Aku Hancur Karenamu

Aku Hancur Karenamu
18. Menikmati Peran


__ADS_3

Lima tahun telah berlalu dan kini Arkha sudah bersekolah di sebuah taman kanak kanak dekat rumahnya. Arkha tumbuh menjadi anak yang cukup pintar, perkembangannya sungguh luar biasa. Diusianya yang baru lima tahun Arkha sudah bisa membaca, mengerti sopan santun dan mempunyai empati yang tinggi terhadap temannya. Hal ini tak lepas dari peran Dani yang tidak memberinya gadget, Dani fokus pada perkembangan motorik halus dan kasar, serta sensorinya. Dani juga lebih senang jika membiarkan Arkha bermain tanah, bermain air bahkan tak jarang main hujan hujanan.


Dan sekarang saat Arkha mulai bersekolah tantangan baru harus dihadapi Dani. Bagaimana dia harus menyiapkan mental dan perasaan anaknya. Bagaimanapun Arkha terlahir bukan dari hasil pernikahan Arkha lahir karena kesalahannya dulu, Bukan tidak mungkin Arkha akan dibully oleh teman temannya. Mereka masih anak anak yang terkadang suka asal bicara.


" jagoan bunda sudah siap sekolah....?" tanya Dani begitu melihat anaknya sudah rapi dengan seragam dan tas di punggungnya.


" ya bunda, aku siap...ayo bunda anterin aku, aku ga mau terlambat." Arkha berkata sambil memeluk Dani.


" ok ...! Let's go kita berangkat sekarang..!" ajak dani


" eits tunggu dulu, inget ya sayang kalau di sekolah harus selalu sopan..dan tidak boleh mukul temen ya..." sambung Dani lagi


Danipun mengantar anaknya dengan motor maticnya. Dani berkendara sambil mendengarkan celoteh Arkha. Dan selalu ada saja yang ditanyakan oleh anak kecil itu. Dengan sabarnya Dani menjawab pertanyaan anaknya. Sampai di gerbang sekolah Dani menurunkan anaknya. Sudah ada Bu guru didepan gerbang yang menyambut murid muridnya.


Setelah anaknya masuk kedalam sekolah Dani pun berlalu dari sekolah tersebut. Melajukan motornya menuju pasar tradisional untuk membeli sayur buah dan beberapa lauk pauk untuk kebutuhan selama satu Minggu kedepan. Rutinitas yang selalu dia jalani beberapa tahun belakangan, Dani rela bersibuk ria demi menyediakan makanan sehat dan cemilan sehat untuk anaknya.


Jam sepuluh Dani bersiap untuk menjemput buah hatinya. tepat jam sepuluh tiga puluh menit anaknya keluar dari gerbang sekolah. Mukanya sedikit murung, ada gurat kesedihan yang tampak jelas dimukanya.


" are you oke..?" tanya Dani sambil menuntun Arkha menuju motor.


" iam not oke Bun..." jawab Arkha


" ok nak, kita pulang , baru nanti Arkha cerita sama bunda ya..?"


Mereka pun melaju menuju rumah mungil tempat mereka tinggal. Belum juga sampai dalam rumah Arkha memeluk Dani erat.." tadi temanku bilang aku ini anak haram.. Anak haram itu apa bunda..?"

__ADS_1


Inilah yang selalu menjadi ketakutan Dani, omongan tidak baik yang ditujukan untuk anaknya.


" sayang, temanmu benar tapi yang salah itu bunda bukan Arkha, bunda sudah pernah bilang Arkha tidak boleh menanggapi mereka, cukup kasih senyum saja...ok sayang." Dani berbicara sambil menatap mata anaknya.


" emang bunda salah apa..?"


" nanti kalau Arkha sudah besar bunda akan cerita."


" Arkha sudah besar, sudah umur lima, sudah sekolah Bun.."


Dani tersenyum mendengar kata kata anaknya barusan...." iya Arkha sudah besar, tapi belum cukup umur untuk mendengar cerita bunda..."


" hmm baiklah...emmmm ayah Arkha namanya Raga kan Bun..? Dia ada dimana...?"


" benar sayang, bunda tidak tau nak, mungkin di kota ini mungkin juga di kota lain.. Nanti bunda cari tau ya."


