Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Bisik Penyesalan


__ADS_3

-4 episode menjelang Tamat-


Selamat membaca!


Setelah tiba di kantor polisi, Erma pun segera menemui Anjani setelah mendapatkan izin dari petugas polisi. Kedua wanita itu pun saling bertemu di ruang kunjungan. Bagi Anjani, pertemuan kali ini benar-benar mengundang pertanyaannya. Bagaimana tidak, tiba-tiba wanita yang pernah dikenalnya dulu kembali hadir di hadapannya.


"Kamu, kenapa bisa sampai sini dan menemuiku? Ada apa?" tanya Anjani dengan raut wajah yang tak lagi secantik biasanya. Wanita itu tampak lusuh setelah hanya menangis meratapi nasibnya yang harus mendekam di balik jeruji besi.


"Syukur kalau Mba tidak lupa sama saya. Maksud kedatangan saya ke sini hanya untuk memberitahu kalau anak Mba sekarang usianya sudah 8 tahun. Apa Mba enggak kangen sama Anin? Saya saja menyesel karena selama ini sudah memperlakukan Anin dengan sangat tidak manusiawi. Sejak Anin kecil saya selalu membawa Anin untuk mengemis. Bahkan saat Anin berusia 7 tahun, saya memaksanya untuk mengemis sendirian. Sekarang Anin hilang, entah ke mana dan saya sudah coba mencarinya. Namun, sampai saat ini saya masih belum bisa menemukannya," ungkap Erma dengan rasa bersalah dalam hatinya yang benar-benar mampu melemahkannya. Kini wanita paruh baya itu pun menangis tersedu. Membuat Anjani mulai tersentuh. Jauh di lubuk hatinya, ada bisik yang coba menyadarkan wanita itu bahwa apa yang dilakukannya dulu adalah sebuah kesalahan besar.

__ADS_1


"Untuk apa aku menyesal telah membuang anak itu? Ayah dari anak itu saja sudah bahagia dengan wanita lain dan tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku. Lagipula kehadiran anak itu hanya menghambat karir kedokteranku dulu," batin Anjani yang tengah bergelut dengan suara hatinya.


"Mba, apa tanyakan sama hati, Mba! Apa Mba tidak pernah merasa bersalah sedikit pun karena telah membuang bayi yang tidak berdosa? Padahal itu bukan kesalahannya, tapi kesalahan Mba sendiri." Perkataan Erma seolah menampar keras Anjani yang masih termangu dengan pemikirannya. Namun, ia tetap menutupi semua itu di depan Erma. Anjani masih bergeming, seolah acuh, walau sebenarnya ia mulai tertegun akan kesalahannya.


"Kenapa aku merasa, apa yang dikatakan oleh wanita ini ada benarnya ya? Kenapa?" batin Anjani termenung, memikirkan semua yang dikatakan oleh Erma.


Sampai akhirnya, waktu kunjungan pun berakhir. Seorang petugas polisi terlihat datang menghampiri dan memberitahu Erma akan hal itu.


"Saya pulang dulu ya, Mba!" Erma akhirnya pergi dari hadapan Anjani yang hanya menatap nanar foto anaknya yang tergeletak di atas meja. Foto itu masih ia biarkan dalam kondisi terbalik. Bahkan Anjani sempat berpikir, sebaiknya ia sama sekali tidak perlu tahu wajah anaknya. Wajah yang dulu sangat dibencinya. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk membayar Erma dan menitipkan anak tersebut padanya. Anjani tidak ingin bila harus terlibat dalam masalah hukum jika sampai membunuh bayi tersebut.

__ADS_1


"Ayo Mba! Kita kembali ke sel tahanan." Seorang petugas polisi wanita datang menghampiri Anjani yang terlihat masih bimbang, antara mengambil foto tersebut atau tidak.


"Sebaiknya aku tidak usah melihat foto itu. Biarkan saja anak itu hilang. Lagipula apa yang bisa aku lakukan jika bertemu dengannya. Dia pasti akan sangat malu karena harus memiliki ibu sepertiku. Bukan hanya telah membuangnya, tapi juga seorang narapidana," batin Anjani yang mulai melangkah pergi tanpa mengambil foto tersebut. Foto itu dibiarkan tetap di atas meja tanpa sedikit pun disentuh olehnya.


...🌺🌺🌺...


Sementara itu di rumah sakit, tepatnya di ruang dokter, kini Dion tengah mendengarkan semua penjelasan dokter tentang hasil pemeriksaan putri angkatnya. Hanya ada raut sendu yang jelas terlihat di wajahnya. Kedua matanya tampak mulai memerah. Namun, ia berusaha kuat di hadapan dokter itu, tanpa menunjukkan sisi lemahnya.


"Ya Allah, ujian ini sungguh benar-benar berat untukku. Kenapa kebahagiaan dan kesedihan dalam kehidupan ini seperti dua sisi mata uang yang sangat tipis batasannya? Kenapa di saat Rani sudah hamil, hal ini malah terjadi kepada Anin? Ya Allah, aku mohon kuatkan Rani dalam menerima kenyataan ini," batin Dion yang sesekali terlihat mengusap wajahnya sambil menghela napas dengan kasar.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


__ADS_2