
Selamat membaca!
Satu jam sebelum Maharani tak sadarkan diri, Anjani saat itu pulang dengan wajahnya yang sendu. Ada air mata yang terlihat jelas membasahi kedua pipinya. Air mata yang seketika membuat Dini cemas dan langsung menghampirinya sesaat wanita itu masuk ke dalam rumah.
"Sayang, kamu kenapa menangis seperti ini? Apa ada yang melukaimu?" tanya Dini sambil menatap dengan seksama wajah Anjani yang penuh air mata.
Sambil menarik napasnya yang terisak, Anjani coba mengatakan kepada Dini apa yang telah terjadi padanya. "Tadi wanita di depan rumah itu menampar aku, Mah. Aku sendiri enggak tahu masalahnya apa? Pokoknya, pas aku baru saja turun dari mobil, dia menghampiriku sambil menghina dan menyebut aku wanita murahan." Tangisan Anjani semakin terdengar keras. Membuat Dini semakin merasa iba akan kondisi Anjani saat ini. Namun, ia masih belum sadar bahwa wanita yang dimaksud oleh Anjani adalah Maharani, menantunya.
"Sudah, sudah, kamu jangan menangis seperti ini. Coba jelaskan sama Mama, sebenarnya wanita mana yang sudah tiba-tiba menampar kamu?" tanya Dini coba memperjelas cerita Anjani.
"Ya ampun, masa si tua ini masih belum sadar siapa wanita yang aku maksud? Apa sebaiknya aku sebutkan saja ya nama Maharani?" batin Anjani yang tengah kebingungan untuk menjawab pertanyaan Dini.
"Sayang, kamu kenapa diam? Jadi siapa yang sudah menampar kamu? Apa kamu tidak tahu namanya?" tanya Dini yang masih penasaran akan siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Anjani.
__ADS_1
"Tadi sih ada yang manggil nama dia, Maharani," jawab Anjani coba mengelabui Dini. Namun, harapan wanita itu harus berakhir sia-sia karena Dini yang sudah kenal betul siapa Maharani langsung membelanya.
"Sayang, kalaupun wanita yang kamu maksud itu Rani. Dia tidak akan mungkin menampar kamu tanpa sebab seperti itu, kecuali kamu melakukan kesalahan yang besar," timpal Dini menanggapi perkataan Anjani. Membuat wanita itu semakin memutar otaknya agar Dini bisa percaya dan lalu membenci Maharani.
"Mama masa enggak percaya sama aku. Ya, mungkin saja wanita mandul itu menamparku karena dia melihat aku datang ke rumah ini dan takut aku bisa merebut Dion darinya."
Baru selesai Anjani mengatakan hal tersebut, rasa iba yang dirasakan Dini berubah menjadi amarah. Amarah yang seketika meledak hingga membuat wanita paruh baya itu langsung menampar Anjani dengan keras.
"Mama." Anjani terhenyak sambil merasakan pipinya terasa panas saat ini. Pipi yang berbeda dari sebelumnya yang pernah ditampar oleh Maharani.
"Kenapa sih, Mah, Mama sampai belain wanita mandul itu? Padahal jelas-jelas dia tidak akan bisa memberikan Mama seorang keturunan, tapi Mama masih sayang sama dia!" ucap Anjani di awali dengan sebuah pertanyaan yang kembali menyulut amarah Dini karena mendengar Anjani merendahkan menantunya dengan kelemahan yang dimiliki oleh Maharani.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, Anjani. Pergi sebelum Mama lebih berlaku kasar terhadap kamu! Mama salah selama ini menilai kamu, kamu sudah banyak berubah sekarang. Kamu bukan lagi Anjani yang Mama kenal dulu!" Sambil menunjuk ke arah pintu rumahnya, Dini benar-benar penuh amarah saat mengusir wanita itu.
__ADS_1
"Baiklah, Mah. Aku akan pergi, tapi Mama harus tahu. Aku itu lebih pantas mendampingi Dion daripada wanita mandul itu," ucap Anjani dengan penuh penekanan.
Wanita itu pun melangkah menuju kamar yang sejak tadi pagi di tempatinya. Setelah mengambil koper yang di bawanya, Anjani pun melangkah pergi dengan membawa amarah yang bergejolak dalam dirinya.
"Aku tidak akan menyerah untuk bisa kembali bersama Dion, apa pun caranya akan aku lakukan agar bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Sama seperti waktu aku menyingkirkan Faisal untuk mendapatkan seluruh hartanya," batin Anjani sambil melirik ke arah Dini yang hanya menatap kepergiannya tanpa sepatah kata pun.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan selalu komentar positif kalian ya. Terima kasih banyak. Follow Instagram Author : ekapradita_87
Baca juga Wanita Penghangat Ranjang.
__ADS_1
Akan lanjut setelah novel ini tamat.