Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 5 Milikku


__ADS_3

Pov Aulia


"Kalau Mbak Retno menyuruh, memilih antara aku dan dia, Siapa yang kau pilih, Mas?"


Mas Hendra kembali mengerutkan dahi. Melepas perlahan pegangan lalu berpaling menghadap ke arah lain. Kembali memunggungiku.


"Aku tak ingin melepasmu, Aulia." Mas Hendra berhenti sejenak, mengembuskan napas yang amat panjang lalu menggigit bibir bawahnya. Tapi aku juga tetap menginginkan Retno tetap berada pada posisinya."


Aku tercekat. Rasanya hati ditinju dengan keras lalu dinjak -injak. Remuk. Sudah jelas, aku takkan bisa menyamai kedudukan Mbak Retno. Siapalah aku hanya wanita kedua?. Akan tetap menjadi yang kedua. Dan berharap bisa merebut posisi Mbak Retno. Mimpi kamu,Aulia.


"Serakah kamu, Mas!" pekikku dengan tangis tertahan. Aku merasa kalah dengan hati yang kembali rapuh. Patutkah aku menangisi takdirku? Menuntut sesuatu yang memang jelas bukan milikku. Aku merasa kalah. Ternyata orang yang ingin aku singkirkan, kedudukannya sudah mengakar kuat .


Lalu apa aku harus membiarkan diriku terus tersakiti. Menunggu kehampaan. Kepastian yang jelas sudah ada jawaban tanpa harus bertanya.  Tidak ! Aku tidak mau terus menyakiti diri sendiri. Aku juga berhak menuntutnya, bukan hanya Mbak Retno saja. Aku juga istrinya, walau hanya nikah siri. Bagi Allah, sudah sah di mataNya.


Aku menarik kaki masuk ke dalam tubuh, melingkarkan tangan pada keduanya, membiarkan dahi menyentuh dengkul, lalu lepas sudah airmata yang bersorak kembali turun. Sesak. Penyesalan kembali datang.


Aku kira, aku bisa menjalani takdir sebagai wanita kedua. Ternyata aku salah. Membagi cinta dengan wanita lain, rasanya sangat sakit. Dan aku menyerah.


"Terserah ... yang jelas, aku butuh kepastian. Mas harus memilih antara aku dan Mbak Retno," tuntutku dengan wajah terbenam di paha. Ingin rasanya bibir ini berteriak lantang. Sekeras mungkin supaya sesak menjadi hilang. Sebab aku tahu, siapa sejatinya pemenang itu? Siapa yang patut untuk dipilih dan ditinggalkan. Aku tahu.


Mas Hendra diam. Menarik tubuh untuk berdiri. Terdengar suara ponsel berdering di dalam saku kemeja berwarna coklat muda yang dipakainya. Tidak diangkat ponsel itu. Biasanya dia akan mengisyaratkan telunjuk ke mulut , saat tahu pemilik penelepon. Apakah dia mulai menghargai perasaanku? Entahlah ....


"Kita shalat istiqorah dulu, entar malam. Karena kita harus melibatkan Allah untuk keputusan besar ini. Setelah itu, aku akan menerima keputusanmu. Bertahan atau meninggalkan." 

__ADS_1


Terdengar suara langkah Mas Hendra menuju pintu, lalu berhenti. Aku menarik wajah mencoba menatap lelaki pemilik hati. Mata sendu miliknya melihatku dengan penuh kesedihan. Setetes airmata jatuh mewakili hatinya yang berdarah.


Aku tersikap. Melihat airmata itu jatuh tanpa perlawanan. Mas Hendraku menangis. Entah, airmata itu untuk siapa? 


"Apapun keputusanmu, kau harus tau! Aulia. Aku benar- benar mencintaimu. "


           ______________________________


Suara deting sendok yang beradu pada  piring kini menjadi lagu favorit di tiga hari ini. Mas Hendra hanya diam, menatapku tanpa ada kata. Tak ada bisikan cinta yang biasa selalu dia lontarkan. Kecupan kecil sukses bikin hasrat  melambung. Sentuhan lembut yang nyaris bikin aku kewalahan untuk melupakan disaat waktu berkunjung habis.


