Aku Wanita Kedua Suamimu

Aku Wanita Kedua Suamimu
Part 2 Pilihan


__ADS_3

[Mas... Aku kangen.]


Aku kirim Wa pada Mas Hendra. Sudah dua minggu, dia tidak mengunjungiku. Rasanya rindu sudah mencekik leher. Saat rasa itu datang, dadaku terasa sesak. Hanya luapan tangis yang mampu hadir menyapu keringnya hati.


Aku mencoba untuk berdamai dengan rindu.  Melunakkan kemarahan yang selalu merorong naluri. Ternyata, aku tak mampu berbagi. Lalu apakah istri Mas Hendra siap berbagi kalau saja tahu kenyataan ini. Bahwa suaminya sudah menikah lagi denganku. Ya. Denganku.


Apakah istri Mas Hendra harus tahu? Ya. Dia juga harus tahu, bahwa tidak hanya dia saja yang membutuhkan suami. Tapi, aku juga. Aku juga butuh suamiku. Suami yang juga suaminya.


Tidak! Tidak, Aulia. Istrinya tidak boleh tahu yang sebenarnya.


Ingat, Aulia! Siapa kamu? Kamu hanya kedua. Jangan terlalu banyak menuntut! Lakoni saja takdirmu. Bukankah kau tahu sejak awal tentang status suamimu? Dan yang harus mengalah disini itu ... kamu, Aulia. Bukan istri Mas Hendra.


Siapkah kamu melihat wanita lain hancur? Siapkah kamu menjadi alasan atas kesakitan panjang ini? Kau sakit, wanita itu pasti lebih sakit. Lukanya lebih dalam. Pasti kamu bisa membayangkan luka itu bila kamu memposisikan dirimu dengan kedudukan dia sekarang.


Aku terisak. Apakah aku harus merasakan rindu ini sendirian. Apakah kau tak merindukanku, Mas?


Pernikahan kita sudah hampir lima bulan. Dan kau hanya sepuluh kali saja mengunjungi.  Seharusnya, saat seperti inilah kita benar-benar bahagia. Merasakan kebersamaan yang hangat  selayaknya pasangan baru menikah. Tapi nyatanya. Aku sendiri disini. Dengan rasa rindu yang menyakitkan.


Aku terhenyak dari lamunanku. Saat hpku  berdering. Ku toleh nama di atas layar itu.


Mas Hendra.


Benarkah ini  yang mengirim pesan ... dia?


Aku terlonjak senang. Segera kuangkat benda pintar itu. Saat komunikasi mulai terhubung. Disana terdengar begitu ramai. Ada suara anak-anak kecil dan suara wanita.


Dengan sedikit gemetar, aku membuka suara.


[Assalamualaikum.]


[Walaikumusalam.] Balasnya santai. Aku tercekat. Sesantai itu Mas Hendra membalas salamku. Apakah hubungan ini sudah dia ceritakan pada istrinya.


Ada sedikit rasa senang menyelimuti hati. Berpikir bila persetujuan kemungkinan terjadi.


[Kapan Mas ke sini?] Tanyaku tanpa basa basi. Tak ada pertanyaan aneh dari istrinya tentang siapa yang sedang dihubungi lelakiku ini. Jelas terdengar bahwa suara Mbak Retno yang tak jauh dari posisinya saat ini.


Tidak ada suara kesedihan di sana. Bahkan terdengar tawa senang saat anak-anak mereka berceloteh, menceritakan kekoyolan di sekolah.

__ADS_1


[Mungkin besok lusa.] Jawab Mas Hendra tenang. [Aku harus minta ijin dulu sama nyonya besar ....]


Nyonya besar...! Itukah panggilan kesayangan Mas Hendra pada Mbak Retno. Lalu kenapa Mas Hendra begitu tenang saat berbincang denganku? Apakah benar kalau hubungan sembunyi ini sudah di ketahui istrinya.


Kalau Mbak Retno setenang ini dan juga Mas Hendra. Mungkinkah Mbak Retno menyetujui hubungan kami. Berarti pernikahan ini tak perlu lagi di sembunyikan.


Yess!


Rasanya aku ingin terbang saking senangnya.


Akh! Aku bahagia.


[Ok. Aku akan tangani proyek perumahan Marga Indah ... Bu bosku cantik


Proyek!


Bu Bosku Cantik!


Apa maksudnya....


....Tiket ke surabaya sudah dipesankan untuk besok lusa kan. Mungkin aku akan di sana selama dua-tiga hari jadi siapkan hotel juga, ya.Bu Bosku Cantik.]


Damt it !


[Papa akan pergi lagi]. Suara mbak Retno mendekat.


[Nih, dah dipanggil untuk ngurusi proyek di surabaya ma bos cantik]. Jawab Mas Hendra kalem. [Gak lama kok, Ma. Paling cuma dua-tiga hari kalau lancar ....]


Aku merasa risih mendengar keromantisan mereka. Rasanya dadaku mendadak ngilu.


Aku sengaja mengembuskan napas sekencang mungkin. Agar Mas Hendra tahu, aku masih disini mendengarkan. Entahlah...tiba-tiba hatiku mendadak sakit seperti teriris-iris.


Taukah Mas, aku cemburu.


[Ya, sudah aku tunggu]. Kataku dengan berat. Segera aku mengucapkan salam dan mematikan telepon tanpa menunggu balasan.


Shitt !

__ADS_1


Aku memejamkan mata. Rasanya airmataku sudah tak mampu lagi terbendung. Lepas sudah jatuh berderai.


Rasanya aku ingin sekali berteriak. Memaki diriku sendiri.


Bodoh! Bodoh! Bodoh!


Kau ditipu, Aulia. Cintamu ditipu.


Lalu apa yang kau harapkan dengan pernikahan ini. Penipuan besar- besaran dan tentunya penghinaan. Cintamu yang besar itu hanya terlihat seujung kuku baginya.


Aku menangis meraung raung. Ku hentakkan tangan pada dada sekeras mungkin. Berkali-kali. 


Sakit.


Tapi di dalamnya ... lebih sakit.


Klutingg!


Terdengar pesan masuk. Kuraih dan mulai melihat siapa pemilik pesan itu. Mas Hendra.


[Cemburu, yaaa.]


Aku menangis tertahan. Perih. Sangat perih. Orang yang kau cintai tak pernah menganggapmu  ada. Hanya bahan guyonan. Pelampiasan penat. Tempat pelarian.


Dosakah aku? Bila mencintai suamiku seluas ini. Walaupun hanya yang kedua.


Dosakah aku? Bila cemburu ini ada. Aku tak menginginkannya hadir. Tapi cemburu ini selalu menyapa saat dia bersama istrinya.


Kenapa kamu menikahiku, Mas? Kalau kamu begitu mencintai istri dan anak-anakmu. Kenapa kamu harus menyeretku berada di antara kebahagiaan kalian ? Kamu menjadikan aku, benalu yang menopang hidup untuk kemewahan.


Lebih baik aku mundur perlahan daripada harus terus menjadi pesakitan.


Aku mengatur napas. Membuang sesak yang terus menghujam dada.


Ini pilihanku.


Aku menatap ponsel itu, lalu mulai menuliskan sesuatu.

__ADS_1


[Ceraikan istrimu atau tinggalkan aku]


__ADS_2