Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 3 Bingung


__ADS_3

Mas Hendra Pov


Aku menatap layar ponsel itu mulai menghitam. Berharap seseorang membalas pesan yang sudah kukirim. Tak ada balasan. Apakah dia sudah tidur? Jam masih menunjukkan di angka sembilan. Masih terlalu sore, biasanya dia akan mengucapkan selamat malam pada jam - jam seperti ini. Atau hanya sekadar menuangkan rasa kangen dalam bentuk tulisan.


Wajah gadis yang kunikahi diam-diam, semakin hari semakin melayang di pikiran. Senyumnya, tawa yang membuat mata indah itu membentuk garis lurus. Perlakuan spesial yang kadang, saat aku bersama Retno mengkhayal tentang gadis itu.


Akh! Rasanya seperti mimpi. Tiba-tiba aku memutuskan untuk menikah lagi sedangkan hubunganku dengan Retno- istriku, baik-baik saja.


Kadang aku merasa diriku, brengsek. Menyakiti perempuan yang selama lima belas tahun bersama. Tanpa mengeluh bahkan menuntut apapun dalam hubungan. Begitu sabar mengurusi anak-anak tanpa adanya campur tanganku. Rasanya aku begitu berdosa.


Di usia hampir empat puluh, aku bisa mendapatkan semua. Karir yang bagus dengan limpahan materi. Bagaimanapun, itu semua berkat doa Retno. Retno yang selalu menemani susah senangnya hidup. Dari awal saat aku masih seorang kuli bangunan lalu mendapat simpati dari seorang pemborong untuk menangani sebuah proyek pembangunan perumahan. Kemudian bisa menjadi seseorang yang punya banyak investor dari orang-orang besar.


Karena proyek yang kutangani tidak hanya di daerah jakarta atau sekitarnya, bahkan di luar kota bahkan sampai di luar pulau. Membuatku harus sering meninggalkan rumah berhari- hari bahkan sampai bulanan. Karena memang sudah resiko dari pekerjaan yang menuntut untuk cepat diselesaikan.


Aulia ... Gadis yang kunikahi diam-diam. Sewaktu aku mendapat krontrak pekerjaan yang mau membikin sebuah perumahan di daerah rawa di surabaya. Karena semua dari nol, pekerjaan itu membutuhkan waktu yang lama. Lima tahun. Dan aku harus sebulan sekali pulang menemui istri dan anak-anakku, setahun dari awal mulai mengerjakan proyek. Setelah itu, dalam sebulan atau dua bulan , aku datang hanya untuk sekadar mengoreksi pekerjaan mereka.


Walau pekerjaaan itu dikerjakan oleh banyak pihak yang menguasai bidang masing-masing. Aku merasa bertanggung jawab untuk mengetahui jalan kerja dan hasil yang sudah direncanakan. Berharap yang dihasilkan memuaskan dan para investor akan menunjukku lagi saat ada pekerjaan yang lebih bagus.


Aulia ... Gadis yang memang sudah tak muda lagi. Umurnya sudah berkepala tiga, saat aku pertama kali mengenalnya. Seorang gadis berpawakan tinggi, kulit yang putih, bermata sipit. Aku kira, dia adalah gadis keturunan Tionghoa. Ternyata aku salah, dia asli Jawa yang berasal dari desa.


Aulia punya tanggung jawab menyekolahkan adik-adiknya karena sang ayah terkena struk. Hingga dia harus melupakan hari-hari yang beranjak meninggalkannya. Usia tiga puluh tahun adalah paling mengkhawatirkan bagi seorang gadis yang belum menikah. Mereka bakal disebut perawan tua. Dan itu sudah disandangnya saat bertemu denganku.


Aku masih ingat saat aku berjumpa pertama kali dengan Aulia. Di sebuah mall di kota surabaya. Saat itu dia sedang bekerja di sebuah galeri handphone merk ternama. Wajahnya ramah dengan tutur kata halus. Bila dia tersenyum mendadak bulu romaku bergidik. Kayak lihat hantu. Sama persis. Hanya mampu menatap takjub. Bahkan hampir melongo.


