
...🎵 Ilusi Tak Bertepi 🎵...
Tak pernah lepas kau dalam ingatanku
Tak pernah bisa aku melupakanmu
Ku jatuh cinta pada orang yang salah
Kau kekasih sahabatku
Rinduku ini bagaikan di ujung hati
CInta ini bagai ilusi yang tak bertepi
Cinta mengapa singgah di hatiku
Kau salah memilih tempat dan waktu
Tak tahan aku menahan rasa
Aku tersiksa
Cinta galau aku menimbang
Rasa aku atau sahabatku
Pantaskah ku abaikan
Hati yang menangis menginginkanmu
Tak pernah lepas kau dalam ingatanku
Tak pernah bisa aku melupakanmu
Ku jatuh cinta pada orang yang salah
Kau kekasih sahabatku
Rinduku ini bagaikan di ujung hati
CInta ini bagai ilusi yang tak bertepi
Cinta mengapa singgah di hatiku
Kau salah memilih tempat dan waktu
Tak tahan aku menahan rasa
Aku tersiksa
Cinta galau aku menimbang
Rasa aku atau sahabatku
Pantaskah ku abaikan
Hati yang menangis menginginkanmu
Cinta mengapa singgah di hatiku
Kau salah memilih tempat dan waktu
Tak tahan aku menahan rasa
Aku tersiksa
Cinta galau aku menimbang
Rasa aku atau sahabatku
Pantaskah ku abaikan
Hati yang menangis menginginkanmu
🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴🐴
~Episode lima//
#Keesokan pagi nya pukul 05:30
syur.......(anggap aja suara air)
Jasmine terbangun dari tidur nya saat ada seseorang yang dengan kejam nya menyiram nya dengan air yang baru mendidih, siapa lagi kalo bukan sang ibu.
"Aakkhhh." teriak Jasmine menahan panas di sekujur tubuh nya, dia menatap sang ibu lemas sedangkan yang ditatap memperlihatkan mata elangnya.
"Gimana perih ya? aduh kasian deh sini biar ibu siram lagi siapa tau bisa berguna jadi anak!!" ucap sang ibu sambil menarik rambut panjang Jasmine.
"B..bu s..sakit." ucap Jasmine terbata, dia berharap ada orang lain yang akan membantu nya namun harapan nya sirna saat memikirkan bahwa tak ada yang peduli dengannya kecuali Alvin, tapi dia masih kecil tak mungkin bisa melawan sang ibu.
"Begini aja sakit!! dasar lemah!!" bentak sang ibu kejam.
"Semalam saya sudah mengampuni kamu tapi lihat sekarang lagi dan lagi kamu buat saya marah mau jadi apa kamu!!" ucap sang ibu marah.
"A..ampun b..bu." ucap Jasmine, dia benar² merasakan nyeri dibagian kepala nya akibat dari sang ibu yang semakin menarik rambut nya dengan kuat.
"Ampun? saya tidak akan tenang jika tidak menyiksamu terlebih dahulu!!" ucap sang ibu tajam.
__ADS_1
"K...kenapa i..ibu i...ingin m...menyiksaku? hiks..., hiks...., hiks..." ucap Jasmine mulai menangis.
"Percuma kamu nangis tak akan ada yang akan membantumu." ucapan sang ibu membuat Jasmine semakin menjadi jadi, dia tau tak akan ada yang menolong nya.
PLAK.......
"BERHENTI MENANGIS TAK AKAN ADA YANG MENOLONGMU SAYA MUAK MELIHAT AIR MATAMU YANG KOTOR ITU!!" bentak sang ibu nyaring.
Jasmine diam dia tak mampu melawan sang ibu yang sudah emosi, dia tak henti² nya menangis merasakan panas di sekujur tubuh dan perih dibagian wajah dan kepala.
Tok, Tok, Tok
Mereka berdua menoleh kearah pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu, biasa nya jika tak dikunci semua orang dirumah pasti akan langsung masuk.
"Diam kamu disitu biar aku saja." ucap sang ibu penuh ancaman, Jasmine langsung menghapus air mata nya agar tak ada yang melihat dia menangis.
Sang ibu membuka pintu, orang pertama yang dia lihat adalah seorang pria muda dengan pakaian khas anak SMA dengan senyum diwajah nya menambah ketampanan nya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang ibu lembut selembut kapas//berbanding terbalik sebelum dia melihat orang itu wajah nya yang sangar dan menakutkan langsung berubah saat melihat pria tampan berada dirumah nya.
"Em... perkenalkan nama saya Devan Pratama say...." ucapan devan terpotong oleh ibu Jasmine.
"Ooh apa kamu mencari anak saya Widya atau Tania?kamu salah kamar, kamar mereka berada ditingkat 3." ucap sang ibu panjang lebar.
