
Pov Aulia
"Bodoh Kamu, Aulia!" bentak seorang wanita berpakaian dress panjang selutut berwarna tosca selaras dengan warna kulitnya yang putih perawatan. Rambut ombak sepinggang tergerai bebas, bagian atas disisir separuh, lalu dijepit di bagian tengah dengan bros berbunga.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Aulia?" raut mukanya yang tadi mengeras berubah menjadi pilu. Diembuskan napasnya perlahan lalu berjalan ke arahku yang terduduk lesu di sofa ruang tamu. Laila, nama wanita cantik itu - dia adalah teman yang sudah kuanggap saudara. Umur kami cuma terpaut lima tahun.
Aku menundukkan wajah. Malu. Setelah menceritakan perihal pernikahan siriku. Laila nampak shock. Terlihat dari wajahnya berubah keras. Mungkin dia kecewa denganku, orang sudah di anggap adiknya ternyata tidak punya hati. Merebut seorang suami dan seorang ayah dari sebuah keluarga baik-baik.
"Kamu merusak masa depanmu sendiri. Lalu apa keuntunganmu? Sakit. Dan kamu sendirian merasakannya."
Aku masih diam. Sementara Laila sudah duduk di dekatku. Tangannya meraih tanganku yang sedari tadi cuma menggenggam kosong. Seperti hatiku saat ini. Kosong. Terlunta lunta.
Digenggam kedua tanganku dengan tangannya yang berkuku cantik berwarna abu- abu. Ditarik daguku membuat dua pasang netra beradu pandang.
"Lihat Aku, Aulia!" perintahnya lembut, " Apa yang kau lihat dariku? Wanita simpanan dari satu pria ke pria lain. Lalu apa keuntunganku? Tidak ada bahkan aku terjerat didalamnya tanpa bisa keluar. Mimpi mempunyai keluarga yang bahagia dengan orang mencintaiku dengan tulus beserta anak-anak yang kelak keluar dari rahimku. Hilang. Lenyap. Mana ada pria baik-baik yang mau menjadikan aku istri satu- satunya. Bila kelak mereka tahu masalaluku, yang pernah menjadi wanita simpanan pria hidung belang. Tidak ada yang mau, Aulia"
__ADS_1
Aku melepaskan genggaman tangannya lalu membuang wajah ke arah lain. Melihat Laila seolah aku bercermin pada diri sendiri.
Laila , dulu adalah seorang gadis desa yang punya tanggung jawab menyekolahkan adik-adiknya. Ayahnya telah tiada semenjak dia masih sekolah sembilan. Karena tak ada biaya, dia terpaksa berhenti sekolah dan berangkat ke kota mencari kerja. Hanya bermodal ijazah SD , siapa yang mau menerimanya sebagai pekerja. Akhirnya dia hanya mampu bekerja sebagai asisten rumah tangga. Nasibnya tak semujur angan yang dia khayalkan. Juragan di tempat dia bekerja memperkosanya lalu menjadikannya wanita simpanan.
Inilah kehidupan. Dimana yang lemah akan tetap kalah. Hanya mampu mengais kebahagiaan dari harga diri yang terinjak. Lalu sekarang apa bedanya aku dengan Laila? Sama- sama perebut suami orang.
"Kenapa kamu bisa sebodoh ini, Aulia? Aku kira kamu akan belajar dari pengalamanku. Tapi kenapa kamu malah mengikuti kebodohanku dulu?"
"Dia mencintaiku ...," kataku dengan suara agak keras. Kemudian terdengar tawa yang cenderung mengejek.
"Kamu memang bodoh, Aulia!" oloknya. Ada sedikit rasa kesal menyelinap di hati. Tawa itu kian memekak telinga padahal suaranya tak terlalu keras. Entah... Mungkin karena tawa itu merendahkan dan memperolokku.
Jleb!
Kata-kata itu menunjam tepat jantungku. Rasa sombong karena dicintai mendadak lenyap. Mulai timbul rasa takut kehilangan.
__ADS_1
'Tidak! Aku percaya Mas Hendra tidak akan meninggalkanku. Dia benar- benar mencintaiku'.
'Aku percaya itu' teriakku menyakinkan hati.
"Kalau dia cinta, dia bakal meninggalkan istri pertamanya untuk kamu. Tapi tidakkan. Bahkan saat menelepon pun, kau disuruh diam."
Aku tercekat. Kenapa Laila tahu sedatail itu? Bukankah aku belum cerita soal itu.
"Kamu kaget, kenapa aku bisa tahu?" tebak Laila seolah membaca pikiran yang menyerbu otak. Laila menarik sebelah bibir berlapis lipstik merah menyala itu ke atas.
"Kamu sadar tidak, Aulia!" bentak Laila menatap tajam mataku, "Aku sudah mengalaminya sebelum kamu. Dan aku tahu, seperti apa pria yang hanya menikahi siri wanita. Mereka pengecut, mengatasnamakan pernikahan diatas nafsunya. Setelah istri pertama tahu, dia akan menalak kita. Lalu apa yang kita dapatkan?"
Aku tak mampu menatap lama mata yang sarat emosi itu, seolah berhasil menelanjangiku habis- habisan. Tak terasa, tetesan air bening menerjang bebas bendungan yang lama kupertahankan. Aku terseok dihadapan wanita itu.
"Kau mencintai pria itu, Aulia?" tanya Laila menghempaskan punggungnya ke sofa. Terdengar suara embusan panjang tertahan.
__ADS_1
Aku menunduk. Menutupi wajah dengan kedua tangan berharap tangis bisa mereda.
"Kamu telah kalah, Aulia!" ejek Laila kembali.