Aku Hancur Karenamu

Aku Hancur Karenamu
15. Semakin jelas


__ADS_3

Kenyataan pahit harus dihadapi Dani, Raga semakin berubah, tinggal seatap tapi seolah tidak saling kenal, tidak ada lagi senyum manis ataupun gurauan dari mulut raga. Raga menjadi gampang marah, bahkan pada hal kecil yang tak sengaja Dani lakukan. Bukan hanya itu Dani sering kali mendengar Raga bicara dengan seseorang di telepon dengan sembunyi sembunyi.


Bahkan sekarang jangankan mengendong anaknya, melihat pun Raga tidak pernah lagi.


" salahku apa mas, tolong katakan biar aku bisa perbaiki..?"


" diam...!! Aku malas bicara sama kamu...!!" Raga berkata sambil menuding muka Dani.


" kamu ga cinta aku lagi mas...?" lagi Dani bertanya


" iya,, aku ga cinta kamu lagi...!!!!" balas Raga


" terus mau kamu apa mas...?" kalau kamu sudah punya wanita lain, ijinkan aku dan anakku pergi mas...!" pinta Dani


" sekali kamu pergi bawa Arkha, kubakar kamu hidup hidup....!!" ancam Raga


Tak ayal air mata menetes di pipi Dani. Kenapa kamu jadi jahat mas, batin Dani.


Hari ini Dani berniat untuk belanja kebutuhan anaknya, dia memesan taxi online. Sambil menggendong anaknya dia berjalan memasuki sebuah mall. Kakinya melangkah menuju tempat barang barang yang dia butuhkan. Tak berselang lama Danipun selesai berbelanja, perutnya sudah memberi tanda untuk segera diisi. Danipun memasuki restoran yang ada di mall tersebut. Sementara menunggu pesanannya matanya berkeliling melihat seisi restoran dan....deg jantungnya serasa berhenti berdetak, Dani melihat sosok yang sangat dia kenal sedang duduk bersama seorang perempuan. Siapa perempuan itu...? Pacar barunya atau rekan kerjanya...? Dani bertanya tanya dalam hatinya. Dani memperhatikan gelagat mereka bukan sekedar kolega biasa, dilihatnya sesekali tangan mereka saling menggenggam, tangan Raga juga beberapa kali mengusap pipi perempuan itu.


" tenang, aku harus tenang.." kata Dani pada dirinya sendiri. Dani berusaha mengontrol emosinya, bagaimanapun dia sedang menggendong bayi sekarang. Dani mengambil beberapa foto mereka dengan handphonenya. Tangannya sampai gemetar karena menahan emosi dan takut ketauan keberadaannya. Perempuan itu sedikit membelakangi Dani, jadi Dani belum bisa mendapat foto yang memperlihatkan muka dari perempuan itu.


Tak kurang akal Dani meminta bantuan pelayan untuk mengambil foto mereka dengan diam diam. Tentunya dengan imbalan sedikit uang. Dani segera menyimpan handphonenya begitu pelayan itu datang memberikan hasil fotonya. Dan alangkah terkejutnya Dani ketika melihat sosok yang ada di foto tersebut.


" ini kan....." Dani tidak meneruskan kalimatnya. Dani mengenal sosok ibi itu, tapi belum yakin.


" aku akan mengikuti mereka." gumam Dani.


Singkat cerita dengan segala kerepotannya Dani berhasil mengikuti mobil Raga. Mobil itu memasuki perumahan yang cukup besar. Dani mengamati dan mengambil beberapa foto lagi. Dan fix seratus persen Dani benar benar mengenal sosok ibu itu, setelah dilihatnya mereka memasuki rumah bernomor 22 itu.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup Dani meminta sopir taxi mengantarnya ke apartemen. Hatinya gundah, sakit dan sedih, dia pandang wajah mungil tak berdosa dalam gendongannya. Air matanya perlahan menetes, entah kenapa semua terasa menyakitkan, padahal Dani sendiri sudah menduga kalau Raga pasti punya pacar baru lagi. Melihatnya secara langsung membuat hatinya hancur dan sakit.


" aku harus apa ya Tuhan..." keluh Dani begitu dia sampai di apartemen.


" tidak ada jalan lain aku harus bertanya pada Raga tentang semua ini.." putus Dani.