Jasmine langsung terbelalak saat mendengar nama orang yang mengetuk itu adalah Devan dia mencoba melihat orang itu tapi tak bisa.
"Devan!!" teriak Widya dan Tania bersamaan.
"Nah itu mereka." tunjuk sang ibu pada dua orang gadis yang tadi berteriak.
Devan tersenyum canggung,
"Em... tapi saya bukan mencari mereka." ucap Devan sopan, sedangkan yang lain menatap Devan penasaran.
"Lalu siapa?" tanya sang ibu mewakilkan yang lain.
"Saya mencari Jasmine." ucap Devan sopan, semua mata terbelalak kaget mendengar bahwa seorang cowo tampan mencari anak sialan seperti Jasmine.
"Apa dia mencari ku." gumam Jasmine.
"Ngapain sih Devan cariin dia, orang gue lebih cantik dan seksi." pikir Widya.
"Ish Devan ngapain sih nyariin brengsek itu mending nyariin gue." pikir Tania.
"Apa!! dia cari Jasmine yang benar saja, jelas² Widya dan Tania lebih seksi dan cantik." pikir sang ibu.
"Kenapa kamu mencari dia?" tanya ibu Jasmine heran.
"Saya teman Jasmine kami sudah ada janji untuk berangkat sekolah bersama." ucap Devan.
"Eh? kapan aku janji sama dia?" pikir Jasmine.
Jasmine membulatkan mata nya mendengar pernyataan sang ibu yang terbalik dari situasi seharus nya.
"Benarkah?" tanya Devan tak yakin, menurutnya Jasmine adalah gadis paling lembut dan lemah tak mungkin dia berani memarahi sang ibu yang bahkan terlihat sangar dan egois.
"Benar Devan bahkan kami berdua sering dia suruh² untuk membuatkan makanan, minuman, dan segala macam." ucap Tania ikut² an.
"Rasain Lo." pikir Tania.
"Dan parah nya lagi kami selalu disuruh bersih² dirumah ini, sedangkan dia hanya tidur dan makan tak berniat membantu kami." ucap Widya tak mau kalah.
"Emang enak Devan bakal jauhin Lo dan bakal deketin gue pasti nya." pikir Widya percaya diri.
"Ya Tuhan mengapa mereka mengada ada, bukankah mereka yang memperlakukan ku seperti itu." ucap Jasmine menahan tangis.
"Tapi saat saya ingin mengetuk pintu saya mendengar suara tangisan dan suara itu berasal dari kamar ini, bukankah ini kamar Jasmine?" ucap Devan membuat yang lain bungkam.
"Oh itu, itu cuman suara sinetron di tv, tadi saat saya masuk Jasmine sedang melihat tv." ucap sang ibu gugup.
Devan mengerutkan kening nya saat mendengar pernyataan sang ibu.
"Bukankah tadi ibu bilang kalo ibu membangunkan dia dan dia marah² lalu kenapa berbeda lagi?" ucap Devan dingin.
"Iya dia emang tidur tadi tapi saat saya masuk, tv didalam kamar nya masih nyala mungkin gak dia matiin saat malam nonton tv." ucap sang ibu berharap Devan percaya.
"Kalau begitu biarkan saya masuk untuk menanyakan nya kepada Jasmine." sambung Devan masih dalam mode dingin.
"Silahkan." ucap sang ibu ramah.
Devan masuk dia melihat Jasmine yang sedang duduk dikasur nya dengan seluruh badan basah dan mata bengkak dan merah, dia langsung menghampiri Jasmine karna khawatir.
"Lo gak kenapa² kan?" tanya Devan lembut.
"Tenang aja aku gak apa²." ucap Jasmine mencoba tenang, jika dia boleh menangis mungkin dia akan menangis di pelukan Devan tapi apalah daya itu semua tak mungkin.
"Tapi kead..." ucapan devan dipotong oleh Jasmine.
"Kak aku gak kenapa² oke?" ucap Jasmine mencoba meyakinkan Devan, Devan hanya diam sambil memperhatikan sekitar lalu dia tersenyum sinis.
"Wanita bodoh, tak ada tv disini." pikir Devan.
"Dia kenapa sih? apa jangan² dia kemasukan setan?" pikir Jasmine merinding.
"Yasudah sekarang lo mandi terus kita berangkat bareng ya." ucap Devan lembut.
"Em... gak usah kak, mending kakak duluan aja aku belum siap gini nanti kakak telat." ucap Jasmine sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Gue udah jauh² datang kesini, masa Lo ngusir?" ucap Devan merajuk.
"Astaga nih kakak kelas kayak nya udah gak waras deh." pikir Jasmine.
"Tapi nanti kalo kita telat gimana?" ucap Jasmine dengan wajah yang menurut Devan sangat manis dan imut.
"Jasmine kamu tau ini jam berapa?" ucap Devan gemas.
Jasmine menatap jam yang berada disamping kasur nya.
