Aku Hancur Karenamu

Aku Hancur Karenamu
8. Cobaan terberat


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul 20.00 namun kedua orang tua Dani dan adiknya belum juga datang. Sudah beberapa kali Dani mencoba menelpon mereka namun tidak bisa terhubung. Cuaca sedang tidak baik baik saja, hujan angin dan petir dari satu jam yang lalu.Gelisah perasaan Dani, Dia takut terjadi apa apa dengan mereka. Berkali kali dia melihat benda pipih berbentuk persegi disampingnya, berharap ada pesan atau telepon masuk.


Dani mencoba menghibur diri dengan membaca novel di aplikasi yang ada di hapenya. Namun pikirannya selalu tertuju kepada orang tua dan adiknya. Ya hari ini pagi pagi sekali jam 5 mereka berangkat menuju kota sebelah untuk berkunjung ke rumah calon mertua adiknya guna memastikan tanggal pernikahan adiknya Dani. Seharusnya jam 7 malam mereka sudah sampai di rumah kembali, namun entah mengapa sampai sekarang belum juga datang.


Ditengah lamunannya handphone Dani berdering..


" ya selamat malam..." Sahut Dani


" Selamat malam Bu, kami dari kepolisian mengabarkan bahwa Bapak Gunawan beserta ibu mengalami kecelakaan, sekarang berada di RSUD.."


Belum selesai orang tersebut berbicara Dani sudah jatuh terduduk, lemas juga sedih hatinya..


" raga aku harus telepon raga..." gumamnya


Segera dia menghubungi Raga dan menceritakan apa yang menimpa kedua orangtuanya.


Tak berselang lama Raga datang dengan mobilnya. Mereka segera menuju ke rumah sakit. Hening suasana dalam mobil, kecemasan melanda Dani dia terus berdoa semoga orang tuanya baik baik saja. Berulang kali dia menghela nafas panjang sambil meremas jemarinya. Raga menyadari kecemasan Dani dia mengelus kepala Dani berharap Dani sedikit mendapatkan ketenangan.


Begitu sampai dirumah sakit Dani berlari menuju ruang informasi..


" mbak saya keluarga dari Bapak Gunawan, yang mengalami kecelakaan, saya anaknya mbak..! Kata Dani tidak sabar


" Silakan langsung menuju IGD mbak." jawabnya


Dia pun berlari menuju IGD..Dia sedikit bingung karena ada banyak sekat dan pasien darurat yang sedang ditangani.


Raga berinisiatif untuk bertanya pada salah satu perawat yang lewat didepannya. Perawat itu mengatakan sesuatu, Raga nampak terkejut mendengarnya.

__ADS_1


Raga berjalan menuju Dani..Dia genggam erat tangan pujaan hatinya, tak kuasa dia menyampaikan kabar ini. Diajaknya Dani menuju lorong yang mengarah keruang ujung rumah sakit. Raga diam namun tangannya semakin erat menuntun Dani..


" kita mau kemana Ga, katanya tadi di ruang IGD ga, kenapa kita kesini...?" heran Dani


" sayang kamu harus kuat ya...." pelan Raga


Dani makin cemas, ditatapnya Raga penuh selidik ," katakan Raga, apa yang terjadi dengan orangtuaku..?"


Raga membawa Dani kedalam pelukannya, " mereka bertiga tidak bisa diselamatkan..."


Belum selesai Raga menjelaskan Dani berteriak histeris, " kenapa mereka pergi...aku sama siapa...Kenapa Tuhan...!!" teriak Dani


Limbung badan Dani merosot ke lantai lemas seluruh tubuhnya, jiwanya serasa kosong. Raga segera memeluknya membiarkan Dani terisak dalam pelukannya.


Raga mengambil handphone Dani untuk mengubungi beberapa kerabat dekat Dani. Tak berapa lama semua urusan rumah sakit pun beres. Raga membawa Dani menuju rumahnya. Pandangan Dani kosong, air mata masih mengalir di pipinya. Sungguh Raga tidak tega melihat kondisi Dani sekarang.


" yang sabar ya nduk..relakan semua nduk.." lirih budhe


Dani hanya diam, pikirannya masih belum bisa menerima semua ini.


