Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Rencana Nina


__ADS_3

Selamat membaca!


Mobil Dion sudah terlihat keluar dengan perlahan dari teras rumah. Membuat seorang pria yang sejak tadi terus mengintai mulai bersiap melajukan mobilnya.


"Itu pasti suami dari wanita itu. Sebenarnya aku merasa aneh dengan Nina, kenapa dia memintaku untuk menghabisi pria itu? Padahal dia dendam kepada Maharani, kenapa tidak dia memintaku untuk membunuh wanita itu saja?" Sejenak pria itu berpikir sebelum melajukan mobilnya, mengikuti mobil yang dikendarai oleh Dion.


Kedua mobil kini terus melaju secara beriringan keluar dari komplek perumahan. Saat ini, kondisi lalu lintas tampak memadat di ruas jalan arteri permata hijau. Tak ada celah bagi keduanya untuk menambah kecepatan mobil mereka. Kedua mobil pun melaju dengan perlahan mengikuti ritme kendaraan lainnya yang mulai melambat seiring kemacetan di jalan tersebut.


🌺🌺🌺


Sementara itu di rumahnya, tepatnya di dalam kamar, Nina tampak sedang tersenyum puas. Ia merasa sangat senang karena tidak lama lagi dendamnya akan segera terbalaskan. Dendam agar dirinya dapat melihat Maharani terpuruk. Merasakan kehilangan yang mendalam seperti apa yang dirasakannya saat kehilangan Rendy yang mati bunuh diri.


"Sebentar lagi kau akan merasakan, bagaimana rasa sakitnya ditinggal oleh seseorang yang paling berharga dalam hidupmu. Terlebih pernikahanmu yang baru itu, pasti akan membuatmu sangat hancur." Nina menyeringai licik. Membayangkan kesedihan Maharani saat kehilangan Dion, suaminya.

__ADS_1


Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari depan kamarnya. Membuyarkan lamunan Nina yang seketika mulai bangkit dari posisi nyaman di atas ranjang. Kini wanita itu perlahan melangkah mendekati pintu sambil menjawab panggilan dari Sintia, salah satu pembantu yang bekerja di rumahnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Nina merasa terganggu dengan kedatangan Sintia.


Sintia yang tak kedatangannya membuat sang majikan marah dengan cepat langsung melontarkan permintaan maafnya. "Maaf ya Mba, kalau saya mengganggu. Saya cuma mau ngasih tahu ke Mba kalau di ruang tamu ada dua polisi yang ingin bertemu dengan Mba." Sintia yang tak terbiasa menghadapi polisi kelihatan gugup menyampaikan maksud kedatanganya di hadapan Nina yang seketika terhenyak mendengar perkataannya.


"Kenapa ada polisi ke rumahku ya? Memangnya ada apa ya?" umpat Nina merasa bingung. Padahal orang suruhannya juga belum melakukan apa pun. Lagipula tidak mungkin juga orang suruhannya itu sampai membocorkan identitasnya kepada pihak berwajib kalaupun pria itu tertangkap.


"Mba, gimana? Mba mau menemui kedua polisi itu, kan?" tanya Sintia kembali, saat tak mendapati jawaban dari majikannya pada kesempatan pertamanya bertanya.


"Maaf Mba, saya sudah sempat tanyakan, tapi kata salah satu polisi itu semua ini menyangkut kematian dari Pak Rendy katanya. Selebihnya mereka tidak bilang apa-apa lagi, Mba."


Nina semakin dibuat kebingungan. Sampai akhirnya karena rasa penasarannya belum terjawab, wanita itu pun meminta Sintia untuk menyampaikan bahwa ia akan segera menemui mereka. "Ya sudah, saya ganti baju dulu. Lagipula tidak mungkin juga kan saya mengenakan piyama begini saat menemui kedua polisi itu. Kamu katakan saja kepada polisi itu kalau saya akan segera datang untuk menemui mereka."

__ADS_1


Sintia akhirnya tersenyum ramah. Ia merasa tenang dengan jawaban dari Nina. "Baiklah Mba, saya sampaikan kepada mereka ya untuk menunggu, Mba."


Nina dengan rasa malasnya kembali masuk ke dalam kamar tanpa menjawab perkataan terakhir dari Sintia. Ia memang dikenal ketus oleh para pekerja di rumahnya. Membuatnya sering bergonta-ganti pembantu karena banyak yang memilih untuk mengundurkan diri saking merasa tertekan atas sikap Nina yang sering seenaknya dalam memerintah mereka.


"Bingung deh, apa sih maksudnya? Kematian Mas Rendy, memangnya kematiannya kenapa?" gerutu Nina mendengus kasar sambil terus melangkah mendekati almari yang berada di sisi kiri ranjangnya.


🌺🌺🌺


Bersambung ✍️


Berikan komentar positif kalian.


Terima kasih ya.

__ADS_1


Follow Instagram Author : ekapradita_87


Baca juga Sahabatku Canduku ya.


__ADS_2