
Mas Hendra pov
Rumah kontrakan terlihat menghitam hanya sebagian luar nampak terang karena pantulan sinar bulan. Tak ada siapapun di dalam bahkan rumah tak ada satupun ruang yang terlihat terang.
Kemana Aulia? Sampai semalam ini dia belum juga pulang ?
Aku mencari kunci cadangan yang berada dalam koper. Aku pengen masuk rumah dan merebahkan diri. Entah. Tubuhku mendadak terasa capek hingga ke sendi- sendi. Saat pintu terbuka, tubuh ini segera melesat masuk dengan menyeret koper dan membuangnya asal.
Kucoba membuka pesan Wa. Tidak ada pesan yang masuk bahkan panggilan tak terjawab. Ini berarti Retno benar-benar mulai curiga tentang pernikahan rahasia ini. Biasanya dia akan meminta maaf setelah melihat kemarahan atas kecurigaannya. Lalu berlari memelukku, merayu dan memanjakan birahi. Bahkan saat aku pergi dia tak menatapku sama sekali, terus menunduk.
Hanya saja kalimat terakhirnya terus memenuhi otak dan membuat kepala berat. Apakah aku harus yang meredam amarah Retno? Bukannya dia yang akan selalu mengalah. Iya. Aku harus bertahan pada posisi ini supaya Retno tahu aku tidak mau terus dicurigai. Namun, bukankah itu benar adanya, kalau aku memang benar-benar selingkuh.
Argh!
Aku membanting badan ke tempat tidur. Lelah sudah badan dan pikiran. Rasanya ingin sekali jujur dan menceritakan apa adanya. Tapi maukah Retno tetap bertahan? Tanpa harus meninggalkan sesuatu yang sudah di gengam.
Saat aku mulai memejamkan mata terdengar suara deru knalpot sepeda montor besar. Itu pasti seorang pria. Dan mungkin dia bersama Aulia.
Aku bergerak menuju jendela yang menghadap pintu gerbang. Kusikap tirai itu sedikit. Dari sini, aku bisa melihat, wanita yang selama ini aku pertahankan di atas kesempurnaan kebahagiaan keluargaku sedang bercakap mesra dengan seorang pria. Inikah karmaku? Pengkhianatan dibalas pengkhianatan juga.
Darahku mendadak berdesir kencang laksana aliran listrik berdaya 500 watt. Panas. Meletup- letup. Terasa berdenyut hingga ke ubun - ubun.
Aku sengaja menyalakan lampu ruang tengah saat kudengar Aulia menggeser pintu gerbang.
Aku berjalan menuju pintu depan dan membukanya.
"Oh ... jadi ini kelakuan kamu kalau aku tidak dirumah."
Mata sipit itu terlihat melebar. Bukan rasa takut yang aku lihat dari rautnya, tapi rasa gembira. Tubuh tinggi dengan dada yang cukup eksotis bikin meleleh menerjang merangkulku. Menekan dadanya kuat-kuat masuk dalam pelukan. Kebiasaan gadis ini saat melihat kedatanganku, seperti yang dilakukannya sewaktu di Surabaya.
Aku melepaskan tangan yang melilit itu dengan kasar.
"Dari mana saja kamu? Semalam ini baru pulang?" tanyaku dengan suara tinggi. Aulia nampak terkejut mendengar nada bicaraku yang tak biasanya. Aku menghentakkan tangan Aulia yang mencoba menggelayut di bahu, tapi tangan itu malah mencengkeram, menautkan jemarinya di jari-jari.
"Tidak seperti yang Mas pikirkan!" kata Aulia mencoba menenangkan emosi yang memenuhi otak.
__ADS_1
"Emang apa yang ada dipikiranku? Lalu pantas tidak wanita bersuami pulang malam dengan diantar seorang pria?"
Aulia diam hanya mata sipit itu sedikit melebar. Saat tangannya, aku sentakkan kasar. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Tak ada pergerakan dari Aulia untuk menyusul. Dia tetap berdiri di sana dengan pikirannya. Aku berjalan melewati ruang tengah menuju ruang makan yang jadi satu dengan ruang dapur.
Aku memecet tombol lampu ditembok, mendorong kursi ke belakang dan mendaratkan bokong di sana. Perut mendadak berbunyi riuh. Hanya ada roti dan selai. Sepertinya Aulia tak memasak hari ini. Payah. Padahal aku berharap di rumah ada makanan. Aulia memang tak pandai memasak seperti halnya Retno. Retno jago memasak dan membuat segala jenis kue. Dulu sebelum kelahiran Rara, Retno pernah membuka toko kue. Lumayan banyak pembeli bahkan memesan jauh-jauh hari saat menjelang hari raya.
Aku mengambil selembar roti dan mengoleskan selai diatasnya.
