
Mas Hendra Pov
Airina berlari menyongsong saat ekor matanya menangkap bayanganku. Ditinggal ibu dan dua saudarinya berdiri di depan pintu sebuah mall. Rara yang melihat kakaknya tiba-tiba berlari, dia langsung berontak dari pelukan Retno dan meluncurkan tubuh mungilnya ke bawah. Jelas saja, wanita yang sedari tadi menggendongnya terkejut, lalu mengunci tangan gembul yang mulai lepas dari genggaman. Namun melihat Airina sudah tertawa di gendonganku, tangan Retno mulai melepas dan membiarkannya berlari.
"Papaku.....!" jerit Rara melengking. Airina malah mendekap erat pelukannya. Aku tertawa melihat aksi bocah-bocah kesayangan.
"Turun, ya, Kak!" pintaku pada Airina. Bocah bermata elang mirip ibunya itu memasang tampang cemberut lalu menggelengkan kepala. Sementara Rara menangis keras sambil mencubiti kaki kakaknya. Airina yang memakai celana levis selutut itu cuma bisa menghentak - hentakkan kakinya.
Retno tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepala melihat aksi mereka. Terpaksa tangan sebelah kiri yang tadi menopang tubuh Airina, ku ulurkan pada Rara. Mengangkat tubuhnya yang gembul, lalu mensejejajarkan mereka pada gendongan.
Airina menjulurkan lidah, mengejek Rara.
"Kak Ai, nakal!" sentak Rara mulai menangis. Retno yang sedari tadi diam, mulai mendatangi kami.
"Kak Ai, gak boleh nakal, ya!" istriku memperingati. Diambil Airina dalam gendongan. Seketika bibir bocah itu mengerucut, " Dah besar, jalan sendiri!"
__ADS_1
Airina menjejakkan kaki di lantai saat Retno menurunkan tubuhnya. Dihentakkan kaki menandakan protes diamnya. Lalu berjalan tergesa-gesa, menyusul Sabrina, anak perempuan pertamaku yang lagi asyik main ponsel di depan pintu mall. Sabrina memakai baju panjang selutut berwarna biru laut dengan dipadukan celana jeans hitam. Raut muka itu adalah kembaran Retno muda.
Rara bersorak senang saat dia bisa memelukku tanpa adanya saingan. Aku tertawa gemas mencoel hidung bangir miliknya.
Sesaat mulai masuk di dalam mall, tiba-tiba seseorang menyebut namaku.
"Pak Hendra!" panggil seseorang yang suaranya tak asing. Aku menoleh, mendapati seorang pria gagah berusia sekitar empat puluh tahun ke atas bergandeng mesra dengan seorang gadis berusia dua puluh lima tahun, menghampiri kami.
"Pak Setiawan," sahutku mulai mengulurkan tangan ketika sosok itu sudah dekat. Pak Setiawan menjabat tanganku lalu tersenyum pada Retno. Retno membalas dengan anggukan kepala.
"Ada proyek di kalimantan," kata Pak Setiawan mengawali pembicaraan. Aku mengalihkan pandangan ke arah suara. 'Berita bagus' pekikku dalam hati.
"Bangun apa, Pak?" tanyaku serius. Ku lihat gadis perpakaian seksi yang sedang bergelayut di bahu Pak Setiawan itu mengerlingkan mata ke arahku.
'Astagfirullah' batinku. Setan betina. 'Jauhkan aku , ya Allah dari yang semacam ini' doaku. Gadis itu melemparkan senyum menggoda.
__ADS_1
"Perumahan dengan 25 blok. Mau kau ambil saja atau aku lempar ke baharudin," tawar Pak Setiawan.
Baharudin adalah kakak laki- laki Retno yang punya profesi sama sepertiku. Dulu, dia yang mengajari aku memulai bisnis ini memberi satu atau dua proyek untuk kukerjakan. Sampai bisa berkembang dan mulai mandiri mencari proyek dari para pengusaha seperti Pak Setiawan.
'Wah, bakal lama, nih' batinku senang. Dapat proyek dengan keuntungan yang sangat besar. Bakal setahun dua tahun aku jarang pulang ke jakarta, bisa ajak Aulia ke sana. Bisa hampir tiap hari, aku bersama Aulia. Pasti dia bakal senang sekali.
"Aku ambil saja. Di surabaya juga sudah hampir selesai." Aku tersenyum membayangkan sesuatu yang berkilabatan di dalam benak. Senyum manja Aulia. Gairah yang diberikannya membuat aku melambung tinggi.
"Oke, besok ke kantorku, urus semua berkasnya!" tintah Pak Setiawan.
"Sayang, cepetan! Aku lapar," rengek perempuan itu sambil menggoyang lengan Pak Bos. Kulihat, pria itu memencet hidung sang wanita.
"Iya, bentar! Nggak sabaran banget sih," Lelaki mesum itu tertawa disambut dengan senyum sang wanita. Merasa risih, aku minta ijin untuk ke tempat Retno dan anak-anak.
Rasanya aku benar-benar mendapatkan Durian jatuh saat ini. Proyek yang besar serta kebersamaan dengan Aulia. Bukankah itu yang kuinginkan? Aku akan lebih lama bersama istri keduaku itu, tanpa harus menyakiti hati Retno.
__ADS_1
__________________________________