
Selama grandpa berada di mansion, Matth tidak akan bisa menemui Ashlee sebebas biasanya. Karena sang kakek selalu memantau gerak gerik dari Matth, ataukah sebenarnya kakek sudah mengetahui hubungan Matth bersama Ashlee...
”Mansion Kediaman Matthyas Grayson”
Di suatu malam, datanglah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah ibu dan satu anak perempuan mereka. Kedatangan mereka ialah undangan langsung dari grandpa Gray.
”Tamu? Mengapa grandpa tidak pernah memberitahukan padaku mengenai tamu mendadak ini?” tanya Matth heran, sembari bersiap-siap untuk turun menemui tamu yang dimaksud.
“Pria sepertimu yang hanya gila bekerja, tidak akan memiliki banyak waktu luang untuk memilih pasangan.” Ucap Mr. Gray.
”Maksud grandpa?” Matth sedikit heran dengan ucapan sang kakek.
“Sudahlah, segera turun sekarang.” Titah Mr. Gray.
Mereka pun turun menuju ruang makan utama, dan ternyata sudah ada banyak hidangan makanan yang bahkan Matth tidak mengetahuinya.
• • •
”Selamat malam, Tuan Gray,” sapa seorang pria yang merupakan kepala keluarga, tamu dari undangan malam ini.
Melihat hal itu, sepertinya Matth cukup mengerti maksud dari kedatangan tamu tersebut dan apa yang sedang sang kakeknya rencanakan.
”Silakan duduk, Tuan Joy.” Ucap Mr. Gray, kemudian mereka pun duduk bersama di ruang makan utama, sembari berbincang-bincang.
”Jika tidak salah, perusahaan yang tuan muda Matthyas kelola sedang naik daun, bukan?” ucap Mr. Joy memuji.
”Tidak paman, semua berjalan biasa saja.” Balas Matth merendah untuk meroket.
”Ah, tuan muda Matthyas ini sangat suka merendah. Sudah jelas-jelas di media masa, bahkan berita televisi utama, perusahaan dari keturunan tunggal keluarga Grayson selalu menjadi yang utama.” Timpal Mrs. Joy, istri dari Mr. Joy.
Sementara itu, seorang wanita muda yang merupakan putri mereka hanya tersenyum menyimak perbincangan hangat itu.
”Sejak tadi, Nona muda ini hanya diam saja.” Ucap Mr. Gray, lalu membuat wanita itu pun tersenyum malu.
”Ini adalah putri kami satu-satunya, dan dia cukup pemalu.” Ucap Mrs. Joy.
”Perkenalkan dirimu, sehingga keluarga ini dapat mengenalmu.” Titah sang ayah, Mr. Joy.
”Perkenalkan, namaku Eveline, sedang berkenalan dengan kakek dan Tuan muda Matthyas.” Ucapnya, lalu kembali duduk.
”Kami dengar-dengar, Tuan muda Matth juga seorang anak tunggal, bukan?” tanya Mr. Joy.
__ADS_1
”Yah, paman.” Balas Matth singkat.
”Wah, sangat kebetulan. Apa jadinya, jika dua putra-putri berbakat kita ini menjadi satu. Tentu akan sangat luar biasa, bukan?” ucap Mr. Joy.
”What the hell! Sangat percaya diri sekali... Hmm.. terlihat masih sangat polos juga gadis kecil ini..” Batin Matth, sembari menatap tajam ke arah Eveline.
Eveline sampai dibuat tersipu malu, karena tatapan lekat dari Matth padanya.
”Matthyas, Nona Eveline, grandpa harap kalian dapat menjadi lebih akrab mulai detik ini.” Ucap Mr. Gray penuh harap.
”Baik, kakek.” Balas Eveline sopan.
•••
Usai makan malam itu, Matth pun berbicara serius pada sang kakek, dan Matth cukup kesal dengan tindakan dari sang kakeknya kali ini.
”Bagaimana mungkin aku bersama seseorang yang jelas-jelas tidak pernah kucintai..” Ucap Matth, ketika sedang berdiri di balkon bersama sang kakek.
”Kau pikir ayah dan ibumu dulu saling cinta? Mereka juga sama seperti kalian saat ini.”
”What? Apakah sungguh seperti itu?”
Mr. Gray pun tertawa melihat respon terkejut dari Matth. ”Tidak semua pernikahan itu berawal dari saling cinta, bahkan pernikahan yang atas dasar saling menginginkan saja bisa kandas dan berakhir saling menyakiti.”
