Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 12 Rindu Yang Menyesakkan


__ADS_3

Aulia Pov


Dari balik tirai yang terbuka sedikit, aku lihat Mas Hendra masuk dalam mobil jemputan. Tanpa menoleh sedikitpun.


Sakit. Pasti.


Tapi, siapa aku yang bisa mencegahnya pergi? Bahkan airmataku pun tidak berarti baginya.


Ya, Allah. Kenapa mencintainya bisa sesakit ini? Hati ini terus merasakan luka yang kian bernanah. Tak bisakah aku sedikit saja, merasakan dicintai yang benar-benar tulus. Sampai kapan aku harus memegang sendiri lara ini?


Aku luruh dalam tangisan sambil memegang dada yang terasa sakit terhujam. Terseok duduk di bawah jendela, ketika mobil itu sudah tak terlihat pandangan.


Kenapa airmata ini begitu mudah terjatuh karena alasan yang sama? Berkali-kali jatuh pada luka yang sama. Kenapa hati ini tak bisa kebal? Malah sakitnya terasa mencengkik.


Pantaskah aku menuntutnya untuk tetap tinggal? Sementara aku tahu, kedudukan sejati diri ini di hatinya. Hanya bayang- bayang di mana diri ini tak layak untuk dipertahankan.


Aku menjatuhkan tubuh di lantai lalu memeluk diri sendiri. Kenapa hatinya tak peka? Aku ingin lebih dimengerti. Kata-kata halus yang mampu meluluhkan hati. Mungkin akan melonggarkan erat pelukan menguasai, sedikit mengerti dengan posisi, dan membiarkan rasa mengalah menemani untuk sementara. Melepaskan tanpa ada rasa sakit yang tergores. Namun dia tak mengerti, memilih tetap pergi dengan menoreh pisau di hati.


Sudahlah.


Biarlah.

__ADS_1


Aku akan kuat menjalani, walau sakitnya aku menanggungnya sendiri.


____________________________


Aku menatap layar ponsel yang menyala terang. Di sana terlihat sosok yang aku rindukan. Tersenyum dalam diam. Mata sendu yang menyala penuh gelora. Beberapa hari mata ini tak mampu bermanja melihat kekasih hati. Sudah dua minggu berlalu, sosok itu tak kunjung datang.


Tiap aku kirim pesan selalu dibalas tanpa kata, seolah dia nggak mau waktunya yang berharga, diganggu dengan WA konyol milikku. Menyedihkan. Hanya mengirim balasan berupa gambar hati serta emot cium jauh.


Huh ...! Tak mampu membebaskan rasa yang mulai menumpuk. Memuakkan.


Salahkah aku mengungkapkan isi hatiku pada pesan itu? Tentang rindu yang terus melilit. Menjalar dan tumbuh liar di akal sehatku, tapi dia tak bisa memahami bahwa bukan hanya istrinya saja yang punya rasa sama.


Aku ingin mendengar suaranya. Suara yang saat berdesah selalu meremang pijarku dan mungkin suara itu, saat ini sedang melantun indah di telinga istrinya.


Shitt!


Aku menutup mata. Adegan- adegan nakal di ranjang yang biasanya menjadi obat penenang sebelum tidur, mencoba menggelayuti di angan. Layaknya nonton film biru di layar tiga puluh dua inchi bermain indah di memori otakku.


Aku menggigil. Bukan karena rindu, tapi rasa panas yang membakar hati. Bagaimana tidak? Bayangan itu bukanlah aku, tapi wanita lain yang menjerit indah di pelukan lelakiku.


Akhhh!

__ADS_1


Salahkah ada cemburu di hati? Aku tidak menginginkannya ada. Tapi dia hadir bersama rindu yang menyapa. Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan bayangan itu terus menari atau mematikan dengan menujukkan posisi.


Entah. Tanpa berpikir panjang, jari menekan tombol hijau di layar. Terdengar suara memanggil.


Tak ada jawaban. Satu menit ... dua menit ....


Bagaimana kalau yang mengangkat Mbak Retno? Dan bertanya siapa aku? Untuk apa menelepon suaminya sepagi ini? Aku harus menjawab apa.


Tanganku mulai menekan tombol merah, tapi tiba-tiba terdengar suara di sana.


Suara wanita.


Yang pasti itu Mbak Retno.


Aku gugup. Mendadak ludah terasa penuh di tenggorokan. Namun, kelu untuk tertelan.


[Assalamualaikum ....] suara sebrang yang terdengar kalem.


Aku diam tanpa menjawab. Hanya detakan jantung nyaring membalas salam. Tanganku terasa bergetar. Beberapa kali menelan ludah yang tak bisa juga tertelan seolah tercengkal di ujung leher. Suara itu kembali memanggil.


Astaga.

__ADS_1


__ADS_2