Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 13 Rasa Kecewa


__ADS_3

Renata mengompres kening Mamanya dengan Nasi hangat yang berbungkuskan dengan kain, memberikan obat kumur untuk membersihkan mulut Mamanya yang penuh darah.


Pak Sao memutuskan untuk pergi dari Rumah saat itu, membawa beberapa pakaiannya, pergi begitu saja tanpa sepatah katapun, menghilang bersama dengan suara motornya.


Richo masih duduk terdiam di tempatnya, tertunduk, menangis dalam diam, airmatanya jatuh bercucuran, Richo menyesali perbuatannya, dalam benaknya bila Renata tidak menggapainya maka hal buruk akan terjadi.


Ibu Rosita meringis kepedihan karena obat kumur.


" Karena itu seharusnya Mama jangan marah-marah pagi-pagi " Ucap Renata dengan terisak


" Maafkan Mama." Ucap Ibu Rosita


" Kau melakukan hal yang hebat tadi Nak." Ucapnya mengusap kepala Renata dengan lembut


" Kalian semua orang gila " Ucap Renata


" Bagaimana kalau nanti kita ke pasar, kita beli jepit rambut mu yang baru ?" tanya Ibu Rosita


" Nggak mau !... Mama bilang Mama nggak punya uang tadi " Ucapnya masih terisak


" Itu bohong, hanya supaya Bapakmu dengar " jelas Ibunya


Renata menghela napas tidak percaya dengan ucapan Mamanya


" Mama kalau mau marah sama Bapak, sama Bapak saja, jangan bawa-bawa kami !" jelas Re


" Mana berani Mama kalau hanya berdua, Mama kira kalau ada kalian Dia tidak akan bersikap kasar " Ucap Ibu Rosita dengan cemberut


Renata kembali tidak percaya dengan apa yang dia dengar, ternyata mereka hanya perisai buat Mamanya, namun perisai ini pun tidak berguna.


" Kau mau kemana ?" Tanya Renata pada Rich yang berjalan menjauh dari mereka.


" Mau nyimpan kapak dan ke toilet " Ucap Rich pergi membawa kapak bersamanya.


"Mama jangan pernah mencoba bertindak lagi seperti ini " Ucap Renata pada Mamanya, berhenti sejenak dari mengopres kening Mamanya


" Jangan pernah coba lagi gunakan kami jadi perisai, itu tidak berfungsi, itu hanya menambah daftar Mama dipukuli " ucap Re


" Dan bagaimana bila tadi aku tidak berhasil menggapai Abang ?" tanya Re


" Hah... Bagaimana tadi jika aku tidak bisa menariknya jatuh ?" tanya Re pecah dalam tangisnya membayangkan hal buruk terjadi


" Tapi kau berhasil ! " Ucap Mama


" Ahhhhh...." Jerit Renata kembali menangis semakin keras


" Kau berhasil... kau melakukannya dengan benar, tidak terjadi apapun sekarang " Terang Ibu Rosita menenangkan Renata


" Kita hidup bertiga saja bagaimana? " tanya Renata dalam keputusasaannya

__ADS_1


" Mama cerai saja sama Bapak, kita pergi ninggalin Bapak" pinta Re dengan meta memelas pada Mamanya


" Kau mau hidup tanpa seorang Bapak ?" tanya Mama


" Itu lebih bagus daripada begini terus" ucap Re


" Di luar sana orang yang tidak memiliki Bapak dipandang Hina " Jelas Ibu Rosita


" Mama mau sampai kapan begini terus ?" Tanya Re


" Tenang saja, Bapak mu pasti akan kembali ke kita" ucap Ibu Rosita


" Tapi sementara Dia akan begini, Kasar, tukang pukul, bahasanya pedih, tapi Bapak akan kembali seperti dulu " Ucapnya


Renata terdiam, tidak tahu darimana Mamanya memiliki keyakinan demikian, benjolan di kepalanya masih merah dan luka di gusinya masih berdarah namun dia yakin Pria yang berbuat demikian akan membaik dan kembali menjadi suaminya.


Demikianlah Hari Minggu Renata, penuh dengan airmata, bahkan ucapan Selamat Hari Minggu dari Pitra tidak lagi menjadi pengobat padanya. Kepalanya sakit karena terlalu banyak menangis, Renata tidak beribadah dan memutuskan untuk tidur kembali.


****


    Semenjak kejadian itu Ibu Rosita tidak pernah lagi mengomel panjang di pagi hari, begitu juga dengan Pak Sao,Pak Sao juga tidak lagi pulang tengah malam, Pak Sao lebih cepat dari biasanya.


