Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 16 Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Aulia Pov


Astaga. Dia Ramon. Temen dekatku semasa awal kami dipertemukan di Surabaya.


"Ray!" sapaku. Orang yang kupanggil namanya itu melebarkan matanya.


"Aya ... Aulia'kan?" sambar Ramon cepat. Lalu mengulurkan tangan menolongku untuk berdiri, "Kenapa ada di sini? Kamu kerja di sini tho."


Aku tersenyum mendengar semua pertanyaannya. Ramon, masih sama seperti dulu. Baik dan pengertian. Terlihat dari caranya menolong tanpa harus tahu siapa orangnya.


"Aku ikut suami," jawabku. Mendadak wajah Ramon terlihat muram.


"Kau sudah menikah?" tanya Ramon lirih.


"Ya, tepatnya delapan bulan yang lalu," jelasku. Mataku mengelilingi sekitar. Aku ingat, enam tahun yang lalu mendapatkan kabar tentang pernikahan Ramon. Namun, tak ada sesosok perempuan mendekati kami.


"Mana istrimu?" tanyaku penasaran.


Yang ditanyai malah diam. Lalu melangkah ke arah pagar pembatas lantai. Aku mengikuti langkah itu.


"Dia pergi bersama pria lain," jawabnya pelan. Tangannya menumpu pada besi pagar pembatas. Wajahnya menunduk menatap orang-orang yang berada di bawah lantai satu. Aku merasakan kesedihan di pancaran matanya, walau dia berusaha menyembunyikan lara itu, aku tahu, dia sangatlah terpukul.


"Kenapa?" tanyaku lancang. Menyadari kekeliruan, segera aku menutup mulut. "Maaf ... aku tidak bermaksud mengingatkanmu."


Ramon menoleh lalu berusaha tersenyum.


"Tidak apa-apa. Itu cerita lama. Sekarang yang penting, bagaimana caraku memberi kebahagian pada Rizal."

__ADS_1


"Rizal?" tanyaku. Ramon mengangguk.


"Seorang anak laki-laki yang tampan," ucapnya tertawa. Ada binar bahagia di mata bulat itu. Terlihat senyum yang tak pernah berhenti saat mengucapkannya.


"Pasti sangat tampan seperti ayahnya," ujarku. Dia tersenyum lebar, membuat lubang kecil di sudut bibirnya. Manis. "Lalu sekarang dia di mana?"


"Di Jawa. Aku titipkan ibu bapakku. Tidak memungkin aku bawa ke sini. Waktuku lebih banyak di lokasi pekerjaan membuat aku tak punya banyak waktu mengurusnya."


Aku jadi membayangkan, bagaimana repotnya mengurus anak sendirian? Apakah begitu berat? Akh, tetiba kilasan wajah Mbak Retno menguasai. Peluh keringat mengucur deras tanpa ada yang membantu.


"Di mana suamimu?" pertanyaan Ramon menyadarkan aku dari lamunan. Akh! Tidak mungkin aku akan bercerita tentang kenyataan sebenarnya, kalau sekarang suamiku sedang di istri pertamanya.


"Kerja," jawabku berbohong. Tidak mungkin kan, aku bilang dia sekarang berada di rumah istri tua. Pasti Raymon bakal menuduh aku jadi perebutan suami orang. Biarpun itu kenyataan, tapi aku tidak ingin ada yang mengetahui kebenarannya. Semua orang yang kukenal harus tahu, aku adalah istri pertama dan satu-satunya.


Dekat lagi dengan Raymon, aku jadi teringat kejadian yang lalu. Kemudian tanpa sadar kami mulai bercerita lagi mengungkit masalalu bersama. Dia, mantanku. Saat kami masih sama-sama bekerja di satu mall yang sama, hanya berbeda toko saja. Kami sudah menjalin hubungan serius. Sayangnya, saat Raymon mengajak menikah, aku lebih memilih putus darinya. Karena aku masih punya tanggung jawab membiayai sekolah kedua adikku. Saat pernikahan terjalin, bukankah kita sudah pasti akan lebih fokus pada keluarga sendiri dan pastinya, kita akan mengorbankan tanggung jawab yang telah terpikul berganti tanggung jawab yang lain.


Raymon dikabarkan dari salah satu temanku menikah. Dia dijodohkan oleh ibunya di desa. Entah, saat itu aku merasa menjadi wanita yang bodoh. Bahkan menyalahkan diri sendiri hingga tak ingin lagi menjalin hubungan dengan pria lagi.


