
Selamat membaca!
Siang hari di sekolah Anindya, Maharani tampak masih menunggu kepulangan putri angkatnya itu. Ia menunggu dengan penuh kesabaran sambil memainkan ponselnya di ruang tunggu yang memang sudah disiapkan oleh pihak sekolah untuk para wali murid dalam menunggu putra-putrinya hingga pulang nanti. Tak hanya Maharani, beberapa wanita seusianya pun juga tampak berada di sana.
"Anin sebentar lagi pulang. Nanti kayanya aku mau ngajak Anin ke supermarket yang ada di dekat sini deh. Aku mau beliin buah-buahan untuk Dion, kebetulan stok di kulkas tadi pagi kan sudah habis," ucap Maharani yang seketika tersentak kaget, saat suara wanita menimpali perkataannya.
"Dion itu sangat suka mangga. Kamu tahu itu kan, Rani?" tanya seorang wanita yang langsung duduk di samping Maharani tanpa permisi.
"Kamu!? Kenapa ada di sini? Bagaimana kamu tahu sekolah putriku?" tanya Maharani yang masih menampilkan keterkejutan di raut wajahnya.
"Aku tahu dari mertuamu. Apa kamu tidak tahu kalau aku sementara waktu itu tinggal di sana? Apa tadi pagi Dion tidak cerita sama kamu?" tanya Anjani mulai merasa menang dengan situasi yang tengah terjadi saat ini. Wanita itu sudah dapat menduga sebelumnya jika Dion merahasiakan kedatangannya dari Maharani. Ia tahu betul watak pria itu hingga membuatnya merasa yakin atas dugaannya saat ini.
Maharani yang mendengar perkataan Anjani seketika semakin terkejut dibuatnya. Ia tak habis pikir kenapa suaminya sampai harus membohonginya hingga membuat rasa cemburu kini mulai mengusik ketenangannya.
"Tidak! Kamu jangan bergurau ya! Mas Dion itu tidak mungkin membohongiku," kecam Maharani menampik keras semua perkataan Anjani.
Perkataan yang membuat Anjani terkekeh singkat dengan senyum menyeringai terulas dari kedua sudut bibir merahnya. "Terserah kamu saja! Kamu tahu kenapa Dion sampai membohongimu? Mungkin karena dia sudah lelah mempunyai istri yang mandul seperti kamu. Apa kamu pikir dengan kehadiran gadis kecil itu bisa menggantikan mimpi dari seorang laki-laki untuk memiliki anak dari rahim istrinya sendiri? Sadar Rani, apa pun yang Dion katakan kalau dia menerima kemandulanmu itu tidak akan pernah menghapus impiannya untuk dapat melihat dan menggendong anak kandungnya sendiri."
__ADS_1
Maharani pun seketika bangkit dari posisi duduknya dengan amarah yang mulai memuncak. Rasa sakit yang seketika membuat hatinya tergores. Bagaimana tidak, perkataan itu begitu menusuk hingga meninggalkan luka yang teramat dalam di hatinya. "Jaga mulutmu, Anjani! Aku sudah terlalu sabar menanggapi semua perkataanmu sejak tadi!"
"Uh, takut. Memangnya apa yang ingin kamu lakukan wanita mandul?" tanya Anjani yang juga mulai berdiri dan berhadapan dengan Maharani seolah menantangnya.
Baru selesai Anjani mengatakan hal tersebut, sebuah tamparan keras melayang tepat di pipi kiri wanita itu. Membuat pipi putih Anjani langsung memerah dengan meninggalkan tanda dari jemari Maharani yang membekas di sana. "Itu tamparan yang pantas untukmu," kecam Maharani dengan sorot matanya yang menajam.
Anjani tak membalas tamparan keras itu. Ia hanya tersenyum licik seolah memiliki rencana untuk dapat menghancurkan Maharani. "Dasar wanita mandul! Kenapa kamu harus marah kalau memang apa yang aku katakan itu benar adanya?"
"Jaga ucapanmu! Lagipula memang kau tahu dari mana tentang semua itu?" tanya Maharani yang mulai merasa bingung karena Anjani bisa mengetahui tentang kemandulannya.
Lagi dan lagi hinaan itu benar-benar mengiris hati Maharani. Membuat bulir bening di kedua pelupuk matanya mulai menggenang dan bersiap menetes tanpa bisa ditahannya lagi.
"Ya Allah kuatkan aku. Kuatkan aku dalam mendengar semua hinaan ini," batin Maharani coba menguatkan hatinya yang semakin rapuh atas semua hinaan Anjani. Hinaan yang tak dapat dipungkiri bahwa itu memang sebuah kenyataan dan bukan suatu kebohongan.
Pertengkaran yang terjadi antara keduanya, membuat mereka jadi bahan tontonan dari para wali lainnya yang sedang menunggu putra-putri mereka. Membuat seorang wanita yang mengenal Maharani langsung berinisiatif untuk memanggil pihak keamanan karena merasa kehadiran Anjani yang memang tidak memiliki kepentingan di sekolah itu benar-benar mengganggu ketenangan mereka.
"Sekarang dengarkan perkataanku, Rani! Aku kasih waktu kamu dua bulan untuk hamil. Jika sampai dua bulan itu kamu belum juga hamil, kamu harus pergi dari kehidupan Dion untuk selamanya. Kamu jangan egois! Apa kamu tega membiarkan orang yang harusnya bisa bahagia juga merasakan kesedihan seperti kamu? Ingat, Rani! Yang tidak sempurna itu kamu dan bukan Dion. Jadi kamu harus sadar untuk pergi selamanya!"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Maharani, Anjani melangkah pergi begitu saja. Bahkan wanita itu sampai menabrak sebelah pundak Maharani hingga membuat tubuh rapuhnya beringsut mundur dan hampir terjatuh.
"Ya Allah, apa benar yang dikatakan Anjani. Apa aku ini terlalu egois?" lirih Maharani sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi yang semula ia tempati.
...🌺🌺🌺...
Beberapa menit kemudian, Anjani yang telah puas menghina Maharani kini sudah berada di dalam mobil miliknya. Ia masih tampak menyeringai penuh kemenangan. Setidaknya rencana awal untuk mulai merusak rumah tangga Dion berhasil sesuai dengan harapannya.
"Dua bulan itu waktu yang pas untuk aku bisa kembali mengambil hati Dion. Sambil menunggu wanita mandul itu pergi, aku akan terus mendekati Dion dan memberikan perhatianku padanya. Nanti di saat wanita itu pergi, Dion pasti sudah merasa nyaman bersamaku," ucap Anjani merasa yakin bahwa apa yang direncanakan akan menuai keberhasilan.
...🌺🌺🌺...
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian. Terima kasih atas dukungannya. Follow Instagram Author : ekapradita_87.
Ingat Author sudah menyiapkan ending yang benar-benar akan mengejutkan siapapun, jadi jangan berhenti untuk terus mengikuti kisah Maharani ya.
__ADS_1