
...🎵Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi🎵...
Ketika ku mendengar bahwa
Kini kau tak lagi dengannya
Dalam benakku timbul tanya
Masihkah ada dia
Di hatimu bertahta?
Atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu
Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?
Meski bibir ini tak berkata
Bukan berarti ku tak merasa
Ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karna
Diriku tak mampu untuk bicara
Bahwa aku inginkan kau ada
Di hidupku...
Kini ku tak lagi dengannya,
Sudah tak ada lagi rasa
Antara aku dengan dia
Siapkah kau bertahta
Di hatiku hai cinta
Karna ini saat yang tepat
Untuk singgah di hatiku
Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?
Meski bibir ini tak berkata
Bukan berarti ku tak merasa
Ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karna
Diriku tak mampu untuk bicara
Bahwa aku inginkan kau ada
Di hidupku...
Pikirlah saja dulu
Hingga tiada ragu
Agar mulus jalanku
Melangkah menuju ke hatimu
Pikirlah saja dulu
Hingga tiada ragu
Agar mulus jalanku
Melangkah menuju ke hatimu
__ADS_1
Siapkah kau 'tuk jatuh cinta
Lagi?
Meski bibir ini tak berkata
Bukan berarti ku tak merasa
Ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karna
Diriku tak mampu untuk bicara
Bahwa aku inginkan kau ada
Di hidupku
Ada yang berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karna
Diriku tak mampu untuk bicara
Bahwa aku inginkan kau ada
Inginkan kau ada
Di hidupku
Bila kau jatuh cinta, katakanlah
Jangan kau buat sia sia
Bila kau jatuh cinta katakanlah
Jangan kau buat sia sia
Bila kau jatuh cinta, katakanlah
Jangan kau buat sia sia
Bila kau jatuh cinta, katakanlah
~Episode dua puluh satu//
Jasmine berdiri ditepi lapangan sekolah, dia menatap ke depan dengan pandangan kosong, di dalam pikiran nya dipenuhi akan wajah devan dan kenangan nya bersama Devan.
BRUK.....
Tiba² sebuah pot jatuh dari atas tepat di samping Jasmine, membuat Jasmine terkejut dan gemetar ketakutan, dia menatap pot yang sudah hancur bersama dengan tanah yang berhamburan.
"S..siapa itu?" tanya Jasmine sambil menatap kearah atas.
Jasmine menatap kearah atas dengan dahi berkerut, dia menatap seseorang misterius yang menggunakan topi berlogo tengkorak, Jasmine terus menatap hingga orang itu menghilang akibat suara Devan.
"Jas lo kenapa?" tanya Devan, Jasmine menjadi gugup dan salah tingkah.
"E...enggak kok." ucap Jasmine kembali menatap pot yang hancur.
"Astaga apa ini? lo gak apa² kan? ada yang luka gak?" tanya Devan khawatir.
"Kak aku gak apa², kakak bisa lihat sendiri kan aku aman?" balas Jasmine.
"Siapa yang ngelakuin ini?" tanya Devan.
"Aku gak tau, tadi pas aku pengen cari tau kakak malah manggil, hilangkan jadinya orangnya." ucap Jasmine menyalahkan Devan.
"Eh,,, sorry gue pikir lo ngelamun" ucap Devan sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.
Jasmine tak menghiraukan Devan dia ber jongkok dan mengambil sebuah kotak kecil yang berada diantara tanah yang berhamburan.
"Apa itu?" tanya Devan, Jasmine menggeleng dan berniat membuka nya, namun tangan Devan menghentikan nya.
"Ada apa?" tanya Jasmine.
__ADS_1
"Jangan dibuka, gue takut kalo itu jebakan." ucap Devan.
"Tapi aku penasaran, lagian kita gak tau juga kan isi didalam nya? mungkin aja ada sesuatu yang penting." ucap Jasmine.
Dengan terpaksa Devan mengiyakan, Jasmine membuka kotak itu dengan perlahan, setelah terbuka Jasmine mengerutkan kening nya bingung.
