
Selamat membaca!
Setelah melewati momen haru di balkon kamar, kini pasangan yang hatinya tengah berbunga-bunga itu tampak sudah berada di dalam mobil. Ya, Dion memang sudah menyiapkan makan malam spesial sebagai perayaan satu bulan pernikahan mereka. Malam yang tentunya begitu istimewa bagi Maharani.
"Mas, sebenarnya tidak perlu berlebihan seperti ini. Aku sudah bahagia kok asalkan kamu selalu ada di sampingku."
Mendengar perkataan Maharani, membuat senyuman Dion seketika mengembang. "Enggak apa-apa, sayang. Aku hanya ingin hari ini jadi hari paling istimewa yang tidak akan bisa kamu lupakan," jawab pria itu membuat rona merah di kedua pipi Maharani mulai terlihat.
"Ya ampun, Mas. Kamu ini romantis banget, aku jadi penasaran deh, sebenarnya dinner yang bagaimana sih yang sudah kamu siapkan malam ini?" ungkap Maharani diakhiri sebuah pertanyaan.
"Rahasia dong! Pokoknya nanti kamu akan tahu sendiri ya." Dion kembali fokus menatap jalan di depannya. Membiarkan Maharani larut dalam rasa penasaran yang kian memenuhi pikirannya. Namun, ia tak ingin memaksa suaminya dan lebih memilih mengetahui hal itu secara langsung nantinya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit, mobil yang Dion kendarai pun mulai memasuki area parkiran sebuah restoran bintang 5 yang tampak cukup ramai dengan pelanggan. Situasi yang dapat terlihat dari area parkiran yang tampak dipenuhi oleh banyak kendaraan roda empat.
Begitu selesai memarkirkan mobilnya, Dion pun bergegas keluar lebih dulu. Membukakan pintu mobil di sisi Maharani berada.
"Ayo, sayang!" ucap Dion dengan senyum teduh yang membuat Maharani benar-benar merasa diperlakukan layaknya seorang ratu di malam yang terasa istimewa untuknya.
"Terima kasih ya, Mas, tapi kamu enggak perlu repot begini. Aku kan bisa sendiri, Mas." Dengan malu-malu Maharani mengatakan hal itu sambil bergerak keluar dari mobil.
__ADS_1
"Enggak repot kok, sayang. Hal seperti ini kan memang biasa dilakukan oleh laki-laki."
Maharani pun tersenyum manis. Baginya, Dion memang sosok pria yang selalu dapat membuatnya tersipu malu dengan sikap dan perhatiannya yang romantis. Kini setelah berada di luar mobil, kedua matanya langsung disuguhi pemandangan yang membuatnya merasa kagum. Sebuah restoran yang memiliki desain begitu elegan terpampang nyata di kedua matanya yang berbinar.
"Mas, kamu sudah pernah datang ke sini sebelumnya ya?" tanya Maharani yang telah merangkul tangan sang suami dan keduanya mulai melangkah meninggalkan area parkiran.
"Ini pertama kalinya, sayang. Mas kemarin searching di internet restoran untuk mencari tempat dinner yang romantis bersama istri." Jawaban Dion pun seketika membuat Maharani terkekeh pelan.
"Serius, Mas! Jadi kamu benar-benar mencari dengan kata kunci itu?" tanyanya kembali tak percaya bila suaminya sampai melakukan hal tersebut.
"Serius dong, sayang. Lagian juga ngapain aku bohong sama istri sendiri. Buktinya sekarang kita sudah berada di sini kan untuk merayakan satu bulan pernikahan kita?" Dengan mengulas senyuman, Dion mengusap pucuk kepala istrinya yang mengenakan hijab berwarna peach, senada dengan pakaian yang dikenakannya.
