lagi bercerita tentang apapun yang dapat membebani pikiran Vania. Apalagi sang ibu masih dalam proses pemulihan pasca kecelakaan yang telah menimpanya beberapa Minggu yang lalu.


"Sayang, tunggu dulu! Kamu tidak mungkin turun ke bawah dengan wajah masam seperti itu! Kamu kenapa? Jujur sama Mama!" titah Vania yang ingin melihat senyuman itu kembali di wajah cantik putrinya. Senyuman yang sirna di saat Maharani tahu bahwa sang tamu yang akan datang ke rumahnya hari ini adalah Rendy beserta keluarganya.

__ADS_1


Maharani pun mulai menghela napasnya yang terasa berat, sebelum ia menjawab dengan jujur apa yang ditanyakan oleh sang ibu kepadanya. "Bagaimana aku bisa tersenyum, Mah? Jujur saja, pertemuan dengan Mas Rendy saat ini, sedikit banyak mengingatkan aku lagi dengan apa yang telah dilakukannya, hingga membuat pernikahanku harus berakhir dengan perceraian," ungkap Maharani yang akhirnya jujur kepada sang ibu.


"Ran, sini deh mau mau bicara dulu!" Vania mulai menarik tangan putrinya itu yang sudah berada beberapa langkah di hadapannya. Membuat keduanya kini saling berhadapan.


"Apa Mah? Kalau aku salah, aku minta maaf ya. Hanya saja berat untukku melupakan semua kenangan yang menyakitkan itu. Apalagi saat kemandulanku menjadi bahan hinaan Mas Rendy di depan wanita simpanannya, itu benar-benar sakit, Mah."


Vania mulai menatap nanar wajah Maharani yang kembali menghadirkan kesedihan di wajahnya. Tanpa menjawab perkataan yang terlontar dari mulut putrinya, ia pun langsung mendekap tubuh Maharani dengan sangat erat. "Sudah sayang, jangan bersedih lagi! Setelah ini Mama yakin, hidupmu akan jauh dari kesedihan dan kamu akan merasakan lagi apa itu kebahagiaan." Vania mengatakan itu dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca. Tak ada kata yang dapat menggambarkan perasaan bahagianya saat ini, selain rasa syukur yang tak henti-hentinya ia panjatkan kepada sang Pencipta, karena sebentar lagi putrinya akan dipersunting oleh seorang pria yang menurutnya sangatlah sempurna untuk menjadi seorang suami.


Sambil mengurai pelukan sang ibu, Maharani yang tengah penasaran akan perkataan Vania, kini mulai melontarkan beberapa pertanyaan dengan kedua alisnya yang saling bertaut dalam. "Maksud Mama apa? Aku tidak mungkin kembali sama Mas Rendy, Mah. Apalagi Mas Rendy sudah menalak tiga aku, jadi untuk bisa menikah lagi dengannya, aku harus menikah dengan orang lain terlebih dulu, Mah."


"Mama enggak minta kamu untuk kembali sama Rendy kok sayang, tapi Mama ingin kamu membuka hati kamu untuk seorang pria yang sudah menunggu kamu sejak tadi di ruang tamu," ungkap Vania sambil menangkup kedua sisi lengan Maharani yang seketika langsung penasaran akan perkataannya.


"Maksud Mama apa? Jadi yang datang itu bukan Mas Rendy, tapi kata Mama tadi.." Telunjuk Vania seketika langsung menghentikan ucapan Maharani, kini secara tiba-tiba wanita paruh baya itu langsung menarik tangan putrinya dan menuntunnya untuk menuruni anak tangga yang berada beberapa langkah di depan mereka.


Maharani pun mengikuti langkah Vania tanpa mengatakan apapun, ia menahan diri dari rasa penasaran yang semakin menggerogoti ketenangannya.


"Sebenarnya siapa tamu yang datang itu? Apa jangan-jangan....?" tanya Maharani dalam hatinya yang kian resah memikirkannya. Ia takut dugaannya salah, maka itu Maharani menahan lengkung pada bibirnya untuk tersenyum, setidaknya sampai ia melihat sendiri sosok pria yang saat ini sudah berada di ruang tamu rumahnya.


🌺🌺🌺


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif dan gift kalian ya.


Terima kasih banyak atas dukungannya.


Follow Instagram Author juga : ekapradita_87

__ADS_1


__ADS_2