"Mas marah, ya?" tanya Aulia tiba-tiba di belakang merangkulkan tangan di leher dan mendaratkan beberapa ciuman di tengkuk. "Aku gak sengaja ketemu. Dia teman baikku di Surabaya dulu."
Aku diam tidak menanggapi. Hanya terus memasukan roti ke mulut, menguyah perlahan dengan pikiran masih tentang kemarahan Retno. Aulia menggeser kursi di sebelah dan mendudukinya.
"Mas sakit ...?" tanyanya yang heran dengan sikap diamku. Aku menggeleng tanpa menoleh.
"Aku pesankan pizza, ya, atau aku pijitin di kamar," tawar Aulia. Aku masih menjawab dengan gelengan kepala. Aulia diam. Terus mengamati wajahku dari samping.
"Mas, bertengkar dengan Mbak Retno gara-gara telepon tadi?" tanya Aulia lirih hampir tak terdengar. Ada rasa bersalah dari nada suaranya.
Aku menoleh, menatap tajam bola matanya. Aulia tercekat. Raut wajah berubah memelas.
"Kamu puas sekarang!" ucapku sedikit keras. "Kamu ingin menunjukkan posisi, dan sekarang sudah terwujud ...."
"Bukan seperti itu inginku!" sanggah Aulia mencengkeram bahuku. Aku memalingkan muka. Mengembuskan napas yang terasa menyesakkan.
"Aku lelah ...," ucapku lirih. Menyandarkan punggung di badan kursi.
"Maksud ... Mas?" Aulia nampak terkejut. "Lelah ... Apa? Jangan bilang karena pernikahan ini?"
Aku diam. Memejamkan mataku yang memang sudah lelah.
"Sudahlah kita akhiri pembicaraan ini," ucapku mencoba berdiri tetapi tertahan tangan Aulia yang mencekal lengan.
"Mas mau meninggalkan aku?" tanya Aulia dengan nada penuh penekanan. Mata sipit itu mengobarkan api. Aulia mengoyahkan bahu dan menjatuhkan kepalanya. Menangis dengan suara melengking.
Aku diam. Mendengar pertanyaan Aulia barusan. Tidak ada pikiran untuk meninggalkan wanita yang kunikahi diam-diam. Bagaimana pun kelak terjadi? Walau pernikahan ini kelak bakal terbongkar dan Retno memilih pergi.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku menghancurkan hidup wanita baik-baik hanya karena pasangan lain tak bisa bertahan? Aku sudah membawa masuk Aulia dalam kehidupan, lalu menendang saat semua sudah usai. Berarti aku sama halnya mereka yang pengecut. Membeli wanita hanya karena kesenangan semata. Lalu apa bedanya aku? Hanya saja aku bungkus nafsu itu dengan pernikahan siri. Kalau seperti itu. Bukankah sama saja. Setelah usai, maka pernikahanpun akan berakhir. Entah karena bosan atau karena ketahuan pasangan pertama.
Walau aku tahu, kesalahanku mengkhianati seorang istri yang begitu tulus mencintai, tidak bisa dimaafkan, dan aku hanya bisa menunggu hukuman itu. Entah. Kapan saatnya itu datang? Aku juga tak sanggup untuk melepaskan kepergian Retno kelak. Membayangkan saja aku begitu sesak.
Tiba-tiba Aulia meraih gelas di depan. Memukulnya keras ke meja lalu menodongkan ke arah nadi di tangannya.
"Aulia, apa yang kamu lakukan?" teriakku
Aku terkejut bukan main. Segera aku memegang lengannya dengan pelan. Namun tangan itu menampik keras, bahkan mendorong tubuhku sampai terhuyung ke belakang beberapa langkah. Hingga kursi yang tadi kududuki tercengkal jatuh.
"Mas ingin meninggalkan aku' kan?" teriaknya penuh emosi. Menacapkan ujung runcing gelas ke arah pergelangan tangannya.
Ada satu darah menetes pelan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Aulia," kataku gemetar ketakutan melihat sikap Aulia yang di luar perkiraan.
"Bohong!" teriaknya makin menekan benda tajam itu ke nadinya.
Darah mengucur deras.
Aku bingung. Tangan menjambak rambut kasar lalu memukul kepala sendiri dengan tangan. Otak sudah berdenyut karena pusing di tambah pukulan. Rasanya hampir meledak.
Brengsek.
"Aulia ... aku mohon jangan lakukan hal bodoh."
"Mas ingin pergi' kan!" teriak Aulia menepis tangan yang hendak merampas benda itu. Malah puing gelas yang pecah itu ditodong ke arahku.
"Aku lebih baik mati daripada harus kehilangan Mas."
Bunyi kursi yang terdorong oleh tubuhnya yang berjalan mundur membuat hatiku makin teriris. Darah yang keluar dari tangannya seperti baju basah yang dijemur.
Tes. Tes. Tes. Mengucur cepat jatuh di lantai.
Ya ... Allah, Apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1