Hati Maharani semakin berbunga-bunga setelah mendengar apa yang Dion katakan. Kini wanita itu pun langsung memeluk lengan kekar Dion dengan erat, lalu ia mulai merebahkan kepalanya sejenak di atas pundak pria itu. Kebahagiaan yang dirasakan oleh Maharani kian membuncah. Terlebih apa yang terjadi malam ini sangat berbeda dengan yang pernah dialaminya sewaktu masih menjadi istri dari Rendy. Kala itu, Rendy hanya mengajaknya dinner pada satu tahun pernikahan mereka. Bukan satu bulan seperti yang dilakukan oleh Dion saat ini. Itulah alasan, mengapa Maharani terlihat begitu bahagia hingga senyuman manis pun tak pernah sirna dari kedua sudut bibirnya.
"Malah aku maunya setiap hari mengajakmu pergi berkencan seperti ini biar kamu bahagia terus, tapi apa boleh buat, pekerjaanku di klinik tak memungkinkan aku melakukan semua itu. Namun, walau begitu kamu tidak perlu cemas ya, sayang. Aku janji akan berusaha memberikan banyak waktu untuk kamu. Kamu tahu sayang?" ungkap Dion yang diakhiri sebuah pertanyaan.
"Apa itu Mas?" tanya Maharani dengan kening yang mengerut.
"Bersamamu, aku seperti burung yang memiliki dua sayap. Aku bisa menari di langit, merayakan kebahagiaan saat berdua denganmu," ungkap Dion merasa bersyukur memiliki Maharani. Bagaimana tidak, sebelumnya Dion benar-benar jenuh menjalani hidupnya. Terlebih setelah kematian adiknya, pria itu semakin tenggelam dalam rasa penyesalan yang tak berkesudahan. Sampai akhirnya, kehadiran Maharani mampu merubah hidupnya menjadi penuh warna.
__ADS_1
Saat ini, hati wanita mana yang tak luluh mendengar kata-kata indah itu. Membuat Maharani tampak begitu semringah setelah mendengar jawaban dari suaminya.
"Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah mau menjadi sayap untukku. Sayap yang membuatku bisa kembali terbang dengan tinggi untuk meraih kebahagiaanku. Kebahagiaan yang sempat hilang saat aku mengetahui perselingkuhan Mas Rendy di klinik tempatmu bekerja. Semoga selamanya kamu tidak akan pernah berubah dan merasa bosan denganku!" pinta wanita itu dengan wajah yang penuh harap. Ada harapan yang begitu dalam terbesit dalam pikirannya. Sebuah harapan untuk dapat menua bersama Dion seumur hidupnya.
Mendengar pertanyaan Maharani, Dion pun segera merangkul tubuh istrinya dan mendekapnya untuk memberikan kecupan singkat di sebelah pipi Maharani. "Aku tidak akan pernah berubah sampai kapanpun, sayang. Percaya sama aku ya!"
Di tengah-tengah keromantisan keduanya yang terasa begitu hangat, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri. Membuyarkan keromantisan yang sempat tercipta dan berakhir penuh rasa malu karena mereka telah mengumbar kemesraan di tempat umum.
"Permisi, Pak, Bu. Maaf mengganggu waktunya. Apakah sudah melakukan reservasi sebelumnya atau mau pilih meja yang masih tersedia?" tanya pelayan wanita itu dengan ramah.
Setelah menepikan rasa tidak enak dalam dirinya, Dion pun mulai menjawab ramah pertanyaan sang pelayan. "Sudah, Mbak. Reservasinya atas nama Dion."
"Oh, dengan Pak Dion ya. Kalau begitu mari saya antar menuju roof top." Pelayan itu pun mempersilahkan keduanya untuk melangkah menuju lantai tiga. Tempat yang sudah Dion pilih saat reservasi siang tadi.
Kini mereka pun mulai melangkah menuju sebuah lift yang ada di sudut lobi. Namun, langkah keduanya seketika terhenti saat suara seorang wanita terdengar memanggil nama Dion. Membuat Maharani langsung menilik sosok wanita cantik itu.
"Siapa ya wanita itu?" tanya Maharani di dalam hatinya yang tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari sosok wanita yang semakin mendekatinya.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih banyak atas dukungannya.Follow Instagram Author : ekapradita_87