Aku Bukan Istri Mandul

Aku Bukan Istri Mandul
Sebuah Rencana


__ADS_3

Selamat membaca!


Maharani kini sudah jauh lebih tenang setelah mendengar semua nasihat dari Vania. Ia tak lagi ragu mempertahankan pernikahannya dengan Dion, walau sempat berpikir untuk menyerah karena kekurangannya.


"Sekarang Mama tinggal dulu ya, kamu selesaikan baik-baik sama Dion. Ingat! Jangan pernah mengalah hanya karena perkataan seorang wanita yang ingin merebut kebahagiaanmu," ucap Vania sambil mengusap sebelah pipi putrinya.


"Insya Allah, Rani akan selalu ingat semua perkataan, Mama. Rani juga makasih karena Mama sudah menyadarkan dan menguatkan aku yang sempat menyerah ini," jawab Maharani dengan senyum getir yang terulas dari kedua sudut bibirnya.


Tanpa menunda lagi, Vania pun memutar tubuhnya dan melangkah pergi keluar dari kamar. "Dion, ke mana ya?" tanya Vania yang tak mendapati sosok menantunya di depan kamar.


Vania akhirnya melanjutkan langkah kakinya. Ia menduga bahwa Dion tengah berada di lantai bawah dan menunggunya di ruang keluarga. Namun baru beberapa langkah, sosok Dion pun muncul dalam pandangan matanya. "Dion, kamu habis dari mana?" tanya Vania yang hendak menyampaikan kabar baik bahwa dirinya telah berhasil membuat Maharani tenang.


"Tadinya aku mau pulang ke rumah dan menemui Anjani, Mah. Aku ingin menegurnya karena dia telah berani menemui Rani dan menyakitinya. Namun, saat aku melewati kamar Anin tiba-tiba aku mendengarnya sedang menangis, mendoakan Rani. Makanya, aku enggak jadi pulang ke rumah dan menenangkan Anin."


"Terus bagaimana keadaan Anin sekarang?" tanya Vania yang seketika merasa cemas.


"Mama enggak perlu cemas lagi karena dia sekarang sudah tidur. Tadi aku sempat membacakan dongeng untuknya sampai dia ketiduran," jawab Dion yang langsung membias rasa cemas yang sempat terlihat di wajah Vania.


"Ya sudah, biar Anin, Mama saja yang jaga. Sekarang kamu cepat temui Rani, dia pasti sudah menunggumu!"


"Makasih ya, Mah. Mama sudah percaya sama aku dan mau bantuin aku menjelaskan semua kepada Rani sampai dia mengerti."


"Dion, kamu tidak usah berterima kasih. Kamu itu kan juga anak Mama sekarang jadi sebisa mungkin Mama pasti akan selalu bantu kamu. Lagipula, Mama tahu betul kamu seperti apa dan tidak mungkin kamu sampai mengkhianati Rani. Sudah cepat masuk sana!"


"Makasih sekali lagi ya, Mah." Dion meraih tangan kanan Vania, lalu mencium punggung tangannya. Ia merasa bersyukur karena memiliki seorang mertua yang begitu perhatian kepadanya. Berbeda dengan kebanyakan mertua yang lebih mempercayai anaknya sendiri ketimbang mau mendengar alasan dari menantunya.


Vania pun hanya tersenyum menatap kepergian Dion yang kini sudah kembali ceria dari sebelumnya. Tak lagi ada resah yang terlihat di wajahnya, pria itu lebih banyak tersenyum menghadapi ujian yang tengah mendera pernikahannya saat ini.

__ADS_1


Tanpa keraguan, Dion membuka pintu kamar. Ia mulai masuk sambil melihat Maharani yang masih berada di atas ranjang. Hanya saja, wajahnya tidak terlihat oleh kedua matanya karena wanita itu sedang memunggunginya.


"Apa Rani tidur?" tanya Dion terdengar samar.


Pria itu pun melangkah lebih dekat ke arah ranjang. Sampai akhirnya, Dion pun memutuskan untuk berbaring tepat di belakang tubuh Maharani.


"Ran, apa kamu tidur?" tanya Dion memulai percakapan tanpa mengetahui apa istrinya masih terjaga atau sudah terlelap.


Walaupun tak ada jawaban dari Maharani, Dion kembali melanjutkan ucapannya. Ia meyakini bahwa saat ini istrinya masih terjaga hingga pasti dapat mendengar semua yang dikatakannya.


