Aku bukan Pemuas HASRAT

Aku bukan Pemuas HASRAT
Cinta yang palsu


__ADS_3

Setelah sekian purnama, akhirnya Ashlee dapat bertemu dengan sang pujaan hati yang telah lama pergi, yaitu Nikolaus.


Mereka bertemu di sebuah makan malam romantis di suatu restoran.


Duduk berhadapan, dan raut wajah bahagia dari keduanya tak dapat dipungkiri lagi.


”Sangat lega melihatmu seperti sekarang.” Ucap Nikolaus dengan wajah tersenyum.


”Terlalu banyak cerita pilu dimasa lalu, dan untuk dapat bertemu seperti ini.. sungguh hal yang tidak mudah.” Ucap Ashlee dengan wajah haru bahagia.


Nikolaus menyentuh punggung tangan Ashlee, ”sungguh maaf, karena aku belum mampu membahagiakanmu.. bahkan dihari yang sangat kita nantikan, semua harus hancur..” sesal Nikolaus.


”Itu bukan salahmu, tapi keadaan dan keserakahan orang-orang kejilah yang telah merusak segalanya.”


”Tapi, semua karena perbuatan dari saudaraku.. itu juga merupakan tanggung jawabku, sekalipun diantara kami tidak memiliki hubungan darah.”


”Ashlee.. bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi? Kumohon..” pinta Nikolaus.


Sungguh permintaan dari Nikolaus kali ini, kian membuat perasaan Ashlee menjadi sangat pilu. Rasa tidak pantas untuk dapat bersama Nikolaus kembali, itulah yang terus menghantui pikiran Ashlee.


”Aku hanyalah wanita yang jauh dari kata sempurna, dan aku merasa sudah tidak pantas untuk bersanding denganmu..”


”Ashlee, aku sungguh tidak peduli dengan masa lalumu.. yang kepedulikan ialah masa sekarang dan masa depan kita bersama.” Nikolaus masih berusaha untuk meyakinkan Ashlee akan perasaannya.


Ashlee tak mampu menjawab, namun juga tetap menginginkan Nikolaus berada di sisinya.


Setelah makan malam bersama, Nikolaus mengajak Ashlee untuk berkeliling sebagai pelepas penat.


...***...


”Bagaimana perasaanmu, apakah sudah membaik?” tanya Nikolaus sembari merangkul Ashlee.


”Yah, aku merasa jauh lebih baik.” Balas Ashlee dengan tersenyum bahagia.


Kedua saling bertatapan, dan hampir terbawa suasana. Namun, Ashlee dapat mengendalikan dirinya, Ashlee tidak ingin berlarut dalam suasana itu.


”Apa sebaiknya, aku mengantarkanmu pulang?” ucap Nikolaus yang sedikit canggung.


”Ah, yah. Ini sudah hampir larut malam, besok kita harus kembali bekerja keras, bukan?” ucap Ashlee.


Mereka pun kembali pulang bersama, dan malam itu pun berlalu begitu saja.

__ADS_1


...***...


...”Keith Boutique and Beauty”...


Ashlee kini memiliki sebuah butik sekaligus toko kosmetik di dalam satu tempat yang sama. Ia sebagai seorang pemilik di sana, dan semua itu modal dari Matth.


Tidak ingin cuma-cuma, Ashlee juga berniat untuk membayar semua modal awal itu pelan-pelan, meski sebenarnya hal itu tidaklah mudah. Mengingat lokasi yang begitu strategi, tentu saja biaya operasional dan lainnya tidaklah murah.


Bzzttt... Satu panggilan ”Nona Eveline”


Eveline: ”Hallo, nona Ashlee, apakah benar kau sudah tidak lagi berada di Fashion and Beauty Gray?” tanya Eveline spontan.


Ashlee: ”Yah benar, nona. Ada yang bisa kubantu?”


Eveline: ”Aku ingin langsung bertemu denganmu saja. Tolong berikan alamatmu saat ini, oke.”


Ashlee: ”Mohon ditunggu, nona.”


Ashlee pun mengirimkan share location kepada Eveline.


Huh.. ”Semoga aku bisa mengatasi situasi baru ini..” ucap Ashlee sembari menghela napas perlahan.


• • •


”Selamat siang, Nona Ashlee.” Sapa Eveline, dengan raut wajah tersenyum.


”Selamat datang, Nona Eveline, silakan masuk.” Ashlee mengajak Eveline menuju ruang kerja utamanya.


Mereka duduk berhadapan, dan ada banyak pertanyaan di kepala Eveline hari ini.


”Mengapa kau memilih berhenti dari Gray Group, apakah ada yang menekankan mu?” tanya Eveline perihatin.


”Tentu saja, tidak Nona. Aku hanya ingin bekerja lebih santai dan tanpa batasan waktu. Karena menjadi seorang pimpinan utama di sebuah perusahaan besar, itu tidaklah mudah.” Ucap Ashlee mencari-cari alasan.