"Om, cari model yang kayak apa?" tanya Aulia membuatku terlonjak kaget. Aku tersenyum geli.


Aulia tersenyum melihat tingkahku yang kayak Abg.


Menutupi rasa malu, aku pura-pura mengamati ponsel dengan berbagai bentuk dan warna yang berjejeran di etalase tergantung di dinding.


"Sebentar! Aku mau lihat-lihat dulu," ucapku datar.


Aneh. Detak jantungku berirama kencang, saat Aulia mulai mempromosikan handphone yang dia jual. Mulut tipis dengan warna lipstik merah muda itu membuat darahku berdesir. Apalagi aroma parfum semerbak terhirup di hidung membuat sesuatu bangun tanpa diperintah.


Shitt!


Naluri pria memang tak bisa melihat barang bagus dikit. Namun, selama ini aku tak pernah tergoda biarpun mereka menawarkan diri. Dengan gadis ini sesuatu yang tak pernah aku bayangkan mendadak timbul tenggelam.


Dua tahun, waktu yang lama untuk sebuah perjuangan mendapatkan hatinya, sebelum akhirnya dia mau menerimaku. Awalnya dia selalu menghindar saat aku berkunjung di galery. Hanya ingin mendekati gadis ini aku bahkan setiap bulan membeli handphone baru. Entah, berapa handphone yang aku koleksi lalu aku kasihkan ke sanak family.


"Handphone yang kemaren mana, Om?" tanya Aulia heran. Karena baru bulan kemarin, aku membeli handphone baru.

__ADS_1


"Jatuh di got," jawabku sekenanya. Aulia tertawa. Melihatkan gigi putih terawat.


"Heran, aku sama Om. Buang uang kok enak betul. Bentar-bentar beli handphone. Memang uang belanja istri sudah lebih apa?" cerocosnya menyakitkan. Mungkin dia merasa risih dengan sikapku yang selalu mengawasi.


"Jangankan istri satu, istri lima saja bisa aku cukupi," balasku cepat. Aulia melengkungkan bibirnya ke bawah. Sikap juteknya membuatku penasaran untuk terus berjuang menaklukan hatinya.


"Mau daftar?" godaku jahil.


"Ogah," balasnya kentus.


Sifat sederhana, cuek kadang menyebalkan membuatku kewalahan mendekatinya. Berkali-kali dia menolakku, berkali-kali pula aku semakin tertarik untuk mendapatkannya. Saat dengan Aulia, aku merasakan dunia yang penuh dengan debaran. Imajinasi yang kadang saat dengan Retno, aku tak bisa mendapatkannya. Tapi dengan Aulia, sesuatu yang lama tenggelam tiba-tiba bangkit lagi. Mungkin itu yang dinamakan puber kedua.


Klunting!


Ada pesan masuk. Segera kulihat siapa pemilik pesan itu. Aulia.


[Ceraikan istrimu atau tinggalkan aku.]


Mendadak jantungku berhenti berdetak. Mataku menatap lekat-lekat tulisan itu. Berharap mataku eror karena lelah. Apa arti dari pesan ini?


Cerai.


Retno yang penyabar, kata-katanya selalu bikin adem, membuat kemarahan hanya jadi penyesalan buatku. Dia, istri yang sempurna.


Aulia ... Bukankah kau tahu statusku dari awal. Aku tak pernah bohong untuk sebuah hubungan. Dan kau mau, walau jadi yang kedua. Tapi sekarang, kau menuntutku untuk memilih.


Memilih ibu dari anak-anakku atau memilih kamu yang selama dua tahun ini aku perjuangkan.


Terjebak.


Dengan dua pilihan yang sulit. Aku tidak mungkin melepaskan Retno dan anak-anak. Bagiku, mereka segalanya. Kehidupanku berawal dari mereka. Aku mencintaimu, Aulia. Sangat. Tapi, bila harus memilih salah satu. Sungguh, aku tak belum siap.


