
Mas Hendra Pov
Aku lihat Retno berdiri di teras rumah, memakai gamis ungu berenda serta polesan sederhana mengulumkan senyuman bahagia di wajah anggunnya. Teriakan anak-anak yang berlari berhamburan membuat hatiku haru. Kerinduan yang terpedam jatuh dipelukan. Kebahagiaan melihat senyum dan tawa mereka.
Rara yang menyongsongku, memeluk kaki erat serta wajahnya yang dibenamkan. Airina berlari dan meloncat menaiki punggung. Tangannya memeluk leher serta kedua kakinya mencoba melingkar ke perut. Tapi tertahan karena ada Rara yang seperti menangis. Sementara Sabrina hanya berdiri di depan dengan mata mengembun.
Aku menarik tubuh Rara, membawanya masuk dalam pelukan. Kucium pipi yang gembul itu dengan gemas. Rindu. Rindu celoteh manjanya. Rengekan khasnya. Rindu.
Entah. Hati seolah menangis sedih, merutuki diri sendiri. Kebodohan yang telah kuperbuat. Membuat hati anak-anakku ikut kesakitan menahan rindu.
"Kenapa menangis?" tanyaku mengusap pipi chubby itu. Rara terisak lalu merangkul erat.
"Rara kangen. Papa lama gak pulang." isaknya
"Ai juga kangen," sendu Airina menenggelamkan kepalanya dileher. Aku tersedu. Hatiku teriris. Menyaksikan dua malaikatku yang menangis dipelukan. Retno terisak pelan. Mengulurkan tangan untuk menjabat. Kusambut dengan penuh haru lalu dicium lembut punggung tangan.
________________________________
Retno masuk ke kamar malu-malu. Biasanya dia memakai daster panjang tapi sekarang dia memakai baju pantai selutut dengan kerah yang terbuka lebar. Aku melambai tangan kearahnya supaya mendekat. Dan merentangkan tangan sebelah lalu menepuk pelan bahu yang biasanya Retno akan masuk menenggelamkan wajah di lipatan bahu.
Retno merangkak perlahan lalu menyungkurkan wajahnya di dada. Malu-malu. Pengantinku.
Aku tersenyum gemas. Kebiasaan Retno bila sepulang aku pergi jauh. Pasti. Dia akan berlama- lama memelukku , menyembunyikan wajah di lipatan.
"Kangen, ya," sindirku
Retno mengangguk di dalam pelukan.
__ADS_1
"Kangen apanya?" godaku. Dia mengenadahkan wajah, menatapku penuh hasrat.
"Ketekmu..." jawabnya sambil menjulurkan lidah. Lalu sembunyi lagi disana. Aku tertawa. Mengusap -usap rambut sebahu itu gemas.
"Ya. Sudah. Aku tak tidur, ya" godaku jail. Lalu pura-pura memejamkan mata. Retno segera mengangkat wajahnya.
"Jangan..." teriaknya. Menelangkupkan tangannya ke wajahku lalu digoyang perlahan. Aku memicingkan mata sebelah. Melihat wajah itu yang memerah.
"Aku mau kamu ...," ucapnya pelan mengulum lembut bibirku.
___________________________
"Pa ...!" panggil Retno dari arah kamar kami. Aku yang lagi selonjoran di sofa ruang keluarga sambil menikmati acara televisi, menoleh.
"Kapan balik ke kalimantan?" tanyanya sambil membawa pakaian kotor dan dikasihkan pada Bi untuk dicuci.
"Kerjaan Papa ditinggal lama, apa gak papa?" tanya Retno menghampiri lalu meraih ponsel yang ada di samping. Kebiasaan baru Retno, mengitrogasi ponsel tanpa menanyakan sendiri ke orangnya, men-stalking semua pesan Wa. Untung selalu kuhapus setelah pesan terbaca.
Semenjak aku ngomong mau pulang menjenguk Retno dan anak-anak, Aulia bersikap dingin. Sering diam bahkan malas untuk kuajak bercanda. Dia lebih memilih diam di kamar dengan bermain ponsel miliknya. Mungkin itu sebuah bentuk protes akan permohonanku tempo lalu untuk tak mengganggu saat aku tengah bercengkrama dengan keluarga di layar ponsel, atau juga mencegahku untuk menemui mereka dengan aksi mogok bicaranya. Sampai aku berpamitan untuk berangkat ke bandara pun, dia tidak mau menemuiku, hanya tidur berselimut menutupi seluruh badannya. Aku tahu. Dia menangis.
"Oh ya, Pa," ucap Retno membuyarkan lamunanku. Ku lihat Retno masih berkutat dengan ponsel di tangannya.
"Apa?" tanyaku datar. Retno menoleh lalu mengerucutkan bibirnya, manja. Ku lambaikan jari telunjuk mengisyaratkan meminta ponsel di tangannya. Tapi Retno menggelengkan kepala dengan wajah yang sama. Aku berdecak sebal.
"Kata Budhe Sri kok Papa gak pernah main kerumahnya. "
Oh, ya. Aku lupa kalau ada keluarga Retno yang berada di kalimantan. Tepatnya di kota Samarinda, sedangkan pekerjaanku di kota Balikpapan. Perjalanan tiga-empat jam naik mobil dari tempatku.
__ADS_1
Aku benar-benar sampai lupa.
"Iya, Ma. Pekerjaanku gak bisa ditinggal. Besok kalau udah sedikit longgar, aku tak main kesana," ucapku . Retno hanya mengulumkan sedikit senyum, lalu kembali menekuri layar ponsel.
Tiba-tiba ponsel yang berada di tangan Retno bergetar. Aku mencoba meraih benda itu, tapi Retno mengelak. Membaca jelas nama yang tertera.
"Siapa, Ma?" tanyaku penuh was-was. Dadaku kok seperti habis larian maraton. Berdetak kencang bahkan ritmenya melebihi tempo. Aku menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan.
Retno diam. Menatap layar ponsel itu. Dahinya berkerut.
"Bos cantik," jawabnya singkat.
Astaga. Itu kontak Aulia.
Yang aku katakan pada Retno kalau pemilik proyek perumahan di Surabaya.
Aku bergidik.
"Bukannya proyek di Surabaya habis, Pa?" tanya Retno mencoba menerka. Tatapan tajam itu beralih menelanjangiku.
Deg.
"Di kalimantan, kan punya Pak Setiawan. Lalu kenapa bos kamu yang ini menelepon?"
Eh...
Bingung harus jawab apa.
__ADS_1
"Eh ... anu, Ma ... anu," jawabku tak bisa berkata-kata.