Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 17 Terbongkar


__ADS_3

Mas Hendra pov


"Sepertinya Papa begitu akrab dengan bos yang ini?" tanya Retno diambang jalan penghubung antara ruang tamu menuju ruang keluarga. Dia berdiri bersedekap tangan di dada dengan sebelah badannya bersandar di tembok.


Aku memasukkan ponsel di saku kemeja, kemudian memutar badan yang terasa kaku. Dadaku bergedug kencang, takut melihat mata yang menyorot tajam.


"Enggak juga," jawabku mencoba melewati tatapan menakutkan. Retno menghembuskan napasnya perlahan.


"Kayak bukan antara bos dan anak buah, "decak Retno masih dengan tatapan ganas.


"Ya, emang aku bukan anak buahnya, " jawabku mencoba meredam situasi yang mulai kurang konduksif. Berharap dia terpancing kekoyolanku dan melupakan. Tapi, agaknya suasana panas terus berlanjut. Dengan membiarkan mata elang itu terus menerus menghujam jantung. Dengan tatapan intrograsinya yang penuh rasa curiga.


"Papa sadar, nggak?" ucapnya mendadak tinggi. Saat aku berada persis di sampingnya. Aku berhenti. Lalu menoleh ke arahnya.


"Papa berubah!" teriak Retno menghujamkan lirikan mata mautnya. Aku tersentak. Melihat raut muka itu terlihat mengeras. Kayaknya Retno mau menelanjangiku dengan pertanyaan yang menjurus ke sana. Mungkin dia mulai merasakan keberadaan Aulia.


Benar-benar Aulia bikin aku ketakutan. Saat ini rasanya dadaku berdetak lebih kencang. Kekawatiran akan terbongkarnya rahasiaku membuat rasa itu menjadi kemarahan buta.


"Apanya yang berubah, Ma? Aku masih sama seperti dulu," tegasku mencoba bertahan pada posisi yang tak mau disalahkan. Walau sejatinya salah.

__ADS_1


"Aku tidak temukan Papa yang dulu." jawab Retno dengan muka yang sama. Siap menerkam mangsa.


"Maksudnya ...?"


"Papa yang dulu selalu menomer satukan keluarga. Di;mana keluarga lebih dari segalanya. Sekarang tidak ada."


"Maksud Mama, apa?"


"Aku memang tidak tahu apa apa tentang apa yang Papa lakukan di sana?"kata Retno lirih dengan suara sedikit gemetar. Memalingkan muka ke arah lain. Tetesan demi tetesan airmatanya turun membasahi pipi.


"Aku tak punya bukti tetapi naluriku berkata papa berubah saat ini."


Bukankah Retno akan selalu mengalah ketika berdebat denganku? Biarpun dia yang benar. Retno pasti akan menurunkan egonya saat aku mulai marah. Masalahnya pertengkaran yang sudah lalu  hanya riak kecil dalam rumah tangga. Bukan tentang pengkhianatan.


Kalau berdebatan ini berlanjut dan kebongkaran pernikahan keduaku terkuak, mungkinkah akan sama. Dia mau mengalah dan berbagi cinta. Namun kenyataannya tidak seperti yang aku harapkan. Jelas perpisahanlah yang akan Retno pilih. Sanggupkah aku berpisah dengan Retno karena sejatinya tak pernah berkurang rasa cintaku padanya.


Jadi aku akan tetap memilih terus bertahan pada kebohongan, menyembunyikan keberadaan Aulia.


"Jadi Mama menuduhku selingkuh," sentakku sengit. Berharap Retno mau menyadari kemarahanku tentang kecurigaannya yang sebenarnya memang benar adanya

__ADS_1


"Aku tidak pernah mau mengucapkan kata itu dari mulutku, tapi Papa sendiri yangberucap."


Retno  memejamkan matanya seolah berusaha menekan rasa sakitnya. Tangis itu tak bersuara tapi terasa begitu sakit. Maafkan aku, Ma. Ini yang aku lakukan? Menghindari suasana ini.


"Terserah, apa kata Mama." Aku melangkah menuju kamar, mengambil koper lalu memasukkan beberapa baju.


        ______________________________


Pesawat mulai terbang perlahan. Suara desisnya menjerit hebat di gendang telinga. Menciptakan dengung mirip ribuan tawon. Dari sini, rumah terlihat nampak mengecil lalu berganti awan putih yang berarak.


Ada rasa yang meremas kencang pada hati yang melengking lelah. Ya. Aku merasa letih merahasiakan pernikahan kedua ini. Berharap akan baik-baik saja, tapi nyatanya aku harus melihat banyak retak.


"Saat Papa sedang khilaf. Tak usah memikirkan bagaimana perasaanku. Namun pikirkanlah, bagaimana perasaan anak-anak yang bakal kehilangan Papanya."


Ucapan terakhir Retno sebelum aku keluar pintu rumah. Aku tahu. Itu bukan ancaman tapi keputusan. Bagaimana kelak kalau benar dia tahu tentang pengkhianatanku. Tidak bertahan. Dan memilih untuk pergi bersama anak-anak.


Retno masih berdiri di sana dengan wajah menunduk. Entah berapa lama dia berdiri. Tak bergeming bahkan saat aku mulai memasukkan  baju-bajuku dengan kasar dalam koper.


Marah. Seharusnya bukan aku yang marah tapi Retno. Namun, perasaan itu aku ambil alih dengan paksa. Tanpa melihat hatinya terluka. Napas yang ia embuskan dengan susah payah adalah wujud dari hatinya yang berdarah.

__ADS_1


Egois. Pria ini mendadak begitu egois. Bahkan tanpa pelukan, aku membiarkan badan itu gemetar sendirian. Menahan sakitnya.


__ADS_2