Tak ada, aku merindukan perilakunya. Hatiku begitu sesak. Entah! Ada sesuatu yang kosong, serasa hilang entah kemana.  Berada dalam satu ranjang, tapi hati melayang terbang ke arah lain. Tak ada pelukan hangat, ciuman liar yang menghipnotis. Hanya ada hati yang sekarat dipenuhi rindu. Aku menginginkannya, perlakuan yang membuatku gila.


Cinta ini membuatku merasa lemah. Ingin menjadi satu-satunya , namun apa daya tempat itu sudah di huni wanita lain. Sisa sedikit ruang kosong yang ditawarkan tapi membuat hatiku pengap, kehabisan oksigen.


Bisakah aku berlari? Sementara hati tertinggal digenggamannya. Mampukah aku melupakan dan mencari pengganti? Sedangkan hati dan pikiran sudah terpatri namanya. Hatiku nelangsa. Inilah takdir yang ku tulis sendiri. Pada akhirnya, aku menyerah atas nama cinta.


"Apa keputusanmu, sekarang?" tanya Mas Hendra memecah keheningan yang tercipta. Aku masih diam, menatap nasi kuning makanan favorit pria kesayangan. Mempermainkan bulir-bulir itu dengan menggeseknya kesana kemari tanpa ada selera memasukkannya ke mulut. Sebenarnya cacing di perut sudah menari sejak tadi, tapi apa daya, mulut enggan kompromi.


Aku mendongak. Memberanikan diri menata pria pujaan hati. Dada berdesir hangat saat pria itu melemparkan senyum. Ada banyak cinta disana. Dan juga disini, dihatiku , terus menyebut namanya. Ingin segera aku berlari menyongsong dada tegap itu. Seperti yang sering aku lakukan, saat mengetahui dia berada di depan pintu untuk berkunjung beberapa hari.


Aku begitu rindu. Rindu. Oh ... Tuhan. Bolehkah aku memiliki pria itu walau hanya beberapa hari. Waktu yang dia sisihkan untuk menemui. Walau, di sana ada seorang wanita menunggu kepulangannya.


"Di sinilah beberapa hari lagi," ucapku akhirnya. Mas Hendra mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Untuk?"


"Untuk menebus tiga hari kita yang berlalu," jawabku ragu-ragu tanpa melihat bola mata itu yang terus mengawasi.


Ah! Rasanya saat kata-kata itu terlontar ada rasa lega, ada juga rasa menyesal. Tapi cinta ini mengalahkan rasa yang ada, bahkan logika dan perasaan bahwa ada perempuan lain yang bakal terluka 


Mas Hendra melebarkan matanya, menatapku penuh kegirangan.


"Berarti?"


Aku mengangguk lalu tersenyum, menyakinkan. Mas Hendra dengan tergesa, melangkah cepat ke arahku. Dipegang pinggul, ditarik ke atas kemudian diputarnya badanku.


Lihat! Pria itu terlonjak senang. Tawanya seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan. Diputar tubuhku berulang kali.


"Aow!" pekikku. Tiba-tiba kakiku merasa sakit terhantam sesuatu. Mas Hendra terkejut, segera diturunkanya tubuh .


"Maaf," ucapnya sendu sambil berjongkok melihat kakiku yang memerah, diusap lembut. Aku tersenyum. Lelakiku.


"Aku mencintaimu, Mas," ucapku lirih. Mas Hendra beralih menatapku. Dia mengangkat badannya menyetarai tinggi tubuh. Wajah dengan dagu terbelah itu menatapku lekat- lekat. Deru nafasnya menyapu wajahku. Mata penuh hasrat yang kurindukan tiga hari ini melihatku penuh dengan kebahagiaan.


Mas Hendra menyapu bersih jarak. Bibir itu mengecup pelan. Lama. Lalu beralih di kening, di kedua mata turun kembali ke bibir.


Aku menutup mata saat deru napasnya menyapu telinga. Setruman listrik berdaya besar menjalar cepat, membangkitkan sesuatu yang bergejolak hebat. "Terima kasih," bisiknya lembut.

__ADS_1


Aku merasakan tubuh terayun pelan. Dada yang dipenuhi bulu lembut itu sudah diantara wajah. Dan aku suka. Pelukan hangat yang kurindukan tiga hari ini, kini bisa terasakan lagi. Kakinya berjalan menuju kamar dengan tubuh dalam gendongan. Saat ini aku hanya ingin kamu, Mas. Hanya kamu.


Kamu milikku, Mas.


__ADS_2