Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 15 Ketemu Mantan


__ADS_3

Pov Aulia


Astaga.


Aku begitu gemetaran hingga lupa semua kata-kata. Hanya bisa mengigit bibir tanpa bisa membalas salam dari wanita itu. Oh, Tuhan ... apa yang harus aku lakukan? Terus atau tutup.


[Hallo ...]


[Wa'alaikummussalam.] Akhirnya salam itu meluncur cepat dari mulut, walau sangat lirih.


[Pak Hendra ada?] tanyaku. Kutahan perasaan takut, mencoba bersikap senetral mungkin. Namun, detakan jantung malah kian menjerat leherku. Membuatku sesak.


[Ibu terdengar panik, Apa ada masalah?]


Glek.


Dia menyadari rasa gugupku.


[Ada masalah di proyek?] tanyanya lagi. Suaranya terdengar begitu lembut tetapi sangat tegas. Mendengar suaranya saja, aku ketakutan apalagi kelak bila bertatap muka. Apa jadinya aku? Aku harap kelak bahwa aku tidak terlihat memalukan, pingsan contohnya.


[Iya ....] jawabku cepat. [ Boleh bicara dengan Pak Hendra?]


Terdengar suara deheman di sebrang, suara yang kurindukan. Menunjukkan Mas Hendra berada tak jauh dari Mbak Retno, kemudian diam hanya terdengar angin. Lama.


Mungkin Mas Hendra menjauh. Yang ada hanya suara napas tertahan dan kasar dihempaskan.

__ADS_1


[Kau ....] suara itu terdengar memekik pelan.[ kau benar-benar keterlaluan, Aulia.]


Aku menggigit bibir bawah, mendengar suara Mas Hendra yang sedang marah.


Entah. Seberapa menakutkan wajah itu sekarang.


Namun, saat aku mendengar suara itu, rasa takut hilang berganti rasa lega, seolah rindu yang memupuk terbang terganti senyum kegirangan. Walau hanya suara saja hatiku penuh bunga.


[Pulang ...!] perintahku penuh penekanan.


[Iya. Aku pulang tapi tidak hari ini ....]


Tiba-tiba suara Mbak Retno mendekat seolah mulai curiga tentang keberadaanku. Mas Hendra terdengar berdehem beberapa kali seperti panik.


... Oh, iya, Bu. Besok akan aku suruh anak buahku ke sana. Lokasi mana yang rusak, Bu.


Penipu.


Pantas mendapatkan piagam oscar karena actingnya yang menipu istrinya. Sementara aku hanya diam mengikuti alur permainannya.


... Iya, Bu. Di bundaran taman. Ok. Bu. Iya ... Walaikummusaalam.]


Lalu dimatikan.


Aku menghela napas panjang. Memegang dada yang terasa sakit.

__ADS_1


Sakit.


Tidak diakui keberadaannya.


Entah. Sampai kapan akan berakhir. Aku sudah lelah terus sembunyi.


____________________________


Terasa penat dirumah, aku mencoba untuk menghabiskan waktu di sebuah mall di dekat rumah kontrakan. Hanya memakai taksi online dengan waktu cuma sepuluh menit sudah sampai di tempat. Tak ada kata macet di sini. Cuma waktu banjir saja, macetnya mengalahkan arus mudik karena kondisi jalan banyak berlubang serta kemiringannya tak rata. Jadi sebelah jalan hampir bisa dikatakan tenggelam bila naik sepeda motor.


Sesampai di lantai dua, ketika kakiku mulai mendaratkan ke ubin. Tiba-tiba tanganku seperti terpeleset di pegangan eksculator. Aku benar- benar seperti mau meloncat ke lantai satu. Tubuhku terasa ditarik seseorang ke belakang.


Rasanya badanku gemeteran. Saking takutnya aku lunglai tanpa tulang. Duduk selonjoran kayak pengemis dijalanan.


"Gak apa-apa, Mbak?" tanya orang yang sudah menolongku. Memberi sebotol air mineral yang sudah terbuka segelnya. Aku menerima lalu meminum air itu kayak kesetanan.


"Uhuk!uhuk!" Saking tergesa hingga tenggorokan tak muat untuk dimasuki lagi.


"Pelan-pelan, Mbak," ucapnya lagi. Suara itu terasa tidak asing lagi dengan pendengaranku, seolah pernah mendengar bahkan merasa sangat dekat.


Aku mengerutkan dahi. Mengingat-ingat siapa pemilik suara itu. Akh! Lupa. Akhirnya sedikit berani, aku mendongakkan kepala melihat orang yang berdiri di depan.


Astaga. Dia Ramon. Temen dekatku semasa awal kami dipertemukan di Surabaya.


"Ray!" sapaku. Orang yang kupanggil namanya itu melebarkan matanya.

__ADS_1


Maaf, ada yang saya mau tanyakan? Kenapa pemasukan(Rp) saya tidak bertambah? Mohon bantuannya. Terima kasih.


__ADS_2