”Ah, kau benar. Pasti sulit, bukan? Aku ucapkan selamat, atas usaha barumu ini. Dengan begini, kau benar-benar fokus hanya pada satu tujuan.”


”Terima kasih, Nona Eveline.”


”Oh yah, aku ingin mengundangmu untuk menghadiri pesta pertunangan ku bersama Tuan Matthyas.” Eveline mengambil selembar undangan dari dalam tas selempang miliknya dan memberikan pada Ashlee.


”Selamat atas pertunangan, Nona bersama Tuan Matthyas.” Ucap Ashlee tersenyum palsu.

__ADS_1


”Yah, aku juga berterima kasih, karena nona Ashlee sudah membantuku memilih gaun yang indah. Gaun itu akan aku kenakan di hari pertunangan kami.” Ucap Eveline bangga.


”Terima kasih, atas kepercayaan dari Nona padaku.”


”Nona Ashlee, jujur sejak awal mengenalmu, aku merasa kau adalah sosok rekan yang luar biasa. Jika berkenan, aku ingin mengajak Nona Ashlee untuk makan siang bersama mungkin. Anggap ini sebagai pertemanan kita.” Ucap Eveline, yang sepertinya sudah menganggap Ashlee bukan lagi klien, melainkan seorang teman yang baik.


”Tentu saja, Nona Eveline.” Balas Ashlee, meski sebenarnya ada banyak kecemasan di hatinya.


Bagaimana jadinya nanti, jika Eveline mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Akankah Eveline tetap menerima Ashlee sebagai seorang teman baik?


...* * *...


Di suatu siang, Eveline datang menemui Matth ke perusahaan utama yang Matth kelola saat ini.


”Sayang, aku merindukanmu..” Ucap Eveline menggelayut manja di atas pangkuan Matth, yang sedang duduk di kursi kerjanya.


”Ada apa Eveline, mengapa tiba-tiba datang tanpa memberi kabar?” ucap Matth, yang terlihat jauh lebih lembut ketika memperlakukan Eveline. Entah, Matth sudah jatuh cinta pada pesona Eveline?


”Aku ingin pergi bersamamu hari ini.. perasaanku sedang ingin bersama calon suamiku..” rengek Eveline manja.


”Baiklah, aku akan bersiap.”


”Sungguh? Yeahh!” Eveline terlihat sangat bahagia. Yah, Matth begitu memanjakan Eveline. Sebenarnya, Matth juga ingin Ashlee bersikap manis dan manja padanya. Hanya saja, sejak awal hubungan diantara mereka sudah diawali dengan hal-hal buruk yang telah Matth perbuat pada Ashlee.


...* * *...


Matth bersama Eveline pun pergi berdua hanya untuk melepas rasa suntuk Eveline. Pergi ke tepian danau sejuk, nan sepi.


Eveline tak henti-hentinya merangkul manja Matth, sangat jauh berbeda ketika Matth bersama Ashlee yang dingin padanya. Sesekali, Matth melihat sosok Eveline sebagai Ashlee, sehingga ia dapat mengendalikan perasaannya, agar suasana bersama Eveline tetap terjalin hangat.


”Sejak awal daddy dan mommy merencanakan perjodohan kita.. aku sudah sangat percaya, bahwa pilihan orang tuaku tidak pernah salah. Meski, orang-orang mungkin beranggapan, bahwa aku terlalu bergantung dengan pilihan orang tua, tidak memiliki kekuatan untuk membantah. Sebenarnya, bukan perihal itu.. hanya saja, aku percaya pilih orang tuaku adakah terbaik.” Ucap Eveline dengan tatapan mata nan sendu. Sedangkan Matth hanya diam saja, dan terus bermain peran di hadapan Eveline.


”Pada akhirnya, aku sungguh merasa bahagia bersamamu hingga saat ini.” Ucap Eveline, keduanya saling bertatapan dan Matth pun menyambut niat hati Eveline yang dengan mudah dapat ditebak.


Matth meraih tengkuk leher Eveline dan mengecup bibir ranum milik Eveline dengan begitu rakus dan menuntut.


Eveline sangat terkejut, dan rupa-rupanya itu adalah ciuman pertama Eveline.


”Maaf jika aku pasif, namun sejujurnya ini adalah ciuman pertamaku..” Ucap Eveline tertunduk malu.


Lalu Matth mendekap tubuh Eveline tanpa berucap sepatah katapun, namun terapan Matth dibalik pelukan itu terlihat datar dan tak ada rasa cinta di sana.

__ADS_1


Yah, Matth berhasil bermain peran dengan berpura-pura di hadapan Eveline. Melakukan hal-hal mesra, walau tanpa adanya rasa cinta.


...* * *...


__ADS_2