"Maaf ya, Ran. Seandainya sewaktu pulang dari restoran aku langsung cerita sama kamu tentang Anjani, pasti kamu tidak akan salah paham seperti ini, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Ran. Alasan kenapa aku bisa begitu membenci Anjani adalah karena dia telah membuat Mama terkena serangan jantung. Saat itu, Mama hampir meninggal, Ran. Makanya, sampai saat ini aku masih belum menceritakan kenapa Anjani meninggalkanku dan memilih menikah dengan pengusaha itu. Di mata Mama, Anjani masih sempurna tanpa ada cacat sedikit pun karena Mama tahu kalau dia menerima perjodohan itu karena paksaan orang tuanya. Mama tidak tahu hal yang sebenarnya, kalau ternyata Anjani lebih memilih harta ketimbang aku."


Dion menghela napasnya panjang dengan kedua mata yang menutup sejenak. Saat pria itu baru saja membuka matanya, ia terkejut saat mendapatinya ranjang tidurnya terasa bergetar. Menandakan bahwa ada seseorang yang sedang berbalik ke arahnya. Tiba-tiba bibirnya dikecup. Dion semakin terhenyak, saat mendapati sosok istrinya yang melakukan hal itu. "Rani."


"Maafkan aku ya, Mas. Maaf karena aku sempat mengatakan hal sebenarnya tidak ingin aku katakan. Aku ingin selamanya menjadi istrimu. Aku ingin memperjuangkan apa yang sepantasnya harus aku perjuangkan dan aku tidak akan membiarkan siapapun merusak pernikahan kita." Kata-kata itu terucap sesaat Maharani mengurai kecupan singkatnya. Kini keduanya saling menatap dalam dengan wajah yang begitu dekat.


Hati Maharani begitu bergetar mendengarnya. Bulir kesedihan yang sempat mengering itu kini kembali terlihat menganak di pelupuk matanya. Maharani begitu terharu hingga membuatnya ingin sekali memeluk Anindya. "Mas, aku ingin menemui Anin." Wanita itu pun bangkit setelah Dion tersenyum disertai sebuah anggukan kepala sebagai tanda bahwa ia mengizinkannya.


"Ayo, aku temani ya!"


Keduanya pun mulai beranjak keluar dari kamar. Namun, Maharani terlihat lebih dulu karena langkahnya begitu panjang, seolah wanita itu sudah tak sabar ingin menemui Anindya. Seorang gadis kecil yang hadir dan menambah warna dalam kehidupannya.


...🌺🌺🌺...


Di sebuah mobil, tampak Anjani sedang menghubungi seorang pria yang sejak tadi begitu sulit dihubunginya.


"Kenapa susah sekali menghubungimu?" tanya Anjani sesaat setelah panggilan teleponnya terhubung.

__ADS_1


"Ada apa lagi?" tanya pria itu yang memang sudah cukup lama mengenal Anjani.


"Aku ingin kau melakukan sesuatu."


Setelah Anjani selesai mengatakannya keinginannya, pria itu pun menjawab dengan lantang. Ia tahu bahwa saat ini Anjani benar-benar sedang membutuhkan bantuan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya.


"Aku minta bayaran double dari yang sebelumnya. Bagaimana? Kalau kau setuju, aku akan melakukannya, tapi kalau tidak, sebaiknya kau cari orang lain saja. Walaupun mungkin kau tidak akan bisa mencari orang lain yang bisa melakukan semua itu tanpa meninggalkan jejak."


"Baiklah, aku akan bayar kau dua kali lipat," jawab Anjani yang tak punya pilihan lain.


"Pembayaran di muka. Kau masih menyimpan nomor rekeningku, kan?" tanya pria itu dari seberang sana.


"Dasar kau ini mata duitan! Kerja aja belum, tapi sudah minta uangnya dulu," jawab Anjani yang terlihat begitu geram.


Pria itu pun terkekeh singkat saat mendengar keluhan dari Anjani. Namun, hal itu tak merubah apa yang telah dikatakannya. "Sudahlah tidak perlu banyak basa-basi. Memangnya siapa yang tidak mata duitan di jaman sekarang ini? Dulu kau juga seperti itu kan saat menyuruhku menghabisi Faisal!"


"Tutup mulutmu! Kalau ada yang mendengar kau mengatakan itu, bagaimana?" kecam Anjani dengan penuh amarah.


"Kau tenang saja! Aku sekarang sedang berada di apartemenku dan hanya seorang diri! Oke kalau begitu, aku tunggu transferannya agar aku bisa melakukannya besok."


"Baiklah, aku transfer sekarang!" Anjani pun memutuskan sambungan teleponnya dan mulai mengutak-atik benda pipih miliknya. Ia langsung melakukan pembayaran dengan menggunakan mobil banking yang terdapat pada ponselnya.


"Besok kau pasti akan menuruti semua keinginanku, Dion! Tunggu saja!" ucap Anjani dengan seringai menakutkan yang melengkung dari sudut bibirnya.


...🌺🌺🌺...


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2