Namun keadaan rumah semakin canggung dari biasanya. Mereka ber-Empat tidak akan pernah dalam ruangan yang sama, Jika Pak Sao menonton TV mereka akan pergi menjauh mencari tempat masing-masing, Mama ke warung, Rich dan Renata ke kamarnya, demikian dengan makan atau yang lainnya, mereka menghindari satu ruangan dengan Pak Sao. Renata banyak bercanda dengan Rich dan Mamanya.


Suatu malam di bulan Mei, Pak Sao pulang lebih awal, mendengar suara motor Pak Sao otomatis mereka kembali berpencar, Renata menuju kamar, Rich juga demikian, hanya Ibu Rosita yang tetap berdiam menonton TV.


" Re.... Rich....keluar dari kamar kalian" Jerit Pak Sao


" Besok saja kalau kau sudah sadar " Ucap Ibu Rosita


" Awas kau... karena kau ini semua"  Ucapnya pada Istrinya


Pak Sao berjalan lunglai menuju kamar anak-anaknya. mengetuk dengan kasar


" Keluar... cepat keluar ..." Ucap Pak Sao


Richo keluar pertama, menyusul Renata, Renata berdiri dibalik Abangnya, berjalan mendekati Bapak mereka yang wajahnya dan matanya begitu merah karena mabuk.


" Kalian nggak ada sopannya kulihat, Bapak kalian pulang, kalian lari masuk kamar bukan nyambut bapaknya." Ucap Pak Sao dengan sempoyongan karena Mabuk


" Hah.... Mama kalian aja yang kalian kawan-kawani, kalian pikir ini rumah siapa? " tanya Pak Sao


" Hah... Ini Rumahku...atas namaku.. Sao. "


" Kalian itu numpang disini, kalau aku mau bisa ku usir kalian semua, jadi gembel hahh MAU ?" Ucapnya


" Sudah... sudah.... kau mabuk ... " ucap Ibu Rosita


" Diam kau... ini karena kau semua... buat aku marah depan mereka...Lihat.. hah ... lihat... Anak ku sendiri takut sama ku... Anakku sendiri... " Ucap Pak Sao dengan memukul-mukul dadanya

__ADS_1


Renata dan Rich masih menjaga jarak aman, Renata bersembunyi di belakang Abangnya.


" Re... sini Nak sini sama Bapak ... " Ucapnya mengulurkan tanganya pada Anaknya


" Kau dulu selalu duduk di pangkuan Bapak, masih Bapak gendong sampai SMP, kenapa kau takut sama Bapak sekarang Nak... Hah... ini masih Bapak mu Nak..." Ucapnya memukul dadanya


Renata kembali menangis mendengar hal tersebut, Renata meremas kencang pakaian Abangnya, mengingat memang benar bahwa Re masih manja kepada Bapaknya walau dia sudah SMP,


" Anakku sendiri takut samaku " Ucap Pak Sao tertunduk, airmata menetes dari pelupuk matanya, namun segera Pak Sao menghapusnya.


" Kalian tahu Mama kalian ini..." Ucap Pak Sao tertunduk, menunjuk Istrinya


" Buat Dia nggak pernah cukup uang itu, mau berapapun gajiku setiap bulan, Bapak kasih semua sama Mama kalian, tapi terus nggak pernah cukup " Ucap Pak Sao


" Selalu aku dibilang selingkuh... dari dulu terus aku dituduh selingkuh" Tambahnya


" Sekalian kejadian, selingkuh aku..." ucapnya


" Gimana... ? Supaya tau kau sakit.." Jeritnya di wajah Ibu Rosita


" Aku minta uang pegangan untuk di jalan, Mamamu marah, maksudnya aku nggak ada pegang uang" ucapnya geleng-geleng


" Tapi sekarang Aku jadi Suami yang Jahat, Bapak yang jahat, tanya dulu Mama mu ini udah betul nggak jadi istri" ucap Pak Sao


" Seharusnya apa yang terjadi antar kami, kalian berdua nggak perlu tahu. " Jelas Pak Sao


" Sekarang kalian memihak...Bapak juga susah posisinya" Jelas Pak Sao


" Kalian nggak perlu ikut campur apa yang terjadi antara Bapak sama Mamamu ini"


" Kalian masih kecil belum mengerti " ucapnya kembali


Pak Sao terlihat begitu kecewa dari tatap matanya, memang seharusnya anak tidak harus melihat bagaimana orangtua bertengkar. Anak hanya akan menilai apa yang terlihat, memihak apa yang mereka yakini benar.


Sekalipun memang tindakan kasar bukanlah hal yang benar, namun ada sebab dan akibat mengapa seseorang berubah, Orangtua Renata juga pasti mengalami kisah cinta yang berdebar-debar saat mereka muda.


Namun hal itu berubah saat mereka tidak lagi memahami satu sama lain, perasaan cinta dan sayang itu masih ada, tapi benarkah perasaan di antara orangtua mereka masih bisa menjadi pondasi yang kuat dalam keluarga Renata.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2