Aku bukan Pemuas HASRAT

Aku bukan Pemuas HASRAT
Rasa yang masih sama


__ADS_3

Akibat tindakan nekat dari Ashlee, Matth bergegas untuk membawanya ke rmah sakit, namun mengingat kejadian ini akan menimbulkan permasalahan baru. Matth pun berpikir, jika ada baiknya tenaga medis saja yang ia datangkan.


Setelah beberapa jam kemudian...


Ashlee akhirnya tersadar kembali dari pingsannya, dan mendapati pada dirinya sudah melekat beberapa peralatan medis.


“Ah, ****! Hampir saja aku mati, gara-gara kebodohan ini.. yang pastinya pria bajing4n ini tetap tidak akan melepaskan aku!” gumam Ashlee.


Setelah beberapa saat kemudian...


Matth pun masuk ke dalam kamar yang saat ini sedang Ashlee tempati, lalu duduk di samping Ashlee.


”Kau sungguh ingin keluar dari tempat ini?” tanya Matth dengan nada yang jauh lebih lembut. Matth tidak ingin memberi tekanan pada pikiran maupun perasaan Ashlee, mengingat kejadian hari ini sangatlah mengejutkan dan berbahaya.


”Tidak hanya itu, aku juga ingin menjalani kehidupan normalku.” Ucap Ashlee dengan memalingkan wajahnya dari Matth.


”Bukankah posisimu saat ini sangatlah menguntungkan bagimu, lantas posisi seperti apa yang kau inginkan?”


”Sudah kukatakan, aku ingin menjalani kehidupanku sendiri.”


”Baiklah. Kau akan bekerja sebagai pemegang Butik, sesuai dengan kemampuanmu di bidang desain.” Ucap Matth, yang terlihat tidak merelakan jika Ashlee harus jauh darinya.


”Jika seperti itu, sama saja aku masih berada di bawah kendalimu.” Ketus Ashlee.


“Aku hanya ingin menebus kesalahanku dimasa lalu, yang telah merenggut masa depanmu dengan cara yang keji. Jadi, fasilitas apartemen, mobil juga Butik merupakan hal yang paling sederhana untukmu.” Ucap Matth.


Sederhana baginya yang merupakan seorang crazy rich.


”Kau akan berkreasi sesuka hatimu, dan aku akan membantu promosi desain milikmu. Jika memang kau ingin mendapatkan penghasilan dari jerih lelahmu sendiri.”


Mendengar tawaran menggiurkan tersebut, tentu saja membuat siapa saja akan merasa sangat bahagia.


”Jika kau ingin membangun bisnis dadi nol, itu bukan hal yang mudah. Jadi, beberapa penawaran ini hanyalah hal kecil saja untukmu.”

__ADS_1


“Baiklah. Tapi, kuminta satu hal.” Ashlee pun mencoba bangun untuk duduk menghadap ke arah Matth.


”Yah, katakan saja.”


”Aku tidak suka, jika kau terus memperlakukan aku sebagai pemuas ranjangmu. Karena, sebagai wanita.. aku juga memiliki harga diri.” Ucap Ashlee dengan bibir gemetar.


Melihat hal itu, Matth merasa cukup berat, disisi lain Matth tidak mampu menahan dirinya untuk tidak menyentuh Ashlee.


”Tapi kau tetap wanitaku, sampai kapanpun.” Tegas Matth, yang masih kukuh dengan pendirian awalnya. Mendengar ucapan Matth, tentu saja Ashlee sebenarnya merasa sangat kesal, namun hanya bisa memilih menahannya saja.


”Lalu, bagaimana dengan Eveline? Aku tidak ingin terus terlibat di dalam percintaan kalian.“


”Jalani saja hidupmu, pilihanmu. Tak perlu memikirkan hal yang tidak seharusnya menjadi urusanmu.”


***


Setelah perbincangan itu, Ashlee pun mulai merasa sedikit lega. Karena akhirnya, Ashlee mendapatkan sedikit kebebasan, dan juga pilihan untuk hidupnya sendiri.


Pada hari ini, Ashlee pun berpamitan dengan semua karyawan atas berhentinya Ashlee dari posisinya sebagai seorang nyonya CEO.


“Wah sayang sekali, kita harus kehilangan nyonya CEO yang luar biasa..” bisik para karyawan.


Di sana juga sudah ada Matth, sebagai pemilik dan pemimpin utama perusahaan tersebut. Pesta perpisahan pun dimeriahkan dengan berlibur bersama selama dua hari penuh ke sebuah pulau yang merupakan milik Matth juga. Semua tentu sangat antusias akan hal itu.


Di dalam ruangan kerja lama Ashlee, Ashlee membereskan barang-barang lamanya, dan ada rasa pilu dihatinya. Meski tidak lama memimpin, namun rasanya Ashlee sudah sangat nyaman di sana.


”Sudah berubah pikiran untuk tetap berada di tempat ini?” ucap Matth yang berdiri di depan pintu masuk ruangan milik Ashlee.


”Tentu saja tidak, justru hal ini yang sangat kutunggu.” Balas Ashlee dengan cukup ketus.


”Bagaimana dengan apartemennya, kau suka?” tanya Matth, lalu melangkah mendekati Ashlee.


”Tidak, itu terlalu mewah untukku dan aku tidak ingin menimbulkan pergunjingan. Aku sudah memilih apartemen yang sederhana untukku yang tidak jauh dari Butik.” Ucap Ashlee.

__ADS_1


”Mengapa kau mengganti mobilmu?” tanya Matth lagi.


“Itu juga terlalu mewah untukku yang hanyalah pekerja butik juga desainer. Aku sudah memilih mobil kecil yang pas untukku.”


”Baiklah, jika seperti itu. Apartemen itu akan kubeli dan kau cukup tinggal di sana hingga kau merasa bosan, kau bisa meminta apartemen yang baru lagi.”


”Tidak, itu sudah cukup bagiku.” Ashlee hendak melangkah keluar, namun Matth menahan tubuhnya.


”Kita sedang berada di kantor, mohon jaga sikap anda, tuan Matthyas.” Tegas Ashlee. Lalu Matth pun membiarkan Ashlee untuk pergi dari hadapannya.


***


”Apartemen Kediaman Ashlee Keith”


Bzzttt...


Ketika sedang bad mood, tiba-tiba Ashlee mendapatkan panggilan dari nomor yang sudah ia kenal dan hafal.


Ashlee: ”Hallo,” ucap Ashlee dengan wajah tersenyum bahagia.


Nikolaus: ”Bagaimana kabarmu, apakah kita sudah bisa saling bertemu?” ucap Nikolaus, yang ternyata sedang berbicara dengan Ashlee.


Ashlee: ”Aku akan mencari waktu yang tepat. Karena aku baru saja pindah apartemen.” Ucap Ashlee bahagia.


Nikolaus: ”Baiklah. Segera hubungi aku, jika kau sudah mendapatkan waktu yang tepat. Aku sangat merindukanmu..” ucap Nikolaus.


Seketika itu, perasaan Ashlee serasa remuk redam. Bagaimana tidak, saat ini posisi mereka tidak lagi seperti dulu, sedangkan perasaan diantara mereka masih terjalin kuat.


Panggilan singkat itu pun diakhiri dengan rasa pilu di hati masing-masing.


Ashlee duduk termenung, dan menatap kertas kosong di atas meja kerjanya.


”Bisakah kebersamaan itu kembali lagi..” ucap Ashlee dengan penuh pilu.

__ADS_1


__ADS_2