
...🎵Indah Cintaku🎵...
Ku ingin kau tahu, ku ingin kau s'lalu
Dekat denganmu setiap hariku
Sudahkah kau yakin untuk mencintaiku
Ku ingin hanya satu tuk selamanya
Ku tak melihat dari sisi sempurnamu
Tak perduli kelemahanmu
Yang ada aku jatuh cinta kar'na hatimu
Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih
Dari apa adanya dirimu selalu
Cintaku terasa sempurna kar'na hatimu
S'lalu menerima kekuranganku
Sungguh indah cintaku
Sudahkah kau yakin untuk mencintaiku
Ku ingin hanya satu 'tuk selamanya
Ku tak (ku tak) melihat dari sisi sempurnamu
Tak perduli kelemahanmu
Yang ada aku jatuh cinta kar'na hatimu
Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih
Dari apa adanya dirimu selalu
Cintaku…
🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵🐵
~Episode sembilan//
"JASMINE!!" teriak sang ibu dengan tangan yang sibuk mengendor pintu, Jasmine mencoba membuka matanya lalu melirik kesamping dimana terdapat Alvin yang sedang tertidur telantang.
"Gawat! bakal kena marah aku." gumam Jasmine panik.
"Al kok tidur sini sih." sambung Jasmine sambil menggoyangkan badan Alvin agar membuka mata.
__ADS_1
"Em...., kenapa kak?" tanya Alvin polos, sedangkan Jasmine sudah panik tak kepalang.
"Al kenapa tidur disini sih?" tanya Jasmine berusaha lembut.
"Semalam kakak ketiduran jadi aku coba bawa kakak susah payah, eh gak taunya pas sampe kasur aku juga ngantuk yaudah deh aku tidur di samping kakak." balas Alvin jujur.
"Aduh Al kenapa gak bangunin Kakak aja sih?" tanya Jasmine.
"Emang ken....." sebelum Alvin menyelesaikan katanya.
Suara ketukan pintu yang begitu keras membuat Alvin langsung bersembunyi dibalik punggung Jasmine.
"Kak itu suara apa?" tanya Alvin takut.
"Itu mamah Al." ucap Jasmine sambil berusaha berdiri diikuti Alvin yang berada dibalik punggungnya.
Jasmine membuka pintu perlahan,
"Dari mana saja kamu dari tadi saya panggil!!" bentak sang ibu marah.
"Maaf mah aku gak dengar." ucap Jasmine sambil menundukkan kepalanya.
plak....,plak....,plak....
Tiga tamparan dengan mulus mengenai wajah Jasmine membuat pipi Jasmine memerah.
"Berani sekali kamu tak mendengarkan suara saya!!" bentak sang ibu murka.
"M...maaf mah." ucap Jasmine gugup.
"Jangan salahin kak Jasmine dia gak salah aku yang salah!!" ucap Alvin mencoba membela Jasmine.
"Alvin?" ucap sang ibu terkejut.
"Berani sekali kamu bawa anak saya kekamar kamu tanpa seijin saya!!" bentak sang ibu kepada Jasmine.
"Mamah!! sudah aku bilang ini salah aku bukan kak Jasmine!!" teriak Alvin geram dengan sikap mamah nya, sedangkan Jasmine hanya terdiam tak mampu mengatakan apapun.
"Alvin!! kembali kekamar!!" ucap sang ibu, Alvin menggeleng.
"Aku gak akan tinggalin kak Jasmine! mamah pasti mau hukum kak Jasmine kan?" ucap Alvin tepat sasaran.
"Jangan ikut campur Alvin!! kembali kekamar sekarang juga!!" ucap sang ibu.
"Kalo aku nolak?" tantang Alvin membuat sang mamah menjadi tambah geram.
"Alvin!! kamu benar² berani sama mamah!! pasti dia yang ajarin kamu kan?" ucap sang ibu menunjuk Jasmine tepat didepan wajah.
"Sudah berapa kali aku bilang, kak Jasmine gak ada hubungannya dengan ini!! berhenti nyalahin kak Jasmine!!" bentak Alvin.
"Alvin!! ikut ayah sebentar!!" ucap sang ayah yang tiba² muncul, Alvin menggeleng.
