Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 10 Bawa Rinduku


__ADS_3

    Malam natal berakhir dengan meriah, semua susunan acara dapat terealisasikan dengan baik dan lancar, namun Renata dapat melihat jelas bagaimana populernya Tison dan Pitra dikalangan remaja, dan Muda-mudi Gereja, hal tersebut membuat Renata gerah, karena mereka semua terlihat seperti semut yang mengerumuni sumber rasa manis dalam benak Renata Aku akan menyingkirkan semua semut itu.


    Jika seorang anak remaja cemburu maka gambaran yang tepat adalah itu terlihat sangat lucu, terhitung hanya dua hari dari mereka menyatakan saling menyukai satu sama lain, namun Renata harus menyaksikan bagaimana Kekasihnya begitu terkenal, Renata hanya bisa tertawa dan meninggalkan Pitra bermandikan resiko dari pesonanya tersebut.


Di luar Gereja,


" Jadi kau dengan Pitra ? " tanya Tison dengan memberi tangannya sebagai tanda untuk bersalaman


" Selamat Natal " ucap Tison setelah melontar pertanyaanya


" Iya, Selamat Natal " Ucap Re canggung


...


" Kenapa Pitra ? " tanya Tison kembali


    Tison yang mungkin merasa dikhianati antara Renata dan Pitra merasa begitu bodoh saat itu, karena yang Tison tau Renata mengaku tidak pernah menyukai orang lain, dan Pitra yang tidak pernah memperlihatkan sikap bahwa dia menyukai Renata.


    Belum dapat jawaban dari Renata, namun rasa penasaran Tison harus ditunda karena Pitra kini hadir di antara mereka dan menyalami Tison dengan ucapan Selamat Natal juga, keadaan semakin canggung sehingga Tison memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua.


    " Selamat Natal juga buat mu " Ucap Pitra dengan memukul pelan kening Renata dengan telunjuknya


    Dan dapat tatapan penuh petir dari Renata


" why ? kenapa ? " Respon Pitra akan tatapan kilat tersebut


" Ahhhh... aku benci perasaan begini, aku harus tenang, aku pendatang di  sini, ahhh adek-adek dan kakak-kakak itu aku ingin memusnahkan mereka sementara, Pria ini milikku, aku ingin menjerit mengatakan itu, tapi harga diriku memberontak, sehingga aku harus pura-pura tenang saja seperti ini, menarik nafas panjangdan membuangnya, menyebalkan". Benak Renata 


    " Tidak apa-apa, Selamat Natal juga ". Ucap Re dan berjalan santai ke arah pulang, kepalanya masih di penuhi gambaran akan Pitra yang berinteraksi dengan perempuan-perempuan lainnya.


    Pitra menggenggam tangan kekasihnya tersebut, menjauh dari arah jalan pulang dan menjauh dari Gereja yang jemaatnya masih sibuk bersalam-salaman satu sama lain, mereka berjalan menuju warung wak Jawa, yang memang adalah tempat Favorit para Muda-mudi di kampung.


" Bagaimana penampilanku tadi ? " tanya Pitra Pada Renata saat mereka sudah sampai di warung Wak Jawa


" Bagus... aku pikir semua orang menyukainya " ucap Renata


" Kau ? apa kau menyukainya ?" tanya Pitra


" Tentu saja, ini pertama kali aku melihat Abang tampil dan itu bagus". Jelas Re


" Tahun lalu aku juga tampil " Ucap Pitra

__ADS_1


" Benarkah ? " Tanya Re dengan nada bersalah


" Mungkin aku tidak memperhatikan " Ucap Re dengan sedikit tersenyum malu


" Dasar... Tahun lalu mungkin perhatianmu masih pada Tison " Ucap Pitra


    Dan hanya dibalas dengan tatapan melotot oleh Renata sembari geleng-geleng yang membuat mereka tertawa kecil berdua,


****


    Besok harinya, siang hari di kampung selesai mencuci kain dan piring, Renata dan Artia serta beberapa anak kampung lainnya begitu bersemangat bermain di sungai, Renata yang tidak terlalu bisa berenang hanya merendam dirinya di dalam sungai dangkal, sedangkan Artia dan Anak lainnya bermain dengan arus sungai dan sesekali naik ke atas bendungan dan meloncat dengan berbagai gaya membuat Renata bergidik ketakutan melihatnya.


    " Artiaaa....." Jerit Andrew yang datang entah darimana dan menjerit membentak Artia yang bermain dengan bahaya. yang otomatis membuat Artia mundur dari aksi lompat indahnya.


    Andrew datang bersamaan dengan Pitra karena baru saja selesai mencari kayu bakar, Tentu saja Pitra terkejut dengan apa yang Dia saksikan karena melihat kedua tangan kekasihnya sedang di genggam erat oleh Tison, Pitra mendekati mereka menyaksikan Andrew yang mengomeli Artia, dan mendekati adegan kekasihnya dengan Pria lain


" Ayokkk main ke tempat yang lebih dalam " ajak Tison pada Renata dengan menarik kedua tangannya


   Renata berulang kali menolak dan menggeleng kepalanya, karena takut, saat itu sungai memiliki aliran sungai yang cukup deras karena musim penghujan. namun Tison tetap ingin menariknya bermain dengan yang lain ke tempat yang lebih dalam.


