Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 10 Istri satu-satunya


__ADS_3

Aulia Pov


Mas Hendra menghempaskan tubuhnya di samping. Keringat dingin membanjiri setiap inchi tubuhnya. Dipeluk tubuhku yang tak memakai sehelai benang. Ditenggelamkan wajah bergeraham keras itu di leher. Embusan napas itu menggelitik, menciptakan sensasi liar.


"Aku ingin anak darimu."


Mas Hendra menjauhkan mukanya lalu menatapku dengan dahi berkerut. "Maksudnya ...?"


Aku menarik selimut di bawah kaki untuk menutupi separuh badan. Mas Hendra meraih celana boster selutut dan kaos oblong tanpa lengan, yang berada di tepi ranjang, dipakai segera di atas tempat tidur.


"Bukannya kamu yang tidak menginginkan itu?" tanya Mas Hendra duduk ditepi spingbed berwarna merah hati. Di raih ponsel dan jari-jarinya mulai menulis sesuatu. Entah ... Dia berbalas pesan dengan siapa. Mungkin Mbak Retno atau pegawai proyeknya.


Bukannya tidak menginginkan. Dulu, karena aku terlalu naif. Sebelum aku tahu, berbagi itu menyakitkan. Terlebih tak diakui.


"Sekarang aku menginginkannya," tegasku memegang selimut menutupi badan dan mulai mengangkat tubuh untuk duduk. Mas Hendra menatapku tajam. Lama dengan pikirannya yang tak bisa kupahami.


Teringat pembicaraanku dengan Laila tempo kemarin.

__ADS_1


"Kalau memang benar dia mencintaimu, kau harus punya seorang anak darinya. Agar saat dia mau pergi, dia akan terikat dengan anak itu," kata Laila menepuk bahu pelan. Itu kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum pergi.


Sebuah pernikahan akan bertahan kalau ada yang mengikat lebih dalam. Yaitu keturunan. Saat bosan melanda atau pernikahan ini mulai terbongkar. Mas Hendra akan berfikir dua kali bila ingin meninggalkanku.


Bukankah Mas Hendra sangat menyanyangi anak-anaknya? Dia tak ingin berpisah dengan Mbak Retno, bukankah karena tak ingin kehilangan buah hatinya? Secara hukum pasti Mbak Retno lah yang kelak mendapatkan hak asuh mereka. Selain rasa cintanya pasti itu juga alasan utamanya.


Jadi bila aku mempunyai anak darinya. Itu akan memperkokoh jalinan kami. Aku melirik tajam Mas Hendra yang masih duduk memunggungi dengan masih memegang ponsel.


"Apa Mas tak menginginkan anak dari rahimku?"


Mas Hendra menatapku. Lama. Kornea bermata coklat itu sedikit membesar. Sejenak kami beradu pandang. Lalu membuang napas panjang, berpaling kearah lain.


"Karena Mas selalu membuangnya di luar," jawabku sedikit berteriak. Ada rasa kesal saat dia pura-pura tidak tahu. Mas Hendra menaruh ponsel itu yang masih bergetar di atas meja samping tidur.


"Bukankah itu kesepakatan kamu, sebelum Retno menyetujui pernikahan ini , kau tidak ingin hamil."


"Tapi sampai kapan ... sampai Mas bosan dan meninggalkanku."

__ADS_1


Mas Hendra mengusap wajahnya kasar. Entah, karena kata-kataku atau ponsel itu yang terus berdering. Di embuskan napasnya dengan kasar.


"Kenapa kau selalu mengatakan hal yang sama berulang kali? Bosan, meninggalkan. Kau kira aku sebrengsek itu!" suara Mas Hendra meninggi. Diraih ponsel itu dan beranjak berdiri.


Aku menekuk wajah menyembunyikan di antara selimut yang kujepit di depan tubuh. Airmata jatuh menyapa dan turun tanpa bisa dibendung lagi.


Akh! Kenapa mencintainya sesakit ini? Rasanya dadaku begitu sesak. Ruangku tempati tak leluasa membuat rasa bergerak bebas. Penuh cinta yang membara hingga hati harus terbakar sendiri. Inikah yang dinamakan cinta yang tersesat? Salah ruang saat pertama kali mengetuk, tapi memaksa melangkah masuk padahal tahu, ruang itu bukan untukku.


"Aku mendapatkan proyek di kalimantan, " kata Mas Hendra memecah keheningan sesaat menyapa. Ponsel yang dipegangnya mulai diam tanpa suara. Entah... Apa yang terjadi? Mungkinkah sang penelepon lelah menunggu jawaban. Kalau itu Mbak Retno, alangkah sakit hatinya kelak, bila benar-benar pengkhianatan ini terkuak. Dia enggan menerima telepon padahal ponsel berada digenggaman karena ada hati seseorang yang harus di jaga. Dan orang itu adalah wanita kedua suaminya. Yaitu aku.


"Dua minggu lagi, aku kesana," ucapnya lagi. Aku memaksa, menatap pria yang tadi bersuara.


Kalimantan. Luar pulau. Kalau dia kesana, pasti akan lama dia berkunjung ke sini. Otomatis keluarganya yang bakal lebih dulu dia utamakan. Lalu waktu bersamaku. Takkan ada.


Dadaku tiba-tiba sesak. Mungkinkah ini alasan dia mulai menghindar? Apakah dia sudah bosan? Rasanya aku ingin menjerit, menangis di pelukannya.


'Jangan. Jangan tinggalkan aku.' batinku menuntut tanpa suara, tapi mulutku hanya bergetar menahan pedih. Menatapnya dengan hati pilu.

__ADS_1


Mas Hendra berjalan memutari tempat tidur. Berdiri dihadapanku.


"Jadilah istriku satu-satunya di sana," ucapnya dengan tersenyum.


__ADS_2