Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 11 Menawarkan Diri


__ADS_3

Pov Aulia


Aku menatap pintu berdaun jati dengan hati tersisih. Ku aduk gelas berisi teh hangat dengan mata berpeluh tangis. Di dalam kamar itu, Mas Hendra sedang bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya. Terdengar suara Mas Hendra tertawa lepas saat anak-anaknya bertengkar merebutkan ponsel di tangan ibunya. Tawa yang tak pernah kulihat saat bersamaku. Tapi begitu mudah keluar saat bersama keluarganya.


Aku merasa tersisih. Aku kira saat mengiyakan untuk mengikutinya ke kalimantan, aku akan merasa memiliki dia seutuhnya, berharap dia akan mulai meninggalkan keluarganya dan menjadikanku istri satu-satunya. Tapi ternyata aku di sini hanyalah tetap yang kedua.


Seharian dia berada di proyek setelah pulang bekerja. Bukannya memeluk, beromatisan denganku malah dia akan mendekam di kamar itu hingga larut malam. Walau kadang sesekali dia menghampiri dan bermanja denganku, tapi setelah ponsel itu berdering, dia akan meninggalkanku sendirian dengan hati yang berdarah.


Lalu apa gunanya aku di sini? Ada tapi tak dianggap ada. Menyedihkan. Lebih menyakitkan dari menunggunya berkunjung.


Tak bisa menuntut. Karena itu permintaaannya sebelum ke sini memboyongku sebulan yang lalu.


"Izinkan aku menemui istri dan anak-anakku sebulan sekali. Hanya seminggu setelah itu, aku akan ke sini lagi bersamamu."


Sebuah permintaan yang seharusnya dikatakan dia pada istrinya untukku. Tapi sebaliknya, dia yang memohon untuk menemui istrinya yang jelas sah. Rasanya aku ingin tertawa. Posisi yang dulu aku rasakan kini berganti. Hanya saja sakitnya tetap aku yang rasakan. Memilukan.


Aku mengambil ponsel dan mencari kontak nama bertuliskan Laila.


[Hai]

__ADS_1


Sapaku. Terkirim. Awal pembicaraan kami setelah kejadian kemarin. Tidak menunggu lama cetang pesan WA itu sudah berubah warna. Mungkin dia sedang bermain ponsel sehingga dia segera tahu pesanku pada ponselnya.


[Kenapa dikacangin ya?.] dengan emot senyum tertawa.


'Brengsek' gumanku dalam hati. Pengen kulempar benda persegi yang kupegang ke arah mukanya. Sadar. Bahwa kami komunikasi lewat pesan. Akhirnya aku hanya bisa mengempalkan tangan dan mendaratkan pada meja.


[Apa yang kubilang? Kita cuma yang kedua. Dan hello....jangan lupa suamimu masih tetap mengutamakan istrinya.]


[Sok tahu!]balasku dengan emot marah


[Taulah! Sekarang dia asyik menelepon istrinya kan]


Kayak dukun aja. Aku tak membalas , membiarkan ponsel itu padam dan tergeletak lemah di hadapan. Lalu sebuah pesan masuk dengan nama yang sama.


Mendadak ada pikiran ingin tahu caranya. Cara seorang Laila yang mempertahankan posisi dimata suami sirinya. Lalu tanganku dengan lancang menuliskan sesuatu.


[Caranya?]


Entah apa yang membikin aku penasaran. Badanku mendadak berdebar. Menanti balasan.

__ADS_1


Klunting


Deg!


Kubuka pelan.


[Kamu harus lebih agresif. Saat dia menelepon istrinya, kamu harus maju menawarkan diri]


Glek!


Maksudnya....menawarkan diri.


________________________


Entah karena ide gila dari Laila atau memang otakku sudah kongslet. Disini, didepan pintu kamar yang ditempati Mas Hendra untuk menelepon istrinya. Aku berdiri dengan aduhai. Memakai lingerie pink muda dengan parfum yang menggoda. Membangunkan sesuatu yang berkerjab- kerjab. Kulihat wajah Mas Hendra yang asyik bervideo call itu nampak terkejut dengan kedatanganku. Matanya membelalak dengan mulut menganga.


Kudengar suara Mbak Retno memanggil. Sementara Mas Hendra mendadak gugup.


"Kenapa, Pa?"tanya Mbak Retno di sebrang.

__ADS_1


Aku tersenyum genit. Merangkak perlahan ke arah Mas Hendra yang bersandar di ranjang. Mas Hendra terlihat makin gugup. Wajahnya seperti maling yang takut ketangkap basah.


"Gak tau nih, kenapa tiba-tiba perutku kok mules...."


__ADS_2