Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 4 Pilihlah, aku atau istrimu!


__ADS_3

Pov Aulia


Aku menenggelamkan wajah pada guling, dengan tangis yang tak bisa berhenti. Airmata terus terjun bebas tanpa bisa dibendung lagi. Sakit hati yang merasa ditelantarkan. Tak mendapatkan apa yang menjadi haknya. Hanya diam. Pasrah. Tak bisa menuntut.


Bagaimanapun wanita kedua juga punya hati. Perasaan ingin disayangi penuh dari orang yang telah dinikahi, walau diam-diam. Manusia memang cenderung serakah, apalagi kalau berhubungan dengan perasaan.  Mendominasi pada sebuah hubungan, walau kedudukannya hanya yang kedua.


Tak tahu malu. ******. Perebut suami orang. Entahlah ... Ada berapa banyak lagi makian yang kelak terlontar bila keputusan Mas Hendra mempertahankanku. Meninggalkan istri pertamanya yang belasan tahun menemani baik susah senangnya hidup. Tapi aku bisa apa, aku juga menginginkan suami yang setiap saat ada untuk menemani.


Mas Hendra duduk di tepi ranjang memunggungiku. Napas terdengar berat,  terlihat hembusan yang tertahan dan kasar dihempaskan. Berkali-kali. Seolah ada yang tersangkut di tenggorokan hingga dadanya begitu sesak.


"Lepaskan aku, Mas...!" itu kalimat pertama yang aku keluarkan sejak kedatangan Mas Hendra dari Jakarta. Entah, berapa lama kami terdiam dengan perasaan yang memutar seperti angin beliung.


Mas Hendra kembali mengembuskan napas beratnya dengan kasar. Aku tahu ini keputusan besar dalam hidupnya. Kehilangan yang terpenting dari hidup atau merelakan seseorang yang dua tahun diperjuangkan.


Dengan posisi tidur, aku membalikkan badan, menatap Mas Hendra yang duduk memunggungi di tepi ranjang. Badannya sedikit membungkuk dengan tangan yang bertumpu di pangkal paha. Sesekali telapak tangan itu mengusap kasar lalu dibiarkan menutupi wajah.


"Tidak semudah itu, Aulia," kata Mas Hendra tanpa menoleh. Aku menarik tubuh hingga terduduk sehingga mata ini lebih leluasa melihat Mas Hendra. "Aku sudah menyeretmu masuk dalam hidupku dan tidak semudah itu juga aku melepasmu."


"Kalau begitu , ceraikan istrimu ...!"

__ADS_1


Pernyataan yang sarat emosi itu seperti menghujam jantungnya, sehingga dia menatapku dengan mata membesar. Aku tahu. Kata- kata itu bisa balik menjadi boomerang dan bakal melukai diriku sendiri. Sekarang kau tahu, siapa wanita yang kau nikahi ini, Mas. Cuma ular sawah yang mau menelan kebahagiaanmu.


"Begitu jahatnya aku, bila keputusan yang besar itu terjadi." Mas Hendra menggeser duduknya menghilangkan jarak antara kami. Duduk tepat dihadapanku. Dengan begitu, aku bisa melihat ada banyak kesedihan dimatanya. Digenggam tanganku.


"Aku tahu, saat ini kamu hanya merasa diasingkan. Bersabarlah... Kelak semua pasti ada akhirnya. Di mana Retno akan menyetujui hubungan kita."


"Tapi sampai kapan, Mas!" teriakku membuang kasar wajah yang mulai menangis. Kuhentakkan tangannya yang menggengam erat jari-jari. Dia malah menarik tubuh dalam rengkuhan. Aku berontak. Tapi kekuatanku tak mampu memadai, Mas Hendra begitu kuat memeluk. Nafasnya yang berat menyapu tengkuk, menciptakan sensasi geli menjalar alami di seluruh tubuh.


"Bersabarlah!" lirihnya, "aku tidak mungkin menceraikan Retno yang selama ini begitu andil dalam hidupku. Dengan mengetahui pengkhianatan ini jelas akan buat dia hancur, lalu dengan kejamnya aku meninggalkannya."


Aku terdiam mulai membiarkan tubuh ini pasrah dipelukkan tanpa perlawanan lagi.


"Aku sudah bosan terus menunggumu datang menemuiku. Setiap hari aku sendiri di sini, sementara kamu enak-enakan bersama istri dan anak-anakmu. Kamu gak adil, Mas."


Kupukul  bahu yang merengkuh tubuh. Mas Hendra terdiam. Hanya pasrah saat tangan ini memukul tubuhnya. Tangis yang tadi mulai menyusut mendadak keluar tanpa diperintah. Bahkan makin melengking suara yang keluar.


"Kenapa harus menikahiku? Kalau keluargamu lebih utama," isakku. Ku jatuhkan kepala pada bahu kekarnya. Kemarin, dibahu itu aku sering bergelayut manja. Di mana ada perasaan nyaman dan hangat. Dengan di tambah bau parfum tubuhnya yang begitu meresap hingga ke ubun-ubun, menciptakan hasrat yang merayap perlahan.


"Kau hanya menjadikanku  pelarian.

__ADS_1


Di mana kelak saat kau bosan, dengan mudah membuangku begitu saja."


"Dengar! Aulia." Telapak tangan itu menelangkup wajahku. Memaksa retina ini untuk melihat bola mata hitam yang selalu membuat degup jantungku berdetak hebat. "Aku mencintaimu ... Kau tahu itu"


Telunjuknya menghapus airmata yang entah sampai kapan terus mengucur deras. Dihapus dengan lembut. Di sentuh bibir yang bergetar, dikecup perlahan dengan lumatan lembut.


"Kalau aku hanya ingin mempermainkanmu, cukup memakaimu lalu memberimu uang, masalah sudah selesai. Tapi aku membawamu masuk dalam hidup dan mempertaruhkan kebahagiaan yang sempurna. Kalau gak cinta buat apa aku sekonyol itu?"


Mas Hendra menggenggam kedua bahu. Tatapan mata itu menghujam ke relung hati. Ada banyak binar cinta yang menyala. Sesaat aku tak berkedip menerawang masuk dalam binar itu. Ya. Ada kesungguhan. Cinta yang besar. Bukan pelampisan hasrat semata.


"Lalu bagaimana dengan Mbak Retno, Apa kau mencintainya?" tanyaku pelan. Mencoba menata hati agar emosi sedikit mereda.


"Dia ibu dari anak-anakku. Wanita yang selama ini mendampingiku," ucapnya tanpa memalingkan muka, hanya saat mengucapkan 'mendampingi', binar matanya mendadak meredup. Ada getar yang tertahan. Entah, mungkin perasaan bersalah pada wanita pertamanya.


"Kalau Mbak Retno menyuruh, memilih antara aku dan dia, Siapa yang kau pilih, Mas?"


Mas Hendra kembali mengerutkan dahi. Melepas perlahan pegangan lalu berpaling menghadap ke arah lain. Kembali memunggungiku.


           ______________________________

__ADS_1


__ADS_2