Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Bahagia dan Rahasia


__ADS_3

Komentar buruk hanya akan membuat semangat saya hilang untuk rajin update. Tolong jaga mood saya! Terima kasih.


Selamat membaca!


Keesokan harinya, pagi yang cerah tampak mulai menyinari semesta. Setelah semalam menghabiskan waktu yang panjang hingga dini hari bersama suaminya, kini Maharani sudah terlihat keluar dari kamar untuk menuju dapur. Ya, wanita itu mulai menampilkan seulas senyum di wajahnya dengan rambut yang masih terlihat lembab. Seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi, Maharani akan menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat bekerja. Setibanya di dapur, kedatangan Maharani langsung disambut hangat oleh Bibi Mei yang sudah lebih dulu berada di sana.


"Cie, cie, Mba Rani kayanya lagi senang nih ya?" goda Bibi Mei membuat rona merah mulai bersemu di kedua pipi Maharani.


"Ih Bibi. Memangnya kapan aku sedih sih?" jawab Maharani diakhiri sebuah pertanyaan dengan bibir yang mengerucut.


"Kemarin itu Mba seharian kusut banget kaya layangan putus. Kalau melihat ekspresi Mba kemarin itu, Bibi seperti melihat Kinan yang sakit hati karena dikhianati sama Aris, suaminya."


"Kinan itu siapa sih, Bi? Terus Aris, tetangga kita yang di samping rumah Bu Joko ya?" tanya Maharani coba memperjelas apa yang dikatakan oleh Bibi Mei yang saat ini tampak menahan gelak tawanya.


"Mba ini ketinggalan jaman banget sih, masa enggak tahu film yang lagi booming itu. Itu lho yang ada Lydia sebagai pelakor-nya. Pokoknya Bibi itu kalau udah nonton film itu gemes banget, berasa mau mukul tuh si Lydia sama Aris." geram Bibi Mei yang membuat Maharani semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh asisten rumah tangganya itu.


Di saat Maharani sedang memerhatikan semua yang dibicarakan oleh Bibi Mei, tiba-tiba ada sesuatu yang seketika merayap naik memenuhi kerongkongan wanita itu. Membuat Maharani merasa ingin memuntahkan sesuatu.


"Bibi, kok aku mual ya?" tanya Maharani sambil memerhatikan sekelilingnya. Ia pun melihat asistennya itu tengah memotong ayam.


"Mba Rani, kenapa? Mba, sakit ya?" Bibi Mei pun mulai merasa cemas akan kondisi Maharani yang mulai memucat.


"Enggak tahu nih, Bi. Aku ke toilet dulu ya!" Maharani pun melangkah dengan tergesa-gesa. Membuat Bibi Mei seketika teringat akan pengalaman 30 tahun silam saat dirinya melahirkan seorang anak.


"Apa jangan-jangan Mba Rani hamil?" tanya Bibi Mei menyimpulkan dari apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Kini wanita paruh baya itu pun mulai tersenyum. Ia turut bahagia bila apa yang dipikirkannya adalah sebuah kenyataan. Namun saat ini, ia sendiri tidak tahu akan kebenarannya.


"Sebaiknya aku beritahu Ibu Vania saja deh." Bibi Mei mulai melangkah pergi. Meninggalkan aktivitas masaknya setelah mematikan api pada kompor gas yang tengah menyala.


Sementara itu di dalam toilet, Maharani terus memuntahkan sesuatu dari kerongkongannya. Rasa sakit yang seakan menarik otot-otot pada bagian perutnya. Belum lagi rasa panas yang saat ini begitu terasa di tenggorokannya, semakin menyiksa Maharani.


"Ya Allah, kenapa aku ini? Apa aku masuk angin karena semalam terlambat tidur ya?" tanya Maharani coba menebak sesuatu yang terjadi padanya.


Setelah beberapa menit, tubuh Maharani terasa melemah. Kepalanya pun mulai berdenyut hingga membuat kedua kakinya seakan sulit menopang raganya. "Ya Allah, aku seperti mau pingsan."