Yang menjadikan Dani sering bersedih adalah Raga tidak pernah sekalipun menengok Arkha, jangankan menengok telepon saja tidak pernah. Apalagi mengirim sedikit uang untuk keperluan Arkha juga tidak pernah. Uang bukan masalah besar buat Dani toh dia bekerja remote dari rumah dan penghasilannya lumayan besar. Yang Dani harapkan itu raga mau datang untuk sekedar melihat anaknya. Bukan berarti Dani mengharap bisa bersama raga lagi.Amit amit kata Dani.


Biar bagaimanapun Arkha ada di dunia ini karena Raga juga. Masak iya Raga lupa..atau barangkali dia sudah mempunyai keluarga baru dan melupakan mereka. Dani memang enggan untuk membuka komunikasi lagi dengan Raga, nomor Raga memang masih tersimpan di hapenya, tapi ya itu tadi Dani tidak mau menghubunginya lagi.


Dani memang sudah bisa berdamai dengan dirinya dan masa lalunya, namun untuk melupakan rasa sakitnya dikhianati dan digantung beberapa tahun itu tidak mudah. Dani yang dahulu tidak pernah berpacaran, sekalinya berpacaran malah harus mendapat perlakuan yang menyakitkan dari cinta pertamanya. Bukan sekedar sakit biasa, dulu Dani merasa hidupnya sudah hancur tak bersisa. Sudah tidak ada harga dirinya lagi sebagai perempuan, hamil dan melahirkan anak di luar nikah.


Bagaimanapun hidup harus terus berjalan, Tuhan sudah mempercayakan seorang anak laki laki kepadanya, melalui cara yang sangat luar biasa menyakitkan. Perempuan tidak boleh lemah, harus selalu kuat demi anak tercintanya.


Dani juga sadar jika anaknya tumbuh tanpa ada kasih sayang dari ayahnya, kalau dulu Raga tumbuh besar tanpa kasih sayang dari ibunya, sekarang Arkha harus tumbuh tanpa kasih sayang dari Raga ayahnya. Dani menyadari anaknya hampir mirip dengan ayahnya. Karena itulah Dani selalu berusaha memberikan kasih sayang yang begitu melimpah buat Arkha. Jangan sampai kelak dewasa Arkha berkelakuan sama seperti ayahnya.

__ADS_1


Dalam setiap doanya Dani selalu memohon agar anaknya kelak menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan takut akan Tuhan.


****


" pagi bunda..i love you..'' pagi ini Arkha bangun pagi dengan ceria


" pagi sayang.." balas Dani sambil mencium kedua pipi chubby anaknya.


" nanti pulang gereja kita jadi jalan jalankan Bun..." Arkha mengingatkan Dani


" pasti sayang, yuk Arkha buruan mandi biar tidak terlambat ibadahnya."


" ok Bu dan cantik..."


Arkha berlari menuju kamar mandi dengan penuh semangat, terbayang serunya acara jalan jalan nanti. Ya hari ini Dani menjanjikan Arkha untuk pergi mengunjungi wahana wisata secret zoo yang mana di dalamnya banyak sekali binatang dan wahana permainan termasuk kolam renang.


" ayo bunda buruan...'' Arkha sudah tidak sabar untuk segera berangkat.


Berdua mereka melaju dengan scooter matic berwarna merah. Arkha bernyanyi dengan ruang sepanjang jalan. Mereka harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari rumah mereka, sekitar satu jam perjalanan.


Sampailah mereka di tempat yang dituju. Arkha melompat kegirangan begitu memasuki wahana wisata tersebut. Tak jarang mulutnya bertanya ini apa , itu apa, kenapa begini, kenapa begitu.


" wow keren, aku juga mau ah kasih makan gajah.." pintanya yang dituruti oleh Dani.


" aku juga mau pegang itu Bun..." pintanya sambil menunjuk antrian orang yang mau berfoto dengan memegang burung kakak tua.

__ADS_1


Dani senang melihat anaknya bahagia....


"Ting" sebuah pesan masuk di handphone Dani. Setelah membacanya mata Dani langsung waspada, melihat ke kiri dan ke kanan.......tiba tiba dia gelisah


__ADS_2