Aku temukan semangat hidup, saat aku bersamamu. Semangat yang sudah lama padam dan kau nyalakan lagi. Aku akan sunyi kembali bila harus melepasmu. Kembali melakukan rutinnitas yang hambar tanpa ada debaran dan sengatan listrik bervolume lembut, dalam hariku.


Aku memejamkan mata mengusir bayangan yang bakal terjadi. Perasaan Retno yang tersakiti saat pernikahan siriku terbongkar dan memilih pergi dengan anak-anak. Aku bahagia dengan semangat baru tapi jelas aku akan kehilangan seseorang yang benar- benar tulus mencintaiku.


Rasanya kepalaku mendadak berdenyut hebat. Seakan hendak meledak. Ini yang tidak aku sukai, saat situasi mulai ruyam. Kenapa sesingkat ini? Kebahagian yang mulai beranjak harus tenggelam lagi.


Kreekk.


Pintu terbuka, kulihat Retno melangkah masuk. Dilepas hijab biru dongker dan dibiarkan rambutnya tergerai bebas. Di usia tiga puluh tujuh, wajah itu tak terlihat tua, malah makin terlihat anggun. Wanita yang dulu ku puja-puja dan masih sama, walau di hati ini juga terselip perasaan yang sama untuk wanita lain.

__ADS_1


Egois. Ya, benar. Mungkin aku terlalu egois.


Retno mendekatiku yang duduk bersandar di ranjang.


"Kenapa belum tidur?" tanya Retno mulai memijit kakiku. Dadaku seolah dihantam palu besar. Retno, kalau kamu tahu, apa kamu akan menjadi sama? Retno yang penuh perhatian. Apakah kamu akan memaafkan aku?


"Apakah papa sakit?"


Aku menggeleng.


Retno tersenyum lalu duduk di menghadapku. Disandarkan kepalanya di dada. Dilingkarkan tangannya di pinggangku.


"Maap, ya. Aku tadi ketiduran di kamar Rara, " ucap Retno. Aku mencium kening Retno lama." Pa....!"


"Ehmm....." balasku singkat.


"Rara pengen punya adik."


"Apa mama gak kewalahan dengan anak-anak ... Kalau hamil lagi."


Bukan masalah aku tak mau tapi tiga anak yang masih terlalu kecil. Anak pertama yang masih berusia dua belas tahun dan duduk dibangku tujuh.Dulu kami belum punya momongan selama dua tahun dalam pernikahan. Anak kedua berusia delapan tahun ,masih duduk di sekolah dasar kelas tiga. Sementara si kecil, Rara, berusia empat tahun. Mereka semua perempuan.


"Aku ingin punya babyboy ,Pa." gumannya mulai memancing hasrat dengan menciumi dadaku.


"Bagiku , sama aja Ma. Laki-laki atau perempuan. Mereka anak-anakku. "


"Tapi aku mau..." manja Retno mulai membuka kancing kemejaku. Aku tersenyum. Retnoku. Kamu tetap utama bagiku. Selalu.


Saat aku mulai mencium kening Retno. Wajah Aulia tiba-tiba melintas. Hasrat yang tadi bangun menjadi berantakan karena rasa ketidak nyamanan . Ketakutan. Rasa bersalah dan entahlah...campur jadi satu.


Maafkan aku, Retno. Aku tak mau melakukan kewajiban, di saat pikiranku di penuhi wanita lain. Aku akan merasa berdosa padamu. Maaf. Maaf, aku benar- benar minta maaf.


"Tidak sekarang, ya, Ma. Bikinnya ...." Aku menahan tangan mungil itu. Bibir Retno mengerucut, "Habis pulang dari surabaya, ya. Hari ini aku lelah. Entar gak tokcer."


-


Retno tertawa mencubit pinggangku. Memeluk. Menciumi dadaku berulang-ulang.


"Aku mencintaimu.... Sangat," bisiknya, " jangan pernah duakan aku, aku bisa hancur."


Astaghfirullahalazim.

__ADS_1


__ADS_2