Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 6 Menebus Kesalahan


__ADS_3

Mas Hendra Pov


Aku menaruh remote televisi di samping tempat duduk, saat aku melihat Retno keluar dari kamar Rara, anak perempuanku. Retno melirik dengan ekor matanya, ketika mendapatiku sedang mengawasi, dia membuang wajah dengan kasar. Istriku cemberut. Sebab dua hari, ponsel aku matikan dengan sengaja.


Alasannya, Aulia mau menebus tiga hari kami yang percuma tanpa ada siapapun yang mengganggu, tak terkecuali telepon dari Retno. Aku mengalah. Sebenarnya aku tak tega harus mematikan komunikasi, sebab itu satu- satu alat untuk mengetahui keadaan mereka. Namun hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membuktikan ke Aulia bahwa aku masih menginginkannya.


Retno pergi melangkah ke arah dapur. Kebiasaannya sebelum tidur selalu minum madu dicampur air hangat. Aku mengikuti langkah kaki-kaki mungil itu. Wanita dengan tinggi 160 cm itu berdiri memunggungi sedang tangannya mulai meracik minuman andalannya. Obat alami yang bikin stamina gak loyo. Dengan aktivitas yang begitu banyak serta tiga bocah yang super rewel, Retno tak pernah mengeluh, bahkan setiap malam pun dia selalu menawarkan diri. Retnoku. Istri yang sempurna.


Aku mendekati, melingkarkan tangan ke pinggul ramping miliknya. Dia agak terkejut, lalu diam tanpa menampik. Ku singkap kerudung miliknya, lalu memasukkan wajah di sana. Mencari tengkuk, mendaratkan ciuman yang menggoda. Dengan refleks, tangan milik Retno menyendok perutku yang menempel pada sikunya.


"Lepas, Mas!" bentak Retno mulai melakukan perlawanan. Di ayun-ayunkan tubuh ramping itu melepas pelukan. Aku tersenyum melihat istri yang gondok. 'Kalau cuma begini aja ngambeknya minta ampun, gimana kalau ketahuan pernikahan keduaku, bisa- bisa minta cerai dia' batinku.


"Ma ...! Udahan dong ngambeknya," kataku menekan kuat tubuh mungil yang mulai bergerak liar.


"Habis papa jahat!" teriaknya. Menunduk dan badannya mulai bergetar. Retno menangis. Akh! Hati ini merasa bersalah. Aku memang tak pernah mematikan ponsel selama ini. Hanya saja saat itu, aku takut Aulia akan tersakiti lagi bila aku menerima telepon darinya.

__ADS_1


"Kan papa dah bilang ponsel papa terjatuh ke air jadinya eror," bohongku sambil memutar badan Retno untuk menghadap. Airmata miliknya jatuh membasahi pipi ranum yang bersemu merah bila kucium.


"Papa udah gak cinta lagi, ya?" isak Retno mengambil ujung kerudung berwarna pink yang sedang dipakainya itu untuk menutup mulut. Aku tercekat. Dada bergerumuh dasyat. Tahukah dia cinta yang selama ini aku agungkan untuknya seorang, kini telah terbagi?


"Kenapa bilang seperti itu?" tanyaku pura-pura. Menelangkup wajah bulat dengan mata menungkik seperti elang, mengamati airmata yang turun karena kesalahan yang kuperbuat.


"Karena papa berubah."


Aku terkejut. Secepat itukah dia mengetahui cinta yang telah terbagi. Padahal selama ini, aku selalu bersikap biasa di rumah. Saat chat dengan Aulia, aku akan pergi di ruang kerja atau menunggu Retno yang menidurkan Rara di kamarnya. Karena kebiasaannya, dia ketiduran di sana dan masuk ke kamar di atas jam sepuluh, kemungkinan karena istriku terlalu capek dengan aktivitasnya yang banyak.


Aku tak pernah mempermasalahkan. Kadang aku menunggui Retno sambil berkirim pesan mesra pada Aulia. Atau malah tertidur karena terlalu malam tapi setelah menghapus chat darinya. Dan Retno adalah wanita yang selalu berpikiran positif. Dia tak pernah curiga tentang apa yang telah aku perbuat, walaupun kadang dia sering meneror ponselku, mengintrogasi WA, BBM bahkan kontak yang ada nama perempuan di sana. Kadang aku merasa takut bilamana pengkhianatan ini terbongkar. Tak masalah kalau Retno mau berbagi, tapi bila dia memilih pergi.


"Berubah apa?" Aku mencoba untuk menenangkan diri. Pertanyaan ini seperti menjebak diri sendiri. Aku menekan debaran-debaran cemas yang menyusup.


Retno diam, mengembuskan napas yang terdengar berat, "Dulu Papa pasti memberi kabar padaku. Bagaimanapun caranya. Sekarang ... dua hari, papa tidak ada kabar sama sekali. Itu membuatku kawatir. Aku takut terjadi apa- apa denganmu." Isak Retno mengiris hatiku.

__ADS_1


Tak ada yang lebih menyakitkan. Di saat seseorang yang diam-diam kau sakiti, malah mengkhawatirkan keadaanmu. Sungguh, rasanya sangat ngilu.


"Maaf." Kutarik dagu wanita bermata elang itu, supaya wajahnya terlihat. Mata indah itu bersinar redup mengamati aku yang mulai menjewer telinga sendiri. Bibir merah itu mulai mengembang, menyaksikan wajah ini mengerucut seperti badut. Itu salah satu ajian meluluhkan hati wanitaku. Tidak menunggu lama, tangan mungil itu mulai melayangkan cubitan-cubitan kecil dengan disertai tawa.


"Janji gak bakal di ulang!" serunya gemas melihatku meliuk- liuk kayak ular menghindari cubitannya di pinggang. Tak ada jawaban. Tapi tangan yang mulai merangkul tubuh, menenggelaman kepalanya di dekapan. Segera kubopong tubuh mungil itu di bahu.


"Mau kemana?" tanya Retno melingkarkan tangan di leher.


"Bikin adeknya Rara," jawabku melangkah menuju kamar. Rumah nampak sepi. Bi Munah dan Pak De Lemon sudah tidur. Mereka yang setiap hari menemani Retno di rumah. Sudah kami anggap sebagai orang tua kami sendiri. Jadi tidak pantas bila aku menyebut mereka adalah pembantu.


"Minumanku belum kuminum, Pa."


"Gak usah!" tolakku saat Retno mulai meluncurkan badannya ke bawah. Dengan sigap, aku mempererat kaki yang mulai berontak.


"Aku mau mengalahkanmu," bisikku ke arah wajahnya. Dahi itu terangkat, lalu mulutnya mulai tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ah, masa!" katanya terkesan mengolok, kemudian tawa kecil renyah di telinga.


"Kita lihat nanti! Siapa yang bakal minta ampun." Aku membopong wanita itu memasuki kamar. Tangan yang tadi berusaha untuk melepaskan, sekarang memeluk erat.


__ADS_2