”Kau sama persis seperti ayahmu dulu. Awalnya sangat menolak, namun ujung-ujungnya, dia jatuh cinta dan menggila pada ibumu.” Ucap Mr. Gray sembari tertawa.
”Mengapa aku tidak mengetahui cerita ini?”
”Karena kau sendiri tidak pernah mau tahu, bukan? Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, dan juga cinta yang membuatmu begitu bodoh.”
”Aku memiliki pilihanku sendiri, dan jika grandpa tetap memaksa.. maka, jangan salahkan aku, jika gadis kecil itu akan rusak di tanganku.”
”Matthyas, kau sedang mengancam grandpa? Sungguh kekanak-kanakan sekali sifatmu kali ini.”
”Aku tidak seperti ayah, yang hanya dapat menurut, aku punya pilihanku sendiri.”
”Ingat baik, apapun ceritanya, kau tidak akan bisa bersama keturunan Berrel itu. Bahkan keturunan yang tidak jelas asal-usulnya, ingin kau nikahi!”
”Siapa bilang aku akan menikahinya?” ucap Matth yang terlihat kian berontak pada sang kakek.
”Lantas, apa tujuan hidupmu, jika kau tidak ingin berkeluarga?”
__ADS_1
”Tujuan hidupku, menikmati hidup. Pernikahan hanya untuk berkeluarga, memiliki keturunan.. aku bisa memberikan grandpa keturunan tanpa harus melalui pernikahan. Lantas, apa lagi yang akan grandpa tuntut dariku?”
”Matthyas, kau sangat keras kepala! Tidak ada bantahan, kau hanya akan bersama Nona muda dari keluarga Joy! Sudah jelas asal-usulnya dan latar belakang keluarga yang bagus.” Tegas Mr. Gray.
”Masa bodoh dengan keluarga Joy.”
”Silakan bertinda sesukamu. Ingat, grandpa hanya memiliki satu cucu, yaitu dirimu. Kaulah harapan grandpa satu-satunya, setidaknya diakhir hayatku, aku dapat melihat cucu satu-satuku hidup bahagia dan memiliki keturunan yang hebat.”
”Kau sudah dewasa, jadilah pria sejati. Setidaknya, sebelum grandpa meninggalkan dunia fana ini, buatlah grandpa bahagia dengan kehidupan barumu.” Ucap Mr. Gray, kemudian melangkah pergi dari hadapan Matth.
Mendengar hal itu, Matth pun mulai bergelut dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Yah, Matth kini hanya memiliki sang kakek berharganya. Harapan sederhana sang kakek, agar Matth memiliki kekuatan yang utuh dan bahagia. Hanya saja Matth masih belum memikirkan hal itu, Matth hanya fokus dengan dirinya sendiri.
***
Sejak perbincangan malam itu bersama sang kakek, Matth benar-benar tidak lagi menemui Ashlee, terlebih karena sang kakek terus mengawasinya.
Di Suatu malam, Matth pun mulai mengajak Eveline untuk pergi bersama, sekadar menambah keakraban diantara mereka berdua.
”Malam ini, cahaya bulan terlihat indah, bukan?” ucap Eveline kagum dengan keindahan malam itu.
”Yah, apalagi jika kau tersenyum, maka itu akan jauh lebih indah lagi.” Ucap Matth yang mulai merayu Eveline.
Eveline sangat malu dibuatnya, hingga tersenyum dalam diamnya.
Eveline Joy
”Apakah ada yang salah dengan ucapan barusan?” tanya Matth dengan wajah tersenyum.
”Tentu tidak, Tuan muda Matth.”
”Mengapa kau harus memanggilku Tuan? Apakah jarak kita hanya sebatas tuan dan Nona?”
”Ah, tidak seperti itu.. aku hanya takut jika ucapanku salah.” Ucap Eveline, si wanita polos nan sopan itu.
Melihat sikap polos dari Eveline, tentu mengingatkan Matth pada sosok Ashlee di masa lalu. Ashlee juga merupakan sosok gadis polos dan baik. Akan tetapi, kini Matthlah yang membuat Ashlee seakan menjadi wanita jal4ng baginya.
Apakah Matth akan serius untuk menikahi Eveline?
__ADS_1
Lantas, bagaimana dengan Ashlee?
***