Aku Hancur Karenamu

Aku Hancur Karenamu
1. Savira Andani


__ADS_3

Savita Andani 22tahun biasa dipanggil Dani gadis cantik berkulit Langsat, tinggi semampai. Sore itu Dani melangkahkan kakinya keluar dari tempatnya bekerja. Dia adalah seorang staf administrasi di sebuah perusahaan terkenal dikotanya. Tampak beberapa orang menyapanya yang dibalas anggukan oleh gadis cantik itu. Dani termasuk gadis yang pendiam dia tidak punya sahabat dekat. Jangankan sahabat temanpun jarang. Dani terlalu asyik dengan Dunianya sendiri. Jadi jangan heran sampai di usia 22 tahun ini Dani belum pernah sekalipun pacaran. Sifatnya yang terlalu pendiam membuat laki laki takut mendekatinya. Entahlah Dani hanya berpikir saat ini dia harus fokus dengan pekerjaan untuk membiayai orang tua dan adiknya. Dia tidak peduli dengan hidupnya sendiri.


Sore itu dia pulang naik gojek karena motornya sedang servis.Sampai dirumah ayahnya menyambut dia dengan senyum hangat.


" baru pulang nduk?"


" Iya pak, Dani mandi dulu ya."


"Iya nduk habis mandi bapak tunggu di teras ya ada yang mau bapak sampaikan"


Hhh Dani cuma mengangguk dan menanggapinya dengan jengah. Dia sudah bisa meraba apa yang akan disampaikan bapaknya.


Selepas mandi dia menuju teras dimana ayahnya sudah menunggu berdua dengan ibunya.


" sini nduk. Kata Bu Mira ibunya Dani


" gimana kerajaanmu hari ini" lanjutnya


" baik Bu" singkat jawab Dani


" Gini nduk bapak cuma mau ngingetin beberapa bulan lagi adikmu mau dipinang sama pacarnya, bapak harap kamu bersedia untuk bapak jodohkan dengan anak teman bapak, biar kamu gak kelangkahan adikmu nduk." panjang lebar bapak.


" maaf Pak Bu bukannya Dani nolak tapi untuk sekarang Dani masih mau kerja dulu. Toh Dani juga baru 22 tahun." jawab Dani


" adikmu yg 20 tahun saja sudah mau nikah loh, apa kata orang nanti kalau kamu harus dilangkahi." Bu Marni memperjelas.


Hhhhh Dani jengah juga dengan ucapan orang tuanya, padahal dia kerja selama ini tuh buat mereka, kalau dia harus nikah belum tentu bisa nafkahi mereka.


" Ya pak Bu nanti Dani pikir lagi. Dani capek mau istirahat dulu.


Dani melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tempat ternyamannya selama ini. Tanpa terasa air matanya menetes. Sedih yang dirasa Dani saat ini. Seandainya dia punya pacar pasti ada tempat buat dia berkeluh kesah. Tapi yaaah mau bagaimana lagi Dani ga punya. Dani meraih hapenya dan scrolling aplikasi toktok, karena hanya inilah hiburannya saat ini.


Tak terasa diapun ketiduran. Keesokan harinya Dani menjalani aktivitasnya seperti biasanya. Dia berangkat kerja tanpa sarapan karena malas bertemu dengan ayahnya.


Dani mengendarai motornya menuju kantor dengan sedikit melamun. Dan....

__ADS_1


" braaak " Dani jatuh dari motornya


Sebuah mobil menyerempet motornya. Seorang lelaki tinggi lumayan ganteng turun dari mobilnya.


" Apa lukamu parah? Aku bawa ke rumah sakit ya?" kata lelaki itu.


" tidak hanya lecet saja kok. Gpp tolong berdirikan motorku." jawab Dani


" beneran nih gpp,,?


" iya ini gpp,,maaf saya buru2" Dani segera menyalakan motornya


" ini kalau ada apa apa hubungi aku" laki laki itu memberikan kartu namanya.


" oke , bye"


Hhhh untung saja cuma lecet pikir Dani .Haduh dannn udah deeh jangan melamun lagi kata Dani dalam hati...