Seminggu sudah sejak kepergian keluarga Dani, selama itu pula dia mendapat cuti dari kantornya. Hari ini adalah hari dimana dia harus mulai bekerja lagi. Pun budhe juga harus kembali ke rumahnya sendiri.


" nduuk budhe juga mau pulang Yo...budhe tau ini berat buat kamu nduk, Tapi hidupmu harus terus berjalan nduk, jangan terus larut dalam kesedihan Yo...kalau ada apa apa telpn budhe Yo." pamit budhe sebelum menaiki mobilnya.


Dani memeluk budhenya sambil terisak perlahan.


" ya budhe, terimakasih sudah menemani Dani." tak kuasa Dani melanjutkan kata katanya

__ADS_1


Budhe pun berlalu menuju tempat tinggalnya yang berjarak 10km dari rumah Dani. Ya benar kata budhe hidup Dani harus terus berjalan. Tapi ini tidaklah mudah buat Dani apalagi dia harus kehilangan 3 orang sekaligus dalam hidupnya. Entah apa maksud Tuhan dibalik semua kejadian ini.


Pekerjaan yang ditinggalkan Dani selama seminggu belakangan sudah menumpuk di mejanya. Kejadian yang menimpa Dani tak urung mengundang simpati teman teman sekantornya, hari ini mereka berusaha menghibur Dani, meskipun Dani lebih banyak diamnya. Ada Saja ulah teman temanya yang membuat Dani terkadang sedikit tersenyum.


Sore menjelang, jam kantor pun sudah berakhir, Dani beranjak meninggalkan mejanya. Hari ini Raga berjanji akan menjemputnya sepulang kerja. Sambil menunggu di lobi kantor, Dani merenung, diam diam dia mengucap syukur karena disaat seperti ini dia masih punya Raga, Tuhan sudah mengirimkan Raga untuknya. Dia membayangkan bagaimana jadinya bila dia tidak memiliki Raga. Tak hentinya dia mengucap syukur dalam hatinya sekarang.


" neng jutek aku sudah di depan.." bunyi pesan di handphone Dani. Ia pun bergegas meninggalkan lobi menuju mobil Raga.


" cantik sekali neng jutekku hari ini..coba senyum sedikit pasti makin cantik deh.." goda raga berusaha menghibur


Menanggapi itu Dani hanya mencibirkan bibirnya. Yang disambut tawa renyah Raga.


" mau langsung pulang atau kemana nih..? Tanya Raga


" pulang aja ." singkat Dani


Sebenarnya Raga ingin sekali mengajak Dani berkeliling kota menikmati suasana sore menjelang malam, di lanjut dengan menikmati secangkir kopi sambil nongkrong di kafe. Tapi dia paham kalau Dani masih enggan untuk kemana mana, hatinya masih teramat sedih. Memang tidak mudah buat Dani, dan Raga diam diam berjanji dalam hatinya untuk selalu menemani Pujaan hatinya tersebut.


" Sayang, beneran kamu berani di rumah sendirian..?" tanya Raga ketika dia sampai di rumah Dani dan Dani tidak mengijinkannya untuk mampir.


" yaaaah mau bagaimana lagi yang..aku harus berani." sahut Dani


" hmmmm kalau kamu berubah pikiran, telpn aku ya..." dengan berat hati Raga meninggalkan rumah Dani. Tapi ditengah jalan dia putar balik dan memarkir mobilnya di depan rumah Dani, dia berniat untuk tidur di mobil saja. Raga tidak tega bila harus meninggalkan Dani sendirian di rumahnya. Biarlah untuk sementara Raga rela tidur di mobil demi menjaga pujaan hatinya.


Dani memasuki kamar orang tuanya, dia tatap setiap sudut kamar itu, matanya mulai berair ketika menatap foto yang menempel di dinding kamar tersebut. Ya itu adalah foto keluarga mereka dimana dalam foto itu Dani masih berusia 5 tahun dan adiknya 3 tahun.


Kini semua hanya tinggal kenangan. Untuk menenangkan hatinya Dani pun memutar lagu lagu pujian gereja yang menguatkan hatinya..Perlahan dia membaringkan tubuhnya di kamar orang tuanya...

__ADS_1


"


__ADS_2