Aku yang shock atas berita Raymon menikah, menangis sejadi-jadinya di pinggiran jembatan sebuah perumahan yang baru saja di bangun. Tempat kontrakku memang melewati jembatan itu, karena tak ingin teman-teman pada tahu yang sebenarnya, kalau saat itu aku masih memiliki perasaan terhadap Raymon.


Di sinilah pertemuanku dengan Mas Hendra bermula. Mas Hendra yang berjalan kaki keluar dari dalam perumahan melewati jembatan, tepat di tempat aku menangis. Saat itu lampu hanya berada di ujung jalan, sehingga di tengah terlihat gelap apalagi ada sebuah pohon besar yang bernaung di sisi luar jembatan.


Sempat terkejut, mendengar suara tangis seorang wanita. Mas Hendra berteriak menanyakan siapa. Tentu saja, aku langsung terdiam dan berdiri tiba-tiba di depannya. Melihatku, Mas Hendra tergagap, takut.


"Siapa?" Mas Hendra berjalan mundur. Perasaanku yang tadi sedih mendadak ingin tertawa ketika Mas Hendra mencoba lari tanpa melihat ke belakang lagi. Kemudian kami dipertemukan lagi, di saat beliau tengah berkunjung di counter, tempat aku bekerja. Di situlah awal kedekatan yang seharusnya tak pernah terjadi.


Pertama kali melihat, aku hanya menertawakan dia atas kejadian di jembatan. Dia hanya tersenyum menyembunyikan rasa malu, lalu kelamaan dia selalu mengamati dengan diam. Sering menunggu di ujung jembatan ketika berangkat dan pulang kerjaku.

__ADS_1


Awalnya, aku risih dengan sikapnya yang selalu mengamati. Karena dari awal, dia sudah memberitahu bahwa dia telah beristri. Namun, rasa ini tiba-tiba saja datang, menelusup ke dada saat tempatnya berdiri kosong. Rindu melihat senyumnya. Rindu saat dia berjalan di sampingku tanpa kata.


Mas Hendra bukanlah tipekal cowok petakilan. Dia jarang bicara, tapi saat suara itu keluar, akan terlihat banyak keromantisan dalam kalimatnya. Perhatian dan bantuan dia akan semua masalah yang aku alami, membuat hati ini luluh seketika. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah pembuktian. Aku melihat betapa dia sungguh-sungguh ingin menjadikan aku bagian dari hidupnya.


Dan aku menyerah untuk menolak kehadirannya. Ya, aku mulai jatuh cinta dan menyandarkan hidup padanya. Walaupun, aku tahu benar. Siapa Mas Hendra?


_______________


"Makasih ya, atas makan malamnya, " ucapku. Saat turun di atas jok belakang kawasaki miliknya. Ramon mengangguk pelan. Memandangi rumah kontrakan yang gelap karena lampu rumah belum dinyalakan. Bi Munah pasti sudah pulang dari tadi sore. Biasanya perempuan itu hanya akan membersihkan rumah hanya waktu di siang hari saja. Setelah selesai dia akan berpamitan untuk pulang.


"Suamimu belum pulang?" tanya Ramon membuka kaca helm teropong miliknya. Dia masih duduk di atas sepeda. Aku tersenyum, mengiyakan.


"Belum, tapi jangan mampir, ya. Aku takut tetangga pada salah paham," jawabku sedikit takut kalau Ramon bakal tersinggung.


"Iya, aku pulang dulu, ya." pamitnya sambil menutup kaca helm miliknya. Namun, tiba-tiba di urungkannya, lalu beralih lagi ke arahku. "Nomer kamu masih sama'kan?"


Aku mengangguk pelan. Dia tersenyum lalu membawa kendaraannya meluncur pergi.


Akh ... Kakiku terasa enggan untuk melangkah masuk ke dalam. Sendiri itu menyakitkan dan jenuh.


Dilihat dari teras, ruang tengah rumah nampak terang. Padahal seingatku, lampu semua padam.


Apa mungkin Bi Munah yang menyalakan? Atau jangan- jangan ....


Krek. Tiba-tiba pintu depan terbuka.


"Oh ... Jadi seperti ini kelakuan kamu kalau aku tidak dirumah!" Ucapan seseorang dengan suara agak melengking dari bilik pintu yang baru dibuka dari dalam

__ADS_1


__ADS_2