Aku bukan Pemuas HASRAT

Aku bukan Pemuas HASRAT
Bukan pemuas ranjangmu


__ADS_3

Setelah dipikir-pikir, tak ada lagi alasan Ashlee untuk tetap berada di bawah kedali dari Matth. Terlebih lagi, kebenaran atas rahasia keluarganya pun sudah ia ketahui, jadi alasan untuk bertahan pun tidak ada lagi.


”Apakah aku harus pergi dari semua ini?” ucap Ashlee, yang sedang duduk di dalam ruang kerjanya.


Ashlee mengambil ponsel miliknya dan mengajak Matth untuk saling bertemu.


Ashlee: ”Selamat siang, bisakah kita bertemu hari ini?”


Matth: ”Sangat jarang sekali kau mengajakku untuk bertemu.”


Ashlee: ”Yah, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan.”


Matth: ”Malam ini saja, tepatnya di penthouse.”


Matth pun mengakhiri percakapan begitu saja. Ashlee berusaha untuk tetap tenang menghadapi situasinya saat ini.


Disisi lain, harapan untuk kembali bersama Nikolaus kini terbuka sangat lebar. Hanya saja, Ashlee merasa dirinya bukanlah wanita yang pantas bagi Nikolaus, mengingat semua yang telah ia lalui selama ini bersama Matth.


***


Penthouse Kediaman Matthyas.


Malam pun tiba, Ashlee sudah duduk di sofa menanti kehadiran Matth ditemani segelas minuman rendah alkohol sebagai penenang pikiran. Ashlee benar-benar harus mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Matth atas semua perasaan yang dimilikinya.


Tak lama setelah itu, Matth tiba dengan kunci cadangan miliknya untuk membuka pintu utama penthouse.

__ADS_1


”Sejak kapan kau memiliki kebiasaan minum alkohol?” tanya Matth, lalu merampas gelas dari tangan Ashlee.


”Bukankah hidup ini harus dinikmati dengan kenikmatan yang sudah tersedia?” ketus Ashlee dengan wajah tersenyum dingin, seolah bukan lagi dirinya yang biasa.


”Katakanlah apa yang sangat ingin kau utarakan.” Ucap Matth, sembari menyisih lengan kemeja miliknya.


”Aku ingin hidup mandiri, dan terlepas dari bayang-bayangmu yang selama ini terus bersamaku. Bisakah kau kabulkan keinginanku kali ini?” ucap Ashlee dengan rasa yang gugup.


Matth seketika tertawa, ”apa yang dapat kau lakukan di luar sana? Kau sudah menikmati kenyamanan dan semua ini. Lalu, kau harus kembali dari nol. Apakah kau sanggup hidup melarat di luar sana tanpa aku?” ketus Matth.


”Mengapa kau begitu percaya diri untuk berbicara seperti ini?” balas Ashlee menahan rasa kesalnya atas semua ucapan dari Matth.


”Harusnya kalimat itu kuucapkan padamu. Mengapa kau begitu percaya diri untuk hidup tanpa aku? Apakah kau sudah menemukan pria yang akan memeliharamu di luar sana?”


”Brengs3k! Kau sangat keterlaluan, Matthyas! Kau tidak hanya merendahkanku tapi kau juga menginjak harga diriku hingga seperti ini!” Berontak Ashlee lalu bangkit dari tempat duduknya.


”Hingga kau bosan lalu mencampakkan aku bagaikan sampah masyarakat yang hina?” ucap Ashlee dengan mata yang berkaca-kaca.


”Terlalu banyak kebohongan yang kau sembunyikan dariku selama ini, kau buat aku menerka-nerkanya sendiri. Kau bertindak sesuka hatimu, kau perlakukan aku layaknya seorang wanita penghibur bagimu. Kau bertindak seolah-olah kau memiliki dunia ini!” Teriak Ashlee, meraih gelas di atas meja, lalu mencengkeram kuat gelas tersebut hingga pecah. Akibat pecahan dari gelas tersebut, membuat telapak tangan Ashlee terluka hingga banyak mengeluarkan darah.


”Ashlee, apa yang kau pikirkan?” Matth menarik tangan Ashlee yang terluka untuk segera di babat.


”Lebih baik aku mati, daripada terus menerus menjadi budak pemuas ranjangmu!” Teriak Ashlee memberontak. Namun Matth hanya diam saja, tanpa bicara sepatah katapun.


Luka di tangan Ashlee dibersihkan dengan lembut dan dibabat oleh Matth dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Sementara itu, Ashlee masih terus menangis dan terisak di hadapan Matth.


”Dengar baik, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu. Aku hanya ingin kau hidup layak, di luar sana terlalu kejam untukmu. Mengerti?” ucap Matth.


”Tidak! Aku tidak akan pernah bisa mengerti dengan pemikiranmu?” Ucap Ashlee yang masih terlihat sangat kacau.


”Ashlee, kau sudah tidak memiliki siapapun di luar sana, dan aku tidak akan membiarkan dirimu seorang diri, meski dengan caraku yang menurutmu sangat brengs3k ini.”


Ashlee menepis sentuhan tangan dari Matth, dan beranjak dari hadapan Matth.


”Aku hanya ingin ketenanganku kembali.”


”Ketenangan seperti apa, Ashlee? Aku sudah memberikan segalanya untukmu, dengan caraku yang seperti ini. Aku hanya ingin kau hidup sebagaimana mestinya kehidupan dambaan para wanita.”


”Tapi kau menjadikan aku bagaikan boneka hidup, kau sendiri bertindak sesuka hati di luar sana. Kau bahkan akan segera memperistrikan Eveline, namun kau juga tidak bersedia melepaskan aku. Kau pikir tindakanmu sudah tepat? Kau hanya akan menghancurkan kehidupan seseorang yang berharap kebahagiaan darimu!”


”Kau masih memikirkan hidup Eveline? Hidupnya begitu nyaman dan apapun yang ia inginkan selalu di dapatkan dengan mudah. Jadi, jikalau nanti dia akan mengetahui segalanya, setidaknya mungkin itulah titik terendah yang pernah dialaminya.”


”Kau benar-benar tak berperasaan, Matthyas!”


”Sudahlah.. kau cukup nikmati hidupmu sendiri, selagi kau hidup. Aku ada pekerjaan lain, lebih baik kau beristirahat.” Ucap Matth lalu melangkah pergi dari hadapan Ashlee.


Melihat sikap Matth yang acuh dengan ucapannya mengenai Eveline, membuat Ashlee kian marah.


Ashlee pun menenggak beberapa gelas minuman beralkohol tinggi yang ada di dalam lemari khususnya. Seakan tidak lagi memikirkan hari esoknya.

__ADS_1


***


__ADS_2