
Usai pertemuan tak terduga antara Ashlee, Matth dan Eveline malam itu. Sungguh perasaan Ashlee dibuat tak karuan, dan bahkan Ashlee bingung akan posisinya saat ini.
Namun...
Di sebuah Penthouse mewah milik Matth yang saat ini sedang Ashlee tempati.
”Kau tahu, hanya tubuh ini yang dapat menaklukkan aku..” batin Matth, saat sedang menggauli Ashlee. Sementara itu, Ashlee hanya terdiam, bahkan raut wajahnya terlihat begitu sendu meski sudah berusaha untuk menutupi semua.
Usai percintaan panas itu, Matth duduk di pinggir tempat tidur sembari menenggak segelas minuman beralkohol yang berada di atas meja samping tempat tidur.
Ashlee masih berada di dalam selimut tebal yang kini menyelimuti seluruh tubuh polosnya.
”Kakekku datang dari luar negeri, dan saat ini sedang berada di mansion. Perihal Eveline, itu adalah wanita pilihan kakekku. Meski aku sudah berusaha menolak, namun semua sia-sia saja.” Ucap Matth, yang seakan berusaha untuk menjelaskan, walau terdengar tidak terlalu ambil pusing perihal perjodohan mereka.
”Apa kau mendengarkan aku?” tanya Matth, lalu berbalik sejenak.
”Yah, aku mendengarkannya dengan saksama.” Jawab Ashlee, lalu membalikan tubuhnya lurus ke depan.
”Kau cemburu?” tanya Matth.
Sontak pertanyaan itu membuat Ashlee sedikit kesal. Entah apa tujuan dari pertanyaan tersebut, pikirnya.
”Pertanyaan macam apa ini? Bukankah aku pun harus menyadari posisiku saat ini. Bahkan hubungan kita pun sekadar atasan dan bawahan.” Balas Ashlee ketus.
Matth menyeringai mendengar ucapan dari Ashlee. ”Bagus jika memang seperti itu. Karena kemungkinan, aku akan tetap bersama Eveline bahkan berkeluarga dengannya.” Ucap Matth.
Mendengar hal itu, Ashlee hanya diam menahan amarahnya. Bagaimana bisa Matth dengan santai berbicara seperti itu, seolah diantar dia dan Ashlee hanya ssbatas teman biasa. Lantas hubungan yang selama terjalani, seolah tidak pernah terjadi dan tak ada anggapan dari Matth.
”Lantas, setelah kau menikahi Nona Eveline, akankah kau akan melepaskan aku?” tanya Ashlee sembari mencengkeram seprei dari balik selimut tebal yang sedang ia kenakan.
”Mengapa kau bertanya seolah aku akan mencampakkanmu? Tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Karena, sampai kapan pun.. kau akan selalu menjadi milikku.” Tegas Matth, sembari menatap Ashlee tajam dan menyentuh dagu Ashlee dengan tambahan sebuah kecupan hangat dari Matth di bibir Ashlee.
”Apakah kau sudah gila, Tuan Matthyas! Kau menikahi seorang wanita namun kau juga tidak bersedia melepaskan aku?” Ashlee sampai terbangun dari tempatnya sedang berbaring.
Matth tertawa melihat ekspresi marah dari Ashlee.
”Bukankah kakekku yang menginginkan pernikahan itu terjadi dan dengan segala ancaman maupun alasannya. Alhasil, aku tidak dapat menolaknya, demi kesehatan kakekku. Namun, untuk memilih hanya bersama Eveline, aku tentu tidak bisa melakukannya.” Ucap Matth.
”Betapa egoisnya pria bajing4n ini! Bagaimana mungkin, dia berlaku seperti itu..” batin Ashlee.
”Jangan harap, aku akan membiarkan pria lain mendekatimu, atau akan ku musnahkan mereka.” Peringat Matth.
”Mengapa? Mengapa aku tidak bisa sepertimu, walau sekadar bersenang-senang saja? Bukankah kau juga bersikap sangat egois?”
__ADS_1
”Itu aku, bukan kau. Kau tetaplah Ashlle Keith wanitaku saat ini, besok dan seterusnya. Are you understand, baby?”
Matth kembali mengenakan seluruh pakaian miliknya kemudian hendak melangkah pergi dari hadapan Ashlee.
”Apa arti aku bagimu..” batin Ashlee.
Sebuah pertanyaan yang sangat ingin Ashlee utarakan, namun terhalang situasi mereka yang sulit dan tidak menentu saat ini.
***
”Perusahaan F & B Gray Group”
Ashlee Beker seperti biasanya, namun pikiran sangat kacau.