Sampai di kantor Dani disambut seruan temannya


" ini jatuh tadi" singkat Dani


" buruan diobatin sana, btw nooh penggemarmu liatin kamu tuh " seloroh teman Dani sambil melirik ke arah temen yang dimaksud. Dani cuma melengos dan berlalu menuju meja kerjanya.


Hendra ya sudah sejak lama Hendra menaruh hati pada Dani namun selalu dicueki.


Begitulah hari hari Dani berlalu dengan sangat membosankan. Kerja kerja dan kerja tiap hari.


Senang????? OOO jangan tanya Dani cuma merasa penat dan itu tidak bisa di hindari. Mengingat tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga. Terkadang Dani juga merasa hidupnya sungguh membosankan. Ingin sekali punya sandaran tempat dia berkeluh dan mengadu.


Hari ini hari Minggu pulang beribadah Dani berencana untuk pergi ke pasar dia ingin membeli beberapa bahan makanan. Ya hari ini dia pingin masak sendiri, mumpung hari Minggu pikirnya. Dengan santainya dia mengendarai motor maticnya.Melaju menuju pasar terdekat Suasana jalan sedikit ramai dari biasanya. Setelah mendapat apa yang dia inginkan Danipun pulang.


"tiiinn"


"tiiiiin tiiin"

__ADS_1


"tiin" suara klakson berisik sekali dibelakang Dani.


" iiisssh kenapa sih kan aku sudah minggir kali." pikir Dani


" tiiin"


"Tiiiiin tiiiiiiiiiiin"


"hhhhhh" geram Dani dia pun menepikan motornya dan berhenti di pinggir dengan maksud biar tuh mobil di belakang jalan duluan.


"isssh nyebelin, padahal jalanan juga lebar dan sepi kenapa malah klakson klakson terus sih, mentang2 kaya apa gimana sih." batik Dani kesal.


Eeeeeh tu mobil malah ikutan berhenti. Makin heran aja Dani dibuatnya. Pintu mobil terbuka dan turunlah seorang lelaki.


" seperti pernah lihat, tapi dimana" Dani mencoba mengingat


" Halo nona bagaimana lukamu sudah sembuh belum?" sapa lelaki tersebut


" ooh anda yang menabrak saya tempo hari itu ya...hehe luka saya sudah sembuh kok." jawab dani


" Kebetulan liat kamu tadi jadi aku ikutin. maaf atas kejadian tempo hari ya." imbuh lelaki tersebut


" Iya gpp kok. Ok deh aku mau lanjut pulang ya." ucap Dani buru buru.


" heei kenapa buru buru banget. Aku Juna, nama kamu siapa? " lelaki itu memperkenalkan dirinya.


" eeeh iya aku Dani, maaf aku sudah ditunggu ibu di rumah, permisi saya duluan ya." pamit Dani


" oo baik lah, hati hati di jalan."


" ok."


Belum apa apa Dani seolah sudah membangun tembok pembatas untuk Juna. Sikap sedikit dinginnya membuat Juna jadi tidak enak segan. Dia pun melajukan mobilnya Yaaah mau bagaimana lagi, maksud hati ingin minta no hape tapi yaa sudahlah, lupakan.


Sementara Dani diatas motornya merasa lega berhasil menghindari percakapan yang lebih panjang dengan Juna. Entahlah dia merasa sedikit malu sedikit takut dan sedikit bingung. Maklumlah dia memang jarang ngobrol sama lawan jenis. Wajar kalau ada perasaan ga nyaman menurutnya. Dani yang pendiam dan pemalu sangat tidak suka dengan situasi barusan.

__ADS_1


Sampai dirumah Dani segera ganti baju dan menuju dapur. Dia bermaksud melaksanakan rencana untuk memasak sesuatu yang sudah dia beli tadi. Sementara memasak dia memutar otak untuk bicara tentang perjodohan yang disampaikan oleh ayahnya beberapa hari yang lalu.Dani bermaksud menegaskan kalau dia menolak perjodohan itu tanpa melukai hati orangtuanya. Pokoknya harus bisa aku sampaikan hari ini. Apapun yang terjadi Dani tetap akan menolak perjodohan itu. " Maafkan Dani ya pak, Bu" batin Dani.


__ADS_2