"Cuman kertas?" pikir Jasmine.
"Kenapa? buka gih." ucap Devan penasaran, Jasmine membuka nya dan membaca isi surat tersebut, mata nya melotot bersamaan dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Ada apa Jas?" tanya Devan.
Jasmine tak menjawab dia menyerahkan selembar kertas itu kepada Devan, Devan membaca nya.
Dengan wajah penuh amarah Devan mengepalkan kedua tangan nya.
"Sialan, siapa yang berani nyakitin Jasmine, juga harus berurusan dengan gue!" pikir Devan.
Devan menatap Jasmine yang sudah terduduk dengan air mata yang mengalir deras.
Huh~ Devan mencoba menahan emosi dan berjongkok dihadapan Jasmine.
"Tenanglah ada gue." ucap devan sambil mendekap erat tubuh Jasmine.
"Kak? kenapa ada orang yang ingin sekali aku mati? apa yang sudah aku perbuat?" tanya Jasmine.
"Lo tenang oke, aku yakin ini cuman orang iseng aja." ucap Devan.
"Iseng? kalo cuman iseng gak mungkin dia lakukan berkali kali kan?" tanya Jasmine.
"Berkali kali?" balas Devan dengan dahi berkerut.
"Iya, pertama di kaca WC, kedua di loker, ketiga pisau melayang itu, dan ini yang keempat." ucap Jasmine dengan napas terengah engah.
Devan terbelalak saat mengetahui bahwa Jasmine menyembunyikan masalah sebesar ini darinya.
"Kenapa baru bilang, dan apa ada surat lain selain ini?" tanya Devan.
Jasmine mengangguk dan mengeluarkan surat yang dia dapat di loker kemarin.
surat di pot
Jasmine sayang kamu jangan terlalu berharap akan selamat, karna kami memiliki seribu cara untuk membunuhmu, dan untuk beberapa hari kemarin jangan kamu pikir kami membebaskan mu itu hanya untuk membuat mu bisa merasakan dunia ini, tapi inilah permainan yang sesungguh nya dan ini yang pertama!!
2777444
Devan menatap surat pertama dan kedua secara bergantian.
"Ada apa?" tanya Jasmine bingung.
"Lihatlah disurat pertama terdapat angka yang sama dengan surat yang kedua, dan lagi kedua duanya terdapat kata 'kita', itu artinya...." ucapan Devan terpotong.
"Itu artinya ada banyak orang yang menginginkan aku mati." ucap Jasmine dengan air mata yang semula berhenti kembali mengalir.
"Jasmine tenanglah gue akan selalu melindungi Lo." ucap Devan menenangkan.
"Tenang? bagaimana bisa aku tenang disaat nyawa aku terancam?! mungkin kakak bisa tenang karna kakak gak ada diposisi aku, coba kakak rasakan jika kakak jadi aku, sakit kak semua yang aku jalani tak ada artinya semua sama seperti hidup tapi tidak bernyawa!!" teriak Jasmine.
Devan tak menjawab Jasmine memang berhak marah akibat ucapan nya, Devan memeluk erat tubuh Jasmine mencoba mengalirkan ketenangan, Jasmine tak bergerak dia menikmati pelukan itu.
"Kak apa setelah tau bahwa aku akan mati, kakak akan menjauhi ku?" tanya Jasmine lirih.
"Jangan berpikir macam² gue gak akan pernah membiarkan siapapun melukai lo bahkan seujung kuku sekalipun." ucap Devan tegas.
Jasmine tersenyum dia tau apa yang dikatakan Devan bukan sebuah kata penenang belaka namun terdapat peringatan dan janji.
"Aku senang mengenal kamu kak, maaf sebelum nya aku marah dan bentak kakak." ucap Jasmine.
"Jangan pikirkan itu, ga penting." ucap Devan sambil tersenyum.
:
:
:
__ADS_1
Bersambung......