Tubuh yang limbung itu seketika ambruk. Namun beruntung, sesaat sebelum Maharani benar-benar terjatuh Dion datang di saat tepat dan langsung meraih tubuh istrinya itu.


"Ran, kamu kenapa?" tanya Dion sambil mendekap erat tubuh Maharani.


Jawaban Maharani membuat Dion mulai mengembangkan senyuman dari kedua sudut bibirnya. Hal yang membuat wanita itu merasa aneh karena bukannya khawatir, justru Dion malah menunjukkan ekspresi wajah yang sebaliknya.


"Kamu kenapa kok malah senang mendengar aku sakit, Mas? Aku ini sakit lho, Mas," protes Maharani yang masih berada dalam kuasa Dion. Saat ini, ia masih belum sanggup untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri.


"Semoga saja aku benar ya, sayang. Pokoknya hari ini kamu ikut aku ke Klinik ya! Kita langsung periksa kondisi kamu di sana. Soalnya aku tidak dapat melakukannya di rumah karena tidak ada peralatan yang aku butuhkan di sini."


"Apa sih Mas maksud kamu? Kenapa aku harus ikut kamu ke Klinik? Aku itu paling cuma masuk angin saja, Mas. Jadi tidak perlu kamu cemaskan ya!" sanggah Maharani yang coba bersikap baik-baik saja dengan coba berdiri di depan suaminya. Akan tetapi, semua itu tak sesuai dengan yang ada dipikirannya. Tubuh wanita itu kembali limbung dan Dion lagi-lagi mampu menangkapnya.


"Sudah sayang, jangan kamu paksakan ya! Ayo aku gendong kamu dulu ke ruang tamu!" Dengan sekuat tenaganya, Dion merengkuh tubuh Maharani dan mengangkatnya. Kini pria itu mulai melangkah dengan perlahan menuju ruang tamu.


Sementara itu, Maharani hanya menatap wajah teduh suaminya dengan berjuta tanda tanya akan maksud perkataan yang tadi sempat Dion ucapkan.

__ADS_1


"Sebenarnya kenapa aku harus ikut ke Klinik? Apa sih yang Mas Dion pikirkan?" gumam Maharani merasa aneh.


"Alhamdulillah ya, sayang. Sepertinya kamu hamil, tapi aku masih belum yakin 100%. Semoga saja semuanya ini benar ya, Ran," ucap Dion penuh harap dengan kedua mata yang sudah tampak berkaca-kaca.


Lamunan Maharani seketika buyar, saat mendengar semua perkataan yang diucapkan oleh Dion. Sesuatu yang benar-benar mampu menggetarkan hatinya hingga bulir kesedihan langsung menganak di pelupuk matanya dan bersiap menetes.


"Ya Allah, Mas. Apa benar kalau aku hamil?" jawab Maharani masih tak percaya sepenuhnya atas apa yang didengarnya.


"Itulah, sebaiknya kita berdoa. Semoga apa yang kita impikan berdua bisa segera terwujud."


Maharani kini mulai berdoa dengan penuh kesungguhan. Doa yang selalu ia panjatkan setiap dirinya bersimpuh. Doa agar wanita itu bisa hamil dan merasakan kebahagiaan memiliki seorang anak dari rahimnya sendiri.


Sementara itu, langkah Bibi Mei tiba-tiba terhenti di depan kamar Anindya, saat ia melihat gadis kecil itu sedang terbatuk berulang kali.


"Anin, kamu kenapa?" tanya Bibi Mei merasa cemas.


Kedatangan Bibi Mei yang tiba-tiba membuat Anindya dengan cepat menyembunyikan tisu yang sudah ia gunakan di balik tubuhnya. Tisu yang terdapat bercak darah, membuat tisu putih yang masih berada dalam genggamannya tangan gadis kecil itu tampak dipenuhi warna merah.


"Bibi Mei, tidak perlu tahu semua ini. Aku tidak mau membuat semuanya menjadi cemas karena memikirkanku," batin Anindya memutuskan untuk menyembunyikan penyakit yang sudah lama dideritanya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar yang membangun. Jangan komentar yang menjatuhkan semangat saya untuk update. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2