Knock...Knock...Knock...
”Permisi, nyonya Ashlee, ada tamu yang ingin menemui anda.” Ucap salah seorang sekretaris Ashlee.
”Siapa?” tanyanya singkat dan masih berkutat dengan layar komputer yang sedang membuatnya sibuk.
”Nona itu menyebut namanya, Eveline Joy, nyonya.” Ucap si sekretaris. Setelah mendengar nama itu, Ashlee pun bangkit dari tempat duduknya, dan berdiri ke arah pintu.
”Persilakan dia masuk ke ruang tamu khusus pimpinan.” Titah Ashlee.
Ashlee menghela napas perlahan, lalu menenggak segelas air mineral. Baru saja dipikirkan, sudah datang begitu saja, pikirnya.
• • •
Ashlee melangkah menuju ruang tamu khusus.
”Selamat siang, Nona Ashlee!” Sapa Eveline dengan wajah penuh senyuman, bersama salah seorang asisten pribadinya.
”Selamat siang, Nona Eveline,” balas Ashlee dengan wajah tersenyum juga.
Keduanya duduk berhadapan dan seperti janji Ashlee sebelumnya akan menyerahkan beberapa pilihan desain gaun untuk Eveline.
”Wau amazing!” Puji Eveline.
”Silakan, pilih salah satunya.” Ucap Ashlee.
”Aku pilih dua model ini. Satu untuk acara pertunangan, satu lagi untuk acara pesta keluarga kami.” Ucap Eveline antuasias.
__ADS_1
Melihat raut wajah bahagia dari Eveline, sungguh membuat perasaan Ashlee kian tak menentu. Karena tanpa Eveline ketahui, sebenarnya orang kepercayaan yang duduk di hadapannya siang ini justru yang bisa sewaktu-waktu menjadi sosok yang menghancurkan segala kebahagiaannya. Meski itu bukanlah murni kesalahan dari Ashlee sendiri.
”Baiklah, timku akan segera mengerjakannya untuk anda, Nona Eveline.”
”Panggil saja aku, Eve. Agar lebih nyaman dan akrab.” Ucap Evelien, kemudian memberikan dua buah paper bag untuk Ashlee. Satu berisikan cake mahal, satu lagi sebuah syal mewah pula.
”Untukmu, Nona Ashlee. Karena kau sudah berjerih lelah membuat pola seindah ini. Kau pasti bekerja dengan sangat keras, meski kau ialah seorang CEO perusahaan.” Ucap Eveline.
”Terima kasih banyak, Nona Eve.” Balas Ashlee dengan wajah tersenyum sendu.
”Baiklah, aku harus segera kembali ke pabrik, karena akan ada pertemuan penting dengan klien. Senang bekerja sama denganmu, Nona Ashlee.” Ucap Eveline dengan senyuman tulusnya.
• • •
Ashlee kembali ke ruangannya dan mulai merenungkan semua yang saat ini sedang terjadi.
”Sungguh munafik, apa yang telah aku lakukan..” gumam Ashlee, kemudian merem4s paper bag pemberian dari Eveline.
Bzzttt... Nomor baru memanggil...
Ashlee pun menerima panggilan tersebut. Betapa terkejutnya Ashlee, tatkala mendengar suara yang saat ini sedang berbicara dengannya.
”Ashlee aku merindukanmu..” ucap seseorang dari balik panggilan selular itu. Sontak Ashlee menutup percakapan sepihak nan singkat itu.
Tubuh Ashlee gemetar hebat, bak disambar petir siang bolong.
***
Sementara di mansion kediaman keluarga Nikolaus Berrel.
”Bajing4n kau Nikolaus! Lepaskan aku, kau tidak bisa melakukan ini terhadapku!” Teriak Nico yang saat itu berada di balik jeruji besi, tepatnya di dalam ruang bawah tanah mansion.
”Kau sudah sangat kejam Nico, dan kepastian kau tidak akan bisa berbuat sesuka hatimu lagi.” Tegas Nikolaus.
”Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan, huh! Wanita jal4ng itu tidak akan pernah bersedia menerimamu lagi, karena kita adalah saudara satu ayah.” Ucap Nico sembari tertawa terbahak.
”Diam!” Nikolaus menyirami Nico dengan air, dan mengunci Nico di sana.
Nikolaus berusaha untuk menenangkan dirinya yang kini sudah dapat menghirup udara kebebasan di luar. Setelah sekian lama terkurung di ruang bawah tanah. Namun sebuah kenyataan kali ini sungguh membuat Nilolaus pilu. Akan tetapi, sepertinya Nikolaus seolah tak peduli...
__ADS_1
***