
Aku berdiri di depan cermin meja rias, melihat wajah berkali- kali. Make up natural dengan lingerie warna cream yang menempel, terlihat menambah anggun wajahku. Dada rasanya berdebar. Saat aku membayangkan wajah tampannya berkelebat di pikiran.
"Sudah cantikkah aku?" tanyaku pada cermin.
Apakah dia akan senang dengan penampilanku dan melupakan kebahagiaannya yang lain. Aku menyentuh bibir bawah, mengingat kejadian- kejadian yang membuat dada berdebar hebat. Aku tersenyum malu, saat melihat pantulan wajah yang memerah di cermin.
Pintu kamar mandi terbuka. Seseorang dengan postur tubuh tinggi, berambut lurus hitam, bermata sendu menatapku termangu.
Di tangannya, terselip benda kotak persegi yang menempel pada telinga kirinya.
"Baik-baik, ya," katanya pada seseorang disebrang. Dia melirikku saat mengucapkan 'I love you'.
Entah! Kata-kata itu ditujukan pada siapa. Aku atau istrinya.
Hasrat yang tadi membuncah, tiba-tiba berubah jadi rasa dongkol. Aku terdiam. Saat tangannya memeluk. Dagu lancip ditaruh di bahuku. Badan terasa panas dingin, saat nafasnya menyapu telingaku.
"Cantik," pujinya.
Di raih badanku dalam gendongan, lalu perlahan melangkah menuju ranjang. Dia duduk di tepi ranjang dengan posisi tubuh ini masih dalam pelukan. Dicium lembut bagian belakang telingaku, membuat badan terasa bergelinjang hebat.
"Mas!" panggilku lirih.
Mas hendra berhenti mendaratkan ciumannya lalu beralih menatapku. Mata sendu itu menatapku penuh gairah dan aku selalu terjerat karenanya.
Aku tahu, aku merasa berdosa karena mencintai pria didepanku. Tapi hatiku tak bisa menolak saat dia memberiku cinta. Walau aku harus mengorbankan perasaan seseorang atas kebahagian ini.
Mas Hendra kembali membabat habis jarak kami seolah tak mengindahkan panggilanku tadi. Bahkan gerakannya lebih agresif hingga aku tak mampu menguasai diri.
__ADS_1
'Tidak! Ini tidak bisa diteruskan, aku ingin bicara' jeritku mengontrol diri.
Aku berontak, mendorong wajahnya. Dia nampak terkejut. Dahinya berkerut dengan mata sedikit melontot.
"Ada apa, Sayang?" tanya Mas Hendra memegang daguku.
Aku diam. Menatap dalam matanya.
"Mas mencintaiku ...?"
Dia terperanjat. Dahinya makin berkerut.
"Kenapa kau tanyakan itu?"
"Aku hanya ingin tau saja, seberapa penting aku di kehidupan, Mas?"
Dia diam. Mungkin dia sedang berfikir untuk jawaban yang mengejutkan. Atau mungkin jawaban klise yang sering aku dengar dari pria- pria tukang selingkuh seperti Mas Hendra.
"Termasuk istrimu ...?" potongku cepat. Tapi seketika ada perasaan takut menyelinap dihati. Takut kalau dia marah dan meninggalkanku.
Mas Hendra diam. Matanya berubah tajam, saat menatapku. Marahkah Mas Hendra? Terlihat dengan sikapnya yang menurunkan tubuhku dari pangkuannya. Dia berdiri, mengusap wajahnya kasar.
"Apa harus kita bicarakan masalah ini sekarang?" tanya Mas Hendra mengembuskan napasnya dengan keras.
Aku melihat wajah itu terlihat mengeras. Sejenak kami terdiam lama. Suasana berubah kaku. Mencoba menangkap bayangannya dengan ekor mata, kemudian tatapan kami beradu. Ada rasa bersalah terpancar di mata sendunya.
"Ayolah, Honey. Aku hanya ingin saat denganmu aku bahagia ...."
__ADS_1
Mas hendra duduk di sebelahku kembali. Tangannya memegang bahuku. "Bagiku, kau cukup penting ...."
Senyuman Mas Hendra meluluhkan hati yang sempat panas. Tangannya menyelipkan rambutku yang tergerai menutupi wajah karena tertunduk. Saat tangannya menyentuh tepat di belakang telinga, ada getar yang menjalar seperti setruman listrik cepat mengaliri darahku. Perasaan yang tadi marah mendadak lunak. Ya, aku menyukainya. Perlakuannya terhadapku yang membuatku tergila gila.
________________________________
Aku duduk santai di balkon kamar tidur. Dari atas sini, aku bisa melihat ruas jalan di depan rumah.
Ya. Aku mendapatkan semua yang kumau tanpa harus melakukan apapun karena hubunganku dengan Mas Hendra. Rumah, mobil bahkan kartu Atm yang saldonya tiap bulan selalu terisi. Bahkan dengan transferan dari Mas Hendra, aku juga bisa mengirimi uang untuk ayah dan ibuku di kampung.
Mereka tidak pernah tahu tentang pernikahan siriku dengan Mas Hendra. Mereka mengira, aku masih bekerja sebagai SPG merk ponsel terkenal. Ya. Dulu. Sebelum aku mengenal Mas Hendra.
Di ujung jalan, aku melihat sepasang kekasih berlari santai di sore itu. Mereka berlari berdampingan. Dengan wajah yang sangat bahagia. Kadang mereka tertawa cekikikan lalu sang pria menaruh handuk ke leher sang wanita. Refleks tangan wanita itu memukul dada sang pria.
Akh! Aku benci melihat pemandangan itu. Seolah aku merasa melihat Mas Hendra dengan istrinya. Kenapa aku ini? Jelas aku tahu siapa aku ini? Hanya wanita kedua tak lebih. Bahkan keberadaannya hanya dianggap sampah.
Lalu kenapa aku harus punya perasaan seperti ini. Menyakitkan. Rasanya perih seperti diiris iris.
Aku ingin Mas Hendra hanya menjadi milikku. Biarpun aku harus merebut dia dari istri dan anak-anaknya. Tapi apa aku sanggup melihat seorang wanita yang akan bersedih dan hancur karena keegoisanku. Masa depan anak-anak yang bakal ikut terkena dampak dari pengkhianatan ini.
Aku menangis. Dada begitu sesak. Aku merindukan Mas Hendra di sini. Aku membutuhkannya. Setiap hari aku hanya bisa selalu menanti kedatangannya yang tak pasti.
Aku kesepian. Dan aku butuh penjelasan.
Cukup!
Tidak ada toleransi lagi. Aku sudah muak dengan sandiwara ini. bosan hanya dengan mengiriminya wa menanyakan apa hari ini dia akan berkunjung. Aku lelah menyimpan rindu yang kian lama kian menyesakkan.
__ADS_1
Apakah aku bisa memilikimu seutuhnya, Mas, tanpa ada pihak lain. Hatiku terlalu sempit untuk menyembunyikan cemburu saat kau bersamanya, kau masih memprioritaskan dia - istrimu. Masih dia yang utama bagimu.
Lalu aku ini apa? Aku juga punya cinta yang sama besar dengan istrimu. Aku juga mencintaimu. Mas, tolong hargai juga perasaanku.