Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Lebih Mudah Tersenyum


__ADS_3

Selamat membaca!


Sambil terus melangkah menuju ruang makan. Dion pun merasa kedatangannya hari ini jadi merepotkan sang calon mertuanya.


"Ya ampun, Tante Vania, kenapa harus repot-repot sih? Padahal aku 'kan bisa delivery bubur ayam Mang Udin buat sarapan pagi kita," ucap Dion dengan gagasannya yang membuat Maharani terkekeh lucu karena mendengar perkataan Dion yang tidak canggung, ketika berbicara dengan sang ibu dan untuk pertama kalinya. Kini Maharani kembali dapat tertawa lepas setelah berminggu-minggu melewati hari-harinya yang berat karena perpisahannya dengan Rendy yang meninggalkan luka yang teramat dalam.


"Ternyata Dion itu orangnya memang humble banget. Mama juga kelihatan dekat saat bicara sama Dion yang suka bercanda, tidak seperti Mas Rendy yang jarang berbicara dengan Mama," batin Maharani sembari membagi pandangannya untuk menatap wajah Dion dan Vania secara bergantian.


"Enggak repot sama sekali kok, Dion. Masa lagi ada acara lamaran gini malah disuguhi bubur ayam doang? Apalagi ini acara bahagia Maharani. Lagipula Tante juga ingin menyambut kedatangan calon menantu dan besan Tante dengan masakan spesial yang Tante buat sendiri," jawab Vania yang diakhiri dengan suara tawa bahagia.


Canda dan tawa yang mengiringi langkah mereka pun terhenti, ketika mereka tiba di ruang makan. Pandangan Dion dan Dini pun dibuat lapar, saat beberapa menu hidangan makanan sudah tersaji di atas meja. Menu spesial hasil masakan Vania yang aromanya sungguh membuat siapapun pasti akan tergugah untuk melahapnya.


Baru saja Maharani duduk di kursinya, tiba-tiba saja ia kembali bangkit dan mengambil piring kosong di atas meja makan. Saat ini, wanita itu sudah menempati sebuah kursi yang berada di sebelah sang ibu dan tepat berhadapan dengan Dion.

__ADS_1


"Dion, sini biar aku ambilkan ya makanan untuk kamu! Pokoknya kamu harus cobain semua lauk masakan Mama. Aku jamin, kamu bakalan minta nambah lagi!" ucap Maharani yang secara refleks ingin melayani Dion, sang calon suaminya.


Tawaran dikatakan Maharani membuat pandangan Dion, Vania, dan Dini seketika tertuju ke arahnya, hal yang membuat wanita itu jadi merasa malu dan salah tingkah di hadapan mereka.


"Ini aku ambilkan punya Dion dulu ya, setelah itu baru aku ambilkan untuk Mama dan Mama Dini," jelas Maharani dengan kedua pipi yang sudah merona merah dan segera melanjutkan niatnya dengan mengambil sesendok nasi serta lauk pauk untuk diletakkan di atas piring milik Rendy.


"Enggak perlu, sayang. Mama bisa ambil sendiri kok, sudah kamu fokus ambilkan untuk Dion saja. Mama melihat kamu itu bukan kepengen diambilkan juga, tapi Mama sangat kagum sama sikap kamu yang baik dan perhatian ini. Pokoknya Dion itu sangat beruntung karena akan memiliki istri seperti kamu dan Mama sangat bersyukur karena Dion jatuh cinta kepada wanita tepat, yaitu kamu," Perkataan Dini yang begitu memuji Maharani membuat hati wanita itu jadi begitu tersanjung. Namun, di balik senyuman yang terulas singkat dari kedua sudut bibir Maharani, tersirat sebuah kesedihan jauh di lubuk hatinya. Kesedihan atas kekurangannya yang tak bisa memberikan Dion seorang keturunan setelah dokter memvonis Maharani mandul.


"Pujian itu terlalu berlebihan, Mah. Aku bukanlah wanita sempurna untuk Dion, tapi dengan segenap hatiku, aku akan berusaha keras untuk menjadi istri yang baik, walau tak bisa sempurna," batin Maharani dengan binar kebahagiaan yang sedikit memudar karena ia kembali teringat dengan kekurangannya.


"Ini Dion, makanan kamu!" Maharani mulai memberikan menyodorkan sebuah piring yang sudah terisi penuh oleh nasi dan juga lauk pauk beserta sayur yang ia sediakan di wadah yang berbeda.


"Terima kasih ya, Ran. Aku pasti akan menghabiskan semua makan ini, kalau perlu nanti aku akan minta tambah lagi sama kamu. Boleh 'kan?" Dion pun menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk seulas senyuman hangat.

__ADS_1


Maharani pun mengangguk dengan jantung yang berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Perasaan yang berbeda dengan pertemuan pertamanya saat di klinik. Waktu itu keduanya tampak sangat canggung, terutama Maharani yang masih tak percaya bahwa Dion adalah pria yang baik saat itu.


Setelah selesai menyediakan makanan untuk Dion, Maharani pun mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri karena memang Dini dan juga Vania telah menyediakan sendiri makanan untuk mereka, tanpa menunggu Maharani. Kini mereka mulai menyantap sarapan pagi bersama-sama dengan dibalut kebahagiaan juga kehangatan yang menyelimuti suasana kala itu.


Sambil terus menyantap hasil masakan Vania yang terasa lezat lidahnya, Dion menyempatkan dirinya untuk sesekali melihat Maharani hingga membuat pandangan keduanya saling bertaut singkat.


"Ya Allah, aku masih tidak percaya jika secepat ini Kau menggantikan kesedihan dalam hidupku dengan kebahagiaan. Aku akui, Dion benar-benar bisa membuat luka di hatiku seketika terobati. Aku tak lagi bersedih karenanya. Bahkan untuk tersenyum, adalah sesuatu yang mudah aku lakukan saat ini," batin Maharani yang langsung mengalihkan pandangan matanya karena ia tak kuasa menahan getaran hatinya, saat pandangannya saling bertaut dengan sorot mata Dion yang terlihat begitu teduh.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif & gift kalian ya.

__ADS_1


Terima kasih banyak atas dukungannya.


Follow Instagram Author juga : ekapradita_87


__ADS_2