Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 12 Rindu Yang Tertukar


__ADS_3

Pov Mas Hendra


Suara ekscavator itu memekak telinga, menimbulkan suara dengung tersendiri. Alat itu mencakar-cakar bukit yang tegak berdiri dengan garukan besinya, dikais-kais tanahnya supaya hancur dan dilempar ketepian lembah. Tanah merah itu nampak serupa daging mentah yang mulai dibiarkan terpapar sinar matahari tanpa adanya tumbuhan yang menaungi.


Sudah dua bulan lamanya, aktivitas meratakan bukit untuk dijadikan perumahan dimulai. Para pekerja juga sudah semaksimal mungkin mengerjakan pekerjaan mereka, tapi masih juga jauh dari target yang kuharapkan, masih berupa bukit di sekililing lembah.


Aku membuang napas, merasa jengah dan lelah. Tak seperti yang kupikirkan. Mengerjakan pembangunan disini, ternyata lebih sulit dari mengerjakan proyek di jawa.  Di jawa, tanah sudah rata, hanya perlu sedikit penimbunan sudah bisa didirikan bangunan. Pekerjaan pun akan cepat terselesaikan dan dana cepat mencair. Tapi di sini, harus meratakan dulu bukit dan menimbun lembah di sekitar area yang mau dibangun. Cukup memakan waktu yang lama.


Teringat peringatan Retno saat aku menceritakan perihal persetujuanku menerima proyek di kalimantan. Saat itu kami sedang asyik berdua menonton film di acara tv di ruang keluarga.


"Pa, daerah kalimantan tidak seperti di jawa," ucap istriku waktu itu. Ya, aku memang tak pernah mengambil job perumahan selain di Jawa. Karena terlalu jauh dan lama. Hanya mengambil pembangunan rumah mewah yang tidak memakan waktu yang lama dalam mengerjakannya. Mungkin satu rumah mewah bisa dikerjakan kurang lebih satu tahun, tergantung model yang disondorkan. Biasanya para pemilik rumah lebih menyukai lahan yang strategis, berada di daerah perkotaan dan tanahnya sudah datar.


Kalimantan memang terkenal rumah berbukit. Rumah yang kadang di samping atap ada jalan keluar naik sepeda montor. Di bawah rumah ada rumah lagi dan seterusnya. Jalan besar  naik-turun dan masih di kelilingi jurang yang curam.


Retno menjauhkan tubuhnya dari pelukan. Duduk di tepian sofa sedikit memiringkan tubuhnya menghadapku.


"Menurut Kak Bahar, di sana masih berupa bukit dan lembah.  Prosesnya akan memakan waktu yang lama," jelasnya lagi.


Retno menatapku dengan mata elangnya yang kadang menukik tepat di jantung. Saat sesuatu rahasia tersimpan rapi, pasti mampu dia ketahui. Tatapan itu seolah sandi yang mampu meluruhkan mulutku yang mengunci. Aku meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada acara tv, nggak kuat terus dipelototi, bisa-bisa mulut ini akan mengomel sendiri membongkar niat, kenapa menyetujui proyek itu.


"Kenapa gak dikasihkan ke Kak Bahar saja. Bukankah Kak Bahar sering mendapatkan proyek di sana," ucap Retno membuyarkan pikiranku yang mulai kusut. Entah. Akhir-akhir ini berada dekat dengan Retno, aku selalu was-was.


Aku memperhatikan Retno yang menatapku penuh selidik. Sambil menekan kuat, hatiku yang berdesir hebat.


"Sekali-kali, Ma," bantahku menyakinkan Retno. Dia hanya menatapku datar tanpa ekspresi. Ku telangkupkan tangan ke wajah itu. "Percayakan kalau Papa mampu. "


Dia mengangguk pelan. Masih dengan raut tak terjangkau pikiran. Entah. Apa yang dipikirkan saat itu?


"Kenapa?"tanyaku pura-pura memasang tampang keheranan. Aku tahu, istriku mulai merasakan sesuatu. Terlihat dari sikap Retno yang akhir-akhir ini sering merenung. Dari sikapnya yang sering kaget saat aku memangilnya tiba-tiba. Mungkinkah ada perasaan was-was tentang pertanyaan yang kemarin aku lontarkan?


"Aneh aja" jawab Retno melepaskan tanganku dan berpaling.


Nah, kan.


"Aneh! Aneh, apa?" kataku sedikit gemetar.

__ADS_1


"Biasanya Papa gak mau mengambil job ini. Prosesnya terlalu lama. Ini perumahan. Bukan satu rumah mewah. Ini akan memakan waktu yang lama. Lebih lama dari yang di Surabaya. " tegas Retno dengan suara sedikit tertahan. Wajahnya mulai menunduk.


"Demi kamu dan anak-anak, tidak masalah buatku seberapa lamapun itu."


"Papa akan berada di sana lama. Dan aku takut ...." Retno tidak meneruskan kalimatnya. Terlihat ada rasa takut di matanya terbukti dari tetesan bening yang turun membasahi pipinya. Aku mencoba menenangkan hati yang dirundung sedih itu, memasukkannya dalam dekapan.


"Tidak akan, Ma," ucapku, mengeratkan tubuh itu dalam pelukan.  Hatiku luruh, penyesalan mulai menyentil kuat rasaku.


Aku membuang napas panjang. Saat wajah sedih bidadariku dan anak-anak melintas sewaktu di bandara.