"Pukul 06:00." ucap Jasmine masih belum sadar.
"Eh tunggu dulu." Jasmine kembali menatap jam itu dan tersenyum saat mengerti ucapan Devan.
"Eh aku pikir udah jam 7." ucap Jasmine cengengesan.
"Lain kali kamu harus lebih teliti." ucap Devan sambil mengelus rambut Jasmine yang sudah acak² kan akibat ulah sang ibu.
"Astaga dia perhatian banget." pekik Jasmine dalam hati.
"Oh no Lo gak mungkin sama dia Jasmine, dia terlalu sempurna buat Lo yang sampah." pikir Jasmine.
"Sialan buka nya tadi dia bilang pengen nanya malah mesra² an." pikir sang ibu geram.
"Brengsek, gak tau diri." umpat Widya dan Tania dalam hati.
"Yaudah sana mandi nanti telat kalo kamu MALES² AN." ucap Devan melirik katiga wanita yang berada didepan pintu kamar Jasmine.
Jasmine menatap mereka bertiga.
"Astaga aku lupa kalo masih ada ibu dan kakak, bisa mati aku." pikir Jasmine takut.
Jasmine melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk segera pergi sekolah.
"Ehem... bisa kah kamu tunggu diluar agar tak ada kesalahpahaman?" tanya sang ibu.
"Tidak!! aku ingin menunggunya agar tak ada yang menyakitinya nanti." ucap Devan kembali dingin.
"Sialan saat bicara dengan Jasmine dia sangat lembut berbeda saat bicara dengan kami." pikir Widya dan Tania.
Mereka bertiga pun langsung pergi menuju meja makan, dengan terpaksa sang ibu yang memasak karna tak mungkin dia menyuruh Jasmine disaat masih ada Devan bisa² martabat dia akan turun.
"Aku harus membantu agar anakku bisa pacaran sama dia! lumayan dia adalah anak dari pengusaha terkaya di negara ini uang nya pasti banyak!" ucap sang ibu tersenyum jahat.
Selang beberapa menit Jasmine turun bersama Devan yang menggenggam tangan nya sangat erat, Jasmine melirik kearah dapur dan berjalan menuju dapur.
"Kamu mau ngapain?" tanya Devan bingung.
"Aku harus masak dulu buat keluarga ku." ucap Jasmine masih berjalan menuju dapur diikuti Devan disisi nya.
"Emang disini gak ada pembantu apa?" tanya Devan.
"Gak ada kak." ucap Jasmine, Devan terbelalak mendengar nya bagaimana tidak rumah sebesar ini tak ada satu pun pembantu.
"Ibu, sini biar aku aja." ucap Jasmine sambil melepas tangan nya yang digenggam oleh Devan.
"Eh Jasmine, gak usah nak ibu aja mending sekarang kamu duduk dimeja makan aja." ucap sang ibu berusah selembut mungkin.
"Gak papa Bu." ucap Jasmine membujuk ibunya, sang ibu menatap Jasmine tajam namun sedetik kemudian dia berkata.
"Tak usah nak." ucap sang ibu yang terdengar seperti ancaman bagi Jasmine, Devan kembali menggenggam tangan Jasmine agar Jasmine tak membantah, akhirnya mereka pun menuju meja makan.
"Kita makan disekolah aja ya kak." bisik Jasmine kepada Devan.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Gak apa² sih." jawab Jasmine, Devan tahu bahwa Jasmine takut jika yang lain akan marah, dia pun mengangguk.
"Eh nak Devan ya?" tanya ayah mereka.
"Iya om." jawab Devan dingin.
"Wah kak Jasmine udah punya pacar ya." teriak Alvin menghampiri Jasmine dan memeluk Jasmine.
"Al gak boleh gitu kamu masih kecil kenapa udah ngomong pacar² an." ucap Jasmine lembut.
"Hehe... maaf ya kak? abisnya tangan kakak gak lepas²." ucap Alvin sambil melirik tangan Devan dan Jasmine.
Pipi Jasmine langsung memerah saat menyadari tangan nya masih digenggam erat oleh Devan, dia melirik kearah Devan sedangkan yang dilirik mengangkat bahu acuh.
"Ish ngeselin." pikir Jasmine.
"Yaudah Kaka berangkat dulu ya?" ucap Jasmine kearah Alvin.
"Emang kakak gak sarapan?" tanya Alvin.
"Enggak nanti aja kakak sarapan disekolah." ucap Jasmine, Alvin mengangguk kemudian dia menatap Devan.
"Kak nanti kalo ada yang gangguin kak Jasmine bilang sama aku ya tapi kakak jangan lupa tonjok orang nya dulu." bisik Alvin polos.
"Tenang aja." bisik Devan.
Mereka berdua pergi kesekolah menaiki mobil milik Devan.
:
:
__ADS_1
:
Bersambung.........