"Aku bilang gak mau!! kecuali mamah gak hukum kak Jasmine." ucap alvin.
"Baik mamah gak akan hukum Jasmine." ucap sang ibu tersenyum licik, namun sayangnya Alvin tak melihat senyuman sang ibu.
"Oke aku akan ikut sama ayah, tapi awas kalo mamah hukum kak Jasmine." ucap Alvin.
__ADS_1
Keduanya pergi menuju kamar Alvin menyisakan Jasmine dan sang ibu.
"Kamu jangan senang dulu, saya hanya mengatakan itu pada Alvin, tapi bukan berarti saya tidak akan menghukum kamu!!" ucap sang ibu tersenyum sinis.
"A..ampun Bu!!" ucap Jasmine sambil meneteskan air matanya.
"Ampun? tak akan ada kata ampun!! kamu tau saya paling benci dengan orang yang tak pernah jera!!" bentak sang ibu.
"Saya sudah pernah bilang, jangan pernah bawa Alvin ke kamar kamu!!" teriak sang ibu geram.
"A..aku gak bawa Alvin Bu." ucap Jasmine terduduk di lantai.
"Kamu pikir saya bodoh? tak mungkin jika bukan kamu yang bawa dia bukan?" ucap sang ibu penuh penekanan.
"Saya ingatkan sama kamu!! jangan belagu mentang² kamu bisa tinggal ditempat mewah ini." ucap sang ibu.
Jasmine tak bisa melawan dia mulai teringat akan siapa dia sebenarnya, dengan keberanian dia pun memutuskan untuk bertanya.
"Bu? siapa aku sebenarnya." tanya Jasmine masih terduduk dengan air mata yang terus mengalir.
Sang ibu diam tak menjawab,
"Bu!! jawab aku bu! siapa aku sebenarnya, apa aku anak tiri dari kalian?" ucap Jasmine dengan air mata yang sudah seperti air sungai.
"Diam!!" teriak sang ibu.
"Kenapa ibu gak bisa jawab? apa benar kalo aku bukan anak kandung kalian? lalu dimana orang tua kandung ku!!" ucap Jasmine mencoba menahan emosinya.
"Sekarang mandi setelah itu turun ke meja makan." ucap sang ibu melembut dan berlalu pergi.
Saat menuruni tangga sang ibu meneteskan air matanya,
"Maaf." gumam sang ibu.
Jasmine menatap punggung sang ibu dengan pandangan nanar.
"Setiap aku bertanya akan hal ini mereka selalu berubah menjadi lembut setelah itu akan kembali lagi menjadi kasar pada ku, apa sebenarnya yang kalian sembunyikan? kenapa aku tak boleh tau?" tanya Jasmine pada dirinya sendiri dengan air mata yang tak henti keluar.
"Apa terjadi sesuatu di masa lalu? dan aku tak boleh tau? tapi kenapa? setidaknya aku hanya ingin tau siapa aku, dan kenapa aku bisa di benci semua orang. Kenapa aku sama sekali tak ingat masa lalu? yang ku ingat hanya perlakuan mereka yang kejam." imbuh Jasmine.
"Jika benar aku bukan anak kandung mereka, kenapa mereka mau menjaga aku hingga besar jika aku di perlakukan seperti ini? kenapa tidak di biarkan tidur di jalan saja? jika mereka menjaga ku hanya karna kasian makanya sebaiknya aku pergi! percuma tak ada peduli." ucap Jasmine.
Dia berjalan sambil tertatih menahan sakit di kepala nya, sungguh sakit! lebih sakit dari jambakan ibu nya.
Di depan kaca, lagi dan lagi Jasmine terdiam menatap wajahnya yang merah, dia memegang wajahnya dan mengelus nya perlahan.
"Bahkan aku tak memiliki kesamaan apapun dengan mereka." gumam Jasmine lirih.
"Kenapa nasib ku seperti ini? lebih baik aku mati di jalan daripada harus merasakan sakit seperti ini. Kenapa mereka sangat munafik jika di depan orang lain? aku lelah! apa ini saatnya aku menyerah?" Jasmine tersenyum dengan air mata yang mengalir.
:
:
:
Bersambung.............
__ADS_1