Aku Hancur Karenamu

Aku Hancur Karenamu
19. Lebih baik sendiri


__ADS_3

Buru buru Dani mengajak Arkha berpindah ke lokasi lain dengan harapan dia tidak bertemu dengan si pengirim pesan. Selama menyusuri wahana permainan anak mata Dani terus saja berkeliling. Dia takut apabila sosok itu tiba tiba muncul dihadapannya secara tiba tiba. Anehkan padahal sebelum belumnya dia sering berharap sosok itu mau menemui anaknya.


Beruntung sekali sosok yang mengirim pesan tadi tidak menampakkan batang hidungnya hingga mereka kembali pulang kerumah. Karena kelelahan sampai rumah Arkha langsung tertidur. Begitupun Dani, badannya lelah setelah seharian berkeliling menemani buah hatinya. Dani membaringkan badannya di sebelah anaknya. Matanya memandang sebuah foto yang tadi siang di kirim oleh Raga , foto dimana dia dan Arkha sedang tertawa bahagia sambil berpegangan tangan.


" Arkha sudah besar,,bolehkah aku memeluknya...?" demikian bunyi tulisan dibawah foto tersebut.


Setelah sekian lama kemana saja engkau baru muncul sekarang...pikir Dani dalam hati. Kemarin kemarin engkau sibuk dengan Tante gatel mu itukah..kata hati Dani dengan gemasnya.


" Ting" sebuah pesan masuk lagi di hape Dani.


" Aku ingin berkunjung, aku ingin bertemu anakku." bunyi pesan tersebut.


Hhh Dani menghela nafas panjang, ya dulu Dani pernah meninggalkan pesan di apartemen Raga bahwa Raga boleh mengunjungi Arkha kapan saja dia mau. Tapi sekarang Dani seperti tidak rela anaknya akan bertemu dengan Raga. Dani bingung jadinya. Sementara Arkha juga punya hak untuk tau siapa ayahnya.


Ya sudahlah biarlah dia datang pikir Dani sambil membalas pesan Raga


" boleh silahkan." pesan terkirim dan sudah dibaca.


" ok, satu jam lagi aku sampai di rumahmu." balas Raga

__ADS_1


Dan selama hampir satu jam ini Dani menata hati agar nanti terlihat biasa saja dihadapan lelaki itu. Tidak ada niatan sedikitpun untuk mengatakan pada anaknya bahwa Raga akan datang menemuinya.


Satu jam, dua jam, tiga jam telah berlalu namun lelaki bernama raga itu belum juga menampakan batang hidungnya. Dasar lelaki gila tidak bisa dipercaya,, batin Dani. Tidak ada sedikitpun niatan di hati Dani untuk menanyakan kenapa tidak jadi datang menemui anaknya. Untungnya tadi Dani belum memberitahu anaknya. Adakah lelaki jenis seperti Raga di dunia ini,,?


Entah apa yang terjadi dengan Raga yang jelas dia tidak muncul dihadapannya.


***


Sementara itu Raga yang hari ini tidak sengaja melihat Dani dengan anaknya sejenak tertegun, ada nyeri yang teramat sangat di hatinya. Ingin sekali dia berlari dan memeluk anaknya, apa daya Tante Mira mengintimidasinya untuk tidak mendekati mereka. Sungguh raga tak kuasa menolak apapun itu yang di ucapkan oleh Tante Mira, bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya. Jadilah Raga hanya bisa memotret kebersamaan mereka dan mengirimkannya ke nomor Dani. Niatnya untuk mengunjungi Arkha pun terpaksa harus pupus, lagi lagi karena tidak mendapat ijin dari Tante Mira. Seolah menjadi laki laki tak berdaya di hadapan Tante Mira.Aneh bukan masak iya dia bisa setunduk dan senurut itu. Begitulah hidup raga sekarang, hanya menuruti maunya sang Tante. Sungguh malang nasibnya. Tengilnya hilang entah kemana. Raga oh Raga...........


Kabarnya raga yang tidak lain adalah simpanan dari Tante Mira semakin gila saja dalam menjalin hubungan dengan Tante Mira. Aah sudahlah biarkan saja Raga dengan kehidupannya.