"Jaga diri baik-baik, ya," ucap Retno melepas pelukan. Aku menunduk mencium keningnya lama lalu menghapus airmata yang jatuh perlahan.


"Jangan mikir macam-macam, ya," tintahku memandang wajahnya. Retno mengangguk pelan. Ku pandangi satu persatu anak-anakku. Rara yang ada di gendongan Sabrina mengulurkan tangan kearahku dengan mata berkaca- kaca. Airina yang tidak lepas dari sampingku, memegang kuat ujung jaket yang kukenakan.


Entah. Mereka seolah tahu aku pergi lama. Kesedihan yang sebelumnya jarang aku temui di saat aku berpamitan pergi bekerja. Inikah naluri hati yang memanggil erat?. Perpisahan yang tak nampak tapi akan mulai muncul dengan seiring waktu. Dan aku mulai menyadarinya sekarang.


Terbukti sudah dua bulan aku di sini. Dalam  jangka selama itu, aku tidak pulang menemui Retno dan anak-anak. Ada perasaan rindu yang mengalir, terutama bersama anak-anak. Dulu aku akan menyempatkan pulang dua minggu atau sebulan sekali menemui mereka sejauh apapun proyek yang kutangani. Kalau soal uang bisa dicari tapi kebersamaan dengan keluarga jauh lebih berarti, itu prinsipku dulu. Sebelum aku menikahi Aulia dan memboyongnya kesini.


Entah. Mungkin hasrat yang sudah ada yang memenuhi dan pekerjaan yang membutuhkan banyak perhatian. Aku lupa, ada seseorang di sana menantikan kepulanganku.


Entah! berapa kali kalimat itu meluncur dari bibir ranum itu. Wajah yang berbinar penuh rindu. Hatiku bergetar saat rindunya meminta dia mengeluarkan airmata. Begitu rindunya dia pada sosok suami pengkhianat ini?


Ma, maafkan aku.


"Sabar ya, Ma. Pekerjaan di sini tak bisa di tinggal."


Mata itu kian meredup, menciptakan butiran- butiran kristal yang turun menyakitkan. Wanitaku menahan rindu yang menyesakkan. Pantaskah cinta yang besar itu bersandang untukku? Sedangkan aku menusuk jantungmu diam-diam.


"Sabar, ya, Ma. Papa pasti pulang. Tunggu, ya."


Wanitaku mengangguk lemah.


Akh! Aku merasa pendosa. Menyakiti hati seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku. Posisi yang dulu ditempati Aulia kini harus aku gantikan dengan sosok orang yang selalu mendukungku selama ini.


Lalu sekarang, Retno malah menjadi yang kedua?

__ADS_1


Brengsek. Itu pantas untukku sandang.


Hanya saja, sikap Aulia mendadak posesif. Membatasi ruang gerak yang sudah menjadi kesepakatan kami. Hanya dua tiga jam saja, aku hanya ingin bersama Retno dan anak-anak tapi Aulia sering merecoki dengan mendatangiku di kamar di mana biasanya aku menelepon mereka.


"Gak usah kekanak- kanakan, Aulia!" bentakku suatu ketika. Di mana aku gerah dengan sikap agresifnya yang selalu datang merayu, di saat aku sedang berkomunikasi dengan video call bersama Retno dan anak-anak.


Aku jengah


Dan aku takut ketahuan.


Terpaksa, saat aku bersama Aulia,  data selulerku sering kumatikan. Sehingga Retno tak bisa memakai video call saat meneleponku. Cuma bisa menghubungi dengan saluran biasa tanpa melihat siapa yang ada di sekitar.


Saat Retno bertanya, maka kubilang sinyal disini ....


Jelek ....


Aulia diam. Mengerucut.


"Aku bosan menunggumu!" teriaknya marah. Dengan kasar membuang muka diletakkan tangan bersedekap di dada. Aku menghela napas panjang, menyaksikan sikap Aulia yang terlalu posesif.


"Hanya dua jam," kataku penuh penekanan, "Kau sudah bosan menunggu? Bagaimana dengan mereka? Kau bisa melihatku, menyentuhku lalu mereka?"


Aulia menoleh, menatapku dengan mata penuh amarah.


"Kau lupa?" teriaknya lagi sambil memasang wajah kesal. "Aku pernah di posisi itu. Apa kamu pernah memikirkan perasaanku? "


Entah. Aku mulai merasakan Aulia seolah mau merebut posisi Retno dalam hatiku. Memperlihatkan kekuasaannya dan mengikatku lebih dalam.


"Aku tahu itu," jawabku mulai lelah. Dia terus memojokkanku pada sudut hatinya yang terluka. Tanpa memikirkan perasaan wanita lain yang ikut terluka bilamana pengkhianatan ini terbongkar.


"Maka dari itu, tolong pahami perasaan mereka. Jangan memandang Retno, tapi lihatlah dari sudut anak-anakku. Mereka butuh perhatianku. Biarkan mereka melihat Papanya walau hanya dilayar ponsel." Aku menatap Aulia dengan penuh pengharapan.


Dia diam tak menjawab, lalu melangkah pergi menuju pintu dengan raut muka bertekuk.


"Minggu depan aku ingin menemui mereka," ucapku di saat tubuh itu berada tepat di depan pintu. Tanpa menoleh ataupun mengiyakan, dia langsung pergi.

__ADS_1


__ADS_2