Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 8 Mencium Bau Pengkhianatan


__ADS_3

Mas Hendra Pov


"Pa ...!" panggil Retno lirih. Segera ku letakkan ponsel di meja samping ranjang. Tapi sebelumnya mendelete semua WA yang aku kirim dan terima dari Aulia. Retno merangkak naik ke ranjang lalu tidur mendekatkan badannya ke tubuhku.


"Ehm ...." ku lirik wajah itu menatap langit-langit kamar. Tanpa ekspresi. Aku tertegun. Biasanya, dia akan memeluk lalu membiarkan kepalanya tidur dibahuku. Memainkan rambut-rambut liar yang berada di ketiak. Bahkan dengan gemas di cium baunya yang kadang bikin enek. Tapi , Retno menyukai bau badanku yang katanya bikin kangen.


"Bau, Ma!" ujarku suatu ketika. Saat kami berdua melepas rindu. Karena berhari- hari aku tidak pulang, mengerjakan proyek yang segera minta diselesaikan di luar kota. Retno tidak menjauh malah makin menenggelamkan wajahnya di lipatan itu.


"Ini yang bikin aku ketagihan." jelas Retno dengan wajah berbinar. Aneh, pikirku. Banyak orang yang menutup hidung mencium bau ini, malah Retno kayak cium bau ayam bakar. Tuh, lihat hidung plosotan asik mengendus - endus. Aku tertawa geli melihat asyik Retno yang kadang sangat eksotis.


"Bau Papa ngangenin ...," ucapnya manja dengan wajah tersipu. Dan satu kebiasaan lagi, saat tahu aku akan pergi ke luar kota untuk menginap mengerjakan proyek, alasan yang aku berikan padanya. Padahal aku menginap di rumah Aulia. Baju yang semalam ku pakai, paginya pasti tidak di cuci. Dibiarkan saja di ranjang sampai aku pulang.


" kenapa?" tanyaku penasaran.


"Supaya aku melihat Papa disini, dengan bau yang ada di baju," jelas Retno.


Entah! Senang atau malah sedih. Melihat dia yang begitu mencintai, sedang dengan mentah-mentah aku menipu dan mengkhianati cinta tulusnya. Itu yang kadang bikin aku sesak, membayangkan cinta yang besar itu akan hancur saat penipuan ini terbongkar.


Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya bilamana periode kehancuran itu datang. Aku tak bisa melihat kesakitan panjangnya. Akh! Sakit. Jelas sakit.


"Wanita yang digandeng Pak Setiawan itu siapa?" pertanyaan Retno seketika membawaku ke alam sadar. Aku mengerutkan dahi, tanda tak mengerti. Mencoba memahami arah pembicaraan.

__ADS_1


"Istri barunya Pak Setiawan," jawabku akhirnya. Retno nampak berpikir. Terlihat dari dahinya mengerut dengan bola matanya yang berlari kemana-mana. "Kenapa?"


"Bukannya istrinya Pak Setiawan itu, Bu Sasmi," sanggah Retno memiringkan tubuh menghadapku. Mata elang itu mulai meminta kepastian," Jadi mereka bercerai?"


"Siapa bilang mereka bercerai."


"Jadi?"


"Bu Sasmi tau kok. Cuma pura-pura gak tau," jelasku sambil memiringkan tubuh menghadap Retno. Kulihat ekspresi Retno yang melebarkan mata, lalu perubahan air mukanya yang cenderung mengeras.


"Nama aja Setiawan, uh! Aslinya pria rakus," geramnya emosi. Ada kilatan-kilatan kemarahan di sana. Tangannya memintir ujung bantal dengan kasar. Aku bergidik,  takut. Itu baru orang lain, kemarahannya seperti macan kehilangan anak. Lalu bagaimana responnya kelak bila pengkhianatan itu terbongkar?


"Kalau mama berada di posisi Bu Sasmi, apa yang mama bakal lakukan?" tanyaku sedikit takut. Kata-kata itu keluar dengan amat pelannya, berharap dia tidak mendengar. Tapi disisi lain, berharap dia mendengar dan memberikan jawaban yang ku harapkan. Persetujuan, mungkin.


Tidak ada jawaban. Malah terlihat memejamkan mata. Syukurlah. Setidaknya aku tidak akan mendengar jawaban yang menakutkan. Pasti. Bagian dirinya adalah aku. Dan jawabannya sudah kuketahui tanpa harus bertanya.


Terdengar embusan berat. Seolah rasa itu telah ada. Menguliti hati yang kesakitan. Ini perasaan yang tak nyata hanya panggilan hati wanita yang ikut merasakan sakitnya akibat wanita lain terluka. Bagaimana kelak bila rasa sakitnya sendiri? Apakah hanya sebatas ini atau lebih dasyat lagi kemarahannya.


"Aku tidak sekuat itu, Pa," jawab Retno lirih mulai membuka mata tapi pandangan menatap jauh, "Bila Papa bosan, pulangkan saja aku ke rumah ibu. Aku tak mengapa. Tapi jangan pernah menikungku dari luar. Cintaku bisa mati."


Deg! Nah, kan. Apa yang kubilang?

__ADS_1


Retno memandangku lama. Seolah mencari sesuatu dari pikiran. Entah. Mata itu menungkik tajam tepat di jantungku. Membuat irama cemas bertalu hebat. 'Jangan- jangan Retno mulai curiga' batinku.


Aku memberikan senyum senyaman mungkin. Menghilangkan efek ketakutan yang mulai timbul di wajah. Dada ini rasanya berdetak melebihi ketukan, sampai napas terasa berada di ujung tenggorokan.


Aku menelan ludah. Menekan debaran yang kian membuatku takut tertangkap basah. Mencoba bersikap senatural mungkin, tapi mata elang itu tak berhenti mengawasi seolah aku adalah ******* yang sedang di intrograsi.


Aku meniup mata itu. Mencoba menggoda dengan ketengilan.


"Gak usah mikir macam-macam," bisikku lembut. Mencium keningnya lama. Mencoba menenangkan suasana hatinya. Ada rasa menyesal telah memancing pembicaraan ke arah sana. Bukankah ini menjebak diri sendiri masuk dalam perangkap. Walaupun aku ingin tahu jawaban apa yang akan dia lontarkan ? Dia tak mau berbagi dan itu sudah jelas.


Retno masih terlihat diam. Wajahnya masih datar dengan pikirannya. Entah! Rasanya terlalu dalam pikiran itu untuk diselami. Aku takut akan terjebak dengan arusnya bila terus berada pada situasi ini. Aku harus meredam kegalauan itu.


'Akh! Brengsek !' runtukku dalam hati.


Ku tarik kepalanya masuk dalam lipatan bahu. Dia cuma diam tanpa penolakan.


"Di bilang gak usah mikir- mikir macam, kok. Entar jadi kenyataan, lo," godaku mencoba mencairkan ketegangan yang kucipta sendiri. Bodohnya aku? Wanita kok ditanya mau berbagi? Ya. Jelas milih mundurnya.


Retno tak menjawab. Malah menelentangkan tubuh dan menatap jauh tak terjangkau. Terlihat hatinya begitu mendung, diembuskan napasnya berulang kali seolah mengusir sesuatu yang menyakitkan dalam bayangannya.


"Berjanjilah! Tidak ada orang kedua diantara kita." Ada yang meremas kuat hatiku hingga sakitnya membuat dada terasa sesak.

__ADS_1


__ADS_2