    Pitra turun ikut masuk ke dalam sungai, melepas Jacket dan kaos yang dia kenakan, mendekati Tison dan Renata


" Pit.... Ayok pulang " Ucap Andrew, sesaat setelah selesai mengomeli Artia


" iya " Ucap Pitra,


    Pitra dan Renata naik bersamaan ke daratan , mereka berempat pulang bersama, Pitra dan Andrew mengiring sepeda mereka yang penuh dengan kayu bakar, Artia menjunjung kain cucian dan Renata juga menjunjung piring yang sudah bersih, dalam keadaan basah kucup mereka berjalan menyusuri jalan pulang.


" Kenapa kalian nggak pakai sendal ". tanya Andrew melihat Artia dan Renata hanya bertelanjang kaki


" Hanyut di bawa sungai tadi ". Jelas Artia


" Astaga... setiap saat masalah kalian berdua hanya sendal " Ucap Pitra geleng-geleng


    Mereka berjalan pulang bersama, hingga sampai di Rumah Nenek Renata, mereka berjalan beriringan, sebelum berpisah jarak rumah, Pitra mengacak-acak rambut Renata yang basah dan izin pulang dengan mengiring sepedanya yang penuh kayu bakar.


****


    02 Januari 2010, Keluarga Richo memutuskan untuk pulang hari ini, terkesan begitu mendadak karena yang Renata tau adalah bahwa mereka seharusnya pulang tanggal 04 Januari, entah kenapa Ibu Rosita meminta mereka untuk pulang lebih cepat, sehingga tidak ada acara untuk membuat dodol seperti biasanya, dan keadaan emosi Ibu Rosita juga terlihat tidak stabil.


    Drerrt...drerrt... Renata menerima sebuah pesan singkat di Handphonenya

__ADS_1


*Bang Pitra*


Boleh bertemu sebentar ? di pohon mangga rumah Ringgo ?


    Membaca pesan tersebut tentunya Renata ingin segera berlari menemui Pitra karena ini adalah hari terakhir mereka bersama, Renata berpikir bagaimana cara mendapat izin dari Mamanya, karena mereka sedang menunggu Ojek untuk membawa mereka keluar dari kampung menuju Halte bus. Walau dengan susah payah memohon Renata diijinkan pergi dengan syarat 10 menit saja.


" Hai". Ucap Re mendekati kekasihnya yang sedang tertunduk lemas berdiri bersandarkan Pohon Mangga


Pitra hanya mengangguk dengan bibir yang manyun dan dahi yang berkerut, memperlihatkan emosinya yang tampak sedih akan kepergian kekasihnya, Renata hanya dapat tersenyum manis melihat hal tersebut.


Renata mendekat mengulurkan tangannya untuk dapat berpegangan dengan kekasihnya yang tentunya disambut oleh Pitra.


" Cepat sekali kau pulang hari ini ? " ungkap Pitra


" Iya, nggak Tahu, Mama pengen cepat pulang, Rindu mungkin sama Bapak " Ucap Re, karena memang untuk Tahun ini Pak Sao tidak ikut bersama mereka.


" Aku belum beli apapun" Ucap Pitra kembali


" Maksudnya ? " tanya Re bingung


" Kenang-kenangan ! Kita akan jauh, harus ada sesuatu untuk saling mengingat ". Ucap Pitra


" Bagaimana dengan ku, aku bahkan tidak tahu hal itu " Ucap Re


" Begini saja " Ucap Pitra


    Pitra memberikan Jam tangan yang saat itu Pitra kenakan, melingkarkan Jam Tangan tersebut di tangan kiri Renata.


" Kau berikan aku kalung itu " Ucap Pitra menunjuk kalung salib silver yang Renata kenakan


" Ehmm kalung ini ? " tanya Re


" Aku menabung uang untuk membeli ini " jelas Re kebingungan karena permintaan Pitra


"ehmm benarkah ? " Ucap Pitra Kecewa


" Baiklah, Abang boleh memilikinya, dengan syarat jangan sampai hilang " Ucap Re


Pitra tertawa mendengar hal tersebut


     Kalung Salib tersebut pindah kepemilikan melingkar di leher Pitra, mereka masih mengobrol beberapa menit sampai akhirnya Ibu Rosita menelpon Renata mengatakan untuk berangkat, begitulah mereka berpisah untuk Tahun tersebut, dengan membawa perasaan mereka, berharap waktu dapat berlalu dengan cepat, dan mereka bisa bertemu kembali, memendam perasaan mereka selama Setahun, dengan tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

__ADS_1


__ADS_2