Dani terbangun ketika mendengar anaknya menangis, sigap Dani memberikan asi untuk anaknya sambil tangannya menepuk nepuk pelan paha anaknya, berharap anaknya segera tidur. Dan benar saja tak berselang lama anaknya pun terlelap. Bertepatan dengan suara langkah kaki memasuki apartemen. Dani beranjak keluar dari kamar anaknya. Dilihatnya Raga tengah berjalan menuju kamarnya .


" mas ada yang mau aku bicarakan.."


" sudah larut, aku capek, besok saja.." malas Raga meladeni Dani


" sebentar saja mas."


" Apa..?"


Dani mengeluarkan hapenya dan menunjukkan foto di restoran tadi pada Raga...." ibu ini ada hubungan apa sama kamu mas...?


" tidak mas, aku hanya kebetulan lihat tadi.."


" ga usah bohong kamu...!!"


" bener mas,, aku mohon jangan berhubungan dengan ibu itu mas, dia sudah bersuami..." pinta Dani


" siapa kamu berani melarang aku hah...!!!"


Entah mengapa kata kata Raga barusan membuat hati Dani bagai teriris iris, pedih rasanya.


" mau aku berhubungan dengan siapapun kamu tidak punya hak untuk melarangku...ingat kamu hanya perempuan yang melahirkan anakku...!!" lanjut Raga

__ADS_1


" ya aku memang ada hubungan dengan Tante Mira, dan itu bukan urusanmu...!" Kata raga sambil berlalu meninggalkan Dani


lemas kaki Dani mendengar kalimat kalimat yang keluar dari mulut orang yang pernah menyayanginya itu. Dengan langkah gontai Dani memasuki kamar anaknya.


" Aku sudah tidak ada artinya buat Raga, hatinya bukan untukku lagi, haruskah aku bertahan disini, atau aku harus pergi ya Tuhan.." pilu Dani.


Ditengah kesedihannya Dani seakan diingatkan lagi untuk kembali datang kepada Tuhan, berlututlah Dani dia berdoa dengan airmata yang tak hentinya menetes dipipinya. Mau bagaimana lagi penyesalan selalu datang belakangan. Mungkin ini hukuman dari Tuhan karena sudah jauh meninggalkanNya.


Pagi harinya Raga berlalu begitu saja dari hadapan Dani tanpa sedikitpun menoleh kearah Dani dan anaknya. Suasana apartemen menjadi lebih dingin dari biasanya, ada aura kelam yang mulai menyelimuti. Dani tersentak ketika handphonenya berbunyi


" halo..."


" kamu tidak usah melarang larang Raga untuk ini itu, masih untung Raga mau membiayai semua kebutuhanmu...!" dasar pelacur...!"


bunyi suara dari seberang sana yang langsung dimatikan tanpa menunggu jawaban dari Dani.


Apa lagi ini, pikir Dani. Pelacur...? Apa iya aku ini pelacur.. Serendah itukah aku., tak henti Dani memikirkan kata kata dari orang itu, yang tak lain adalah Tante Mira pacar baru Raga.


Tante Mira adalah ibu dari teman kerja Dani dahulu. Dia sudah bersuami, suaminya bekerja di perusahaan besar yang ada di Papua, enam bulan sekali baru suaminya pulang.


Dia bilang aku pelacur, terus dia apa coba, sudah bersuami tapi masih doyan Sama berondong, hati Dani masih heran dan bertanya tanya tentang kata kata Tante Mira tadi.


Tak berselang lama ada notifikasi pesan masuk di hapenya


" hai anjing, babi, ***** di bar pun masih lebih terhormat dari pada kamu, tinggal serumah tanpa ikatan, apa namanya kalau bukan babi...."


bunyi pesan tersebut


Sangat kasar kata kata yang dikirim oleh Tante Mira, Dani hanya mengelus dada, makin sedih hatinya. "Seburuk itu kah aku Dimata orang orang.." lirih Dani nelangsa. Dipandanginya anaknya yang masih terlelap, matanya berkaca kaca. Sepanjang pagi ini Dani merenungkan kata kata Tante Mira, banyak hal yang dia pikirkan, banyak hal juga yang dia pertimbangkan.....

__ADS_1


Aku harus pergi atau bertahan....


__ADS_2