***


" tidak, bunda sedang bersyukur Tuhan menghadiahkan Arkha buat bunda.." percakapan kecil antara Dani dan Arkha di meja makan.


" Arkha sering lihat bunda menangis diam diam, bunda jangan sedih lagi nanti Arkha juga sedih." yaaah Arkha tau Bundanya sering nangis diam diam.


Dani memeluk anaknya " ya nak bunda janji, bunda ga akan sedih lagi ...bunda akan selalu tersenyum buat jagoan bunda...."

__ADS_1


" Arkha bangga punya Bunda, Bunda hebat, kita berdua saja ya Bu, Arkha ga butuh ayah..." seloroh Arkha. Jantung Dani berdegup kencang mendengar kata kata Arkha barusan. Anak sekecil ini memahami sekali perasaan ibunya, dan apa yang ada dipikirannya seolah bisa dibaca oleh Arkha. Arkha berusaha menghibur Dani, padahal Dani juga sering melihat Arkha sedih kalau melihat temannya sekolah diantar papanya. Pernah juga suatu kali dia bertanya


" Bun gimana ya rasanya dibonceng ayah....?"


" Bun Arkha pengen deh di gendong sama ayah kayak temenku." hati siapa yang tidak sedih mendengar beberapa pertanyaan ini. Dan lagi lagi Dani hanya bisa menyembunyikan kesedihannya lalu berusaha tersenyum sambil membesarkan hati anaknya.


Memang terasa berat, tapi Dani selalu percaya Tuhan ada menemani setiap langkahnya. Setiap kali bebannya terasa makin berat maka Dani akan datang bersimpuh dan berdoa. Tidak boleh ada kata menyerah harus selalu optimis. Agar sikap positifnya ini juga menular ke anaknya.


Mungkin karena doa doanya itu maka Arkha tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tidak rewel minta ini dan itu. Cepat tanggap menerima hal hal baru. Satu lagi Arkha sangat pandai membaca mimik wajah orang lain. Arkha akan tau kalau bundanya berbohong, bersedih, dan bahagia.


Dalam hal pekerjaan pun Tuhan selalu memberkatinya dengan berlimpah limpah, banyak sekali yang mengunakan jasanya. Rekening Dani tidak pernah kosong, selalu terisi penuh. Sebagai tanda ucapan syukur Dani sering menyumbangkan sebagian rejekinya untuk anak anak panti asuhan.


Karena itulah Dani merasa tidak butuh lagi dengan pendamping hidup, tidak pernah sekalipun terlintas di otaknya untuk mencari sosok pengganti ayah buat Raga. Biarlah Dani cuma mau fokus mengurus Arkha, mendampingi tumbuh kembangnya dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk Arkha. lagi pula Dani sangat takut untuk kembali membuka hatinya, terlalu sakit mengingat kejadian yang dialaminya dahulu.


Ada beberapa teman kerjanya dulu dan juga teman gerejanya yang mencoba mendekatinya. Mencoba mengambil hati Dani, tapi yaaah begitulah karena pada dasarnya Dani perempuan yang cuek dan dingin. Ketusnya akan muncul dengan sendirinya..


" tolong kalau kamu mencoba untuk mendekati aku, maaf aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan lagi..tolong mengerti dan jangan salah paham..." selalu kata kata ini yang Dani ucapkan bila melihat gelagat temannya mulai mengarah untuk lebih dari sekedar teman. Beruntungnya sikap terus terang Dani ini di tanggapi dengan positif, sehingga tidak menimbulkan sakit hati dan kesalah pahaman.


Ya memang tidak semua lelaki itu sama, Tidak semua lelaki sama seperti Raga. Tidak semua laki laki itu penghianat. Tiap orang pasti memiliki sifat dan pembawaan masing masing.Tapi luka yang di buat Raga itu terlanjur membekas sangat dalam di hati Dani. Sakitnya luka penghianatan itu belum sembuh. Biarlah Dani hidup berdua saja dengan buah hatinya, ada Tuhan yang menjaga mereka. Tempat Dani berlindung dan berkeluh kesah dalam suka dan duka.....

__ADS_1


__ADS_2