Alas Kaki

Alas Kaki
Episode 16 Keraguan


__ADS_3

Suasana pemberkatan pernikahan berlangsung dengan khusyuk. Artia banyak terisak di Altar, membawa rasa haru pada setiap tamu yang hadir dalam pemberkatan pernikahan.


Setelah pemberkatan pernikahan, acara akan disambung dengan acara adat yang akan berlangsung hingga malam hari.


Karena selama acara adat Renata tidak memiliki peran apapun Renata memutuskan untuk tidur, kepalanya masih terasa sakit karena muntah terlalu banyak.


Renata memutuskan untuk tidur di dalam Bus yang parkir cukup jauh dari gereja, agar keadaan cukup tenang sehingga dia bisa tidur tanpa mendengar suara berisik dari dentuman musik acara adat tersebut.


Renata tertidur dengan menutup tirai jendela untuk menghalang sinar matahari menembus jendela kaca bus, dan menutup wajahnya dengan rambutnya yang panjang. Renata begitu cepat terlelap karena lelah.


Sekitar dua jam lamanya Renata tertidur dan bangun karena lehernya terasa sakit. Renata terbangun dan hampir saja melompat terkejut karena melihat ada Pitra di sampingnya


" Ya Tuhan..." Ucap Re berbisik setelah sadar Pitra juga dalam keadaan tertidur sedang menggenggam tangannya


Re menatap wajah Pitra yang sedang tidur lelap


" Apa memang dia punya kebiasaan tidur seperti itu, tiba-tiba ada di samping seseorang " benak Renata, mengingat Pitra juga demikian saat Renata tertidur di Rumah Neneknya


Renata masih menatap Pitra dengan lembut dalam beberapa saat, Renata begitu senang, rasa rindunya meluap, namun Renata tidak ingin menikmati momen tersebut, Re membuka tirai jendela Bus, menatap keluar dengan ragu. Bagaimana jika kisah ini berakhir dengan sedih ? Bagaimana jika Bang Pitra bukan orang yang benar-benar baik? Bagaimana jika Bang Pitra juga dapat berubah kasar ? Apakah aku bisa dengan itu semua ? Tanya Re dalam benaknya.


" Kenapa ? ada Tison di luar ?" tanya Pitra saat bangun dari tidurnya, melihat jelas Re tidak menatapnya


" isss... kenapa bawa bawa Bang Tison " Ucap Re membalas Kekasihnya


" Aku di sampingmu namun kau tidak menatap ku " Ucapnya dengan mengelus punggung tangan Renata


" Abang sedang tidur " Ucap Re memberi penjelasan


" Apa wajah tidurku tidak terlihat Tampan " Tanya Pitra


" Iya... tidak " Ucap Re dengan tertawa menggoda Pitra yang di sambut dengan tawa juga oleh Pitra


" Apa sekarang kau sudah baik-baik saja ? " tanya Pitra tidak berhenti mengelus tangan Re


" Iya.. sudah membaik" Ucap Re


Pitra di dalam hening beberapa saat, menatap Re dengan perasaan, tersenyum manis.


" Aku merindukan mu" Ucap Pitra lembut


Renata hanya tertawa kecil mendengar hal tersebut tidak melepas pandangannya dari Pitra


" Kenapa ? kenapa kau tertawa ?" Tanya Pitra


Renata kembali tertawa mengalihkan pandanganya keluar menjauh dari pandangan Pitra


" Heii heiii kau melihat kemana ?" Tanya Pitra melepas genggaman tangan mereka, meraih wajah Renata, menariknya untuk melihat Pitra kembali


" Apa aku terlihat seperti pembohong sekarang ? sehingga kau tertawa begitu mendengar ucapan rindu ku ?" tanya Pitra dengan geram

__ADS_1


 Renata menjauh melepas diri dari cengkraman Pitra, bersandar pada Bus, masih dalam keadaan tertawa menatap Pitra.


" Tidak... aku percaya " Ucap Re tertawa dengan malu, dan kembali mendekat pada Pitra


" wuahhh dimana Renataku yang dulu ?" Ucap Pitra melihat sikap santai Renata


" Renata yang mana ?" tanya Re tidak mengerti


" Renataku yang hanya akan terpaku, terdiam, membeku seperti patung saat aku menyatakan perasaanku" tanya Pitra menggoda Re


" ahhhh Renata yang itu... Dia sudah lama pergi " Ucap Re


Kembali mereka hanya tertawa


" Bagaimana Buku Diary ? kau membawanya ? " tanya Pitra, kembali meraih tangan Re dan membelainya dengan lembut


" Aku tidak membawanya, aku tidak menulis apapun selama Tujuh bulan ini". Jelas Re


" Kenapa, tidak ada yang istimewa terjadi ? " tanya Pitra


" Aku tidak ingin mengulang hal sedih " jelas Re


" Maksudnya ?" tanya Pitra


" Jika aku harus menulis di diary aku harus mengulang hal sedih yang aku alami sebelumnya, dan aku tidak ingin mengulang mengingat hal tersebut " Jelas Re


Pitra berhenti dari kegiatan tanganya, menuju pipi Renata, mengelusnya dengan lembut


Renata tersadar akan perkataanya. Benar saja apa aku tidak mengalami hal yang lain, benaknya


" Apa tidak ada yang membuatmu bahagia selama ini ?" Tanya Pitra kembali, dengan tetap mebelai pipi Renata


Renata meraih tangan Pitra dari pipinya, menggenggamnya


" Tidak... aku bahagia sekali " ucapnya dengan tersenyum palsu


" Dan sekarang Renata ku juga pintar berbohong " Ucap Pitra


" Aku baik-baik saja" Ucap Renata


" Apa Abang juga menulis buku harian begitu ?" tanya Re


" Iya aku menulis apapun semua yang aku alami dalam satu hari " jelas Pitra


" why ?" tanya Re


" Itu akan menjadi bagian dari sejarah, seperi hari ini, aku ingin mengingat hal ini, ini !.Bagaimana aku menggenggam tanganmu, melihatmu, membelaimu, berdua denganmu di bus yang kosong ini, dengan pemandangan sawah hijau di luar, dengan suara aliran sungai, suara musik dari pesta Artia, semuanya... semua rincian tentangmu, aku ingin mengenangnya" Ucap Pitra menjelaskan pada Renata arti dari sebuah buku harian


Renata begitu tersentuh dengan hal tersebut, mendengar ucapan itu dari Pitra, Renata mengetahui bahwa Dia begitu istimewa untuk Pitra.

__ADS_1


Pitra menarik tangan Renata, memeluk Renata dengan penuh kasih sayang.


" Apa aku juga tidak menjadi alasan kau untuk bahagia ?" tanya Pitra lirih dalam pelukannya


Perasaan Renata bercampur aduk, Renata begitu bahagia, ini pertama kalinya Renata mendapat pelukan dari Pitra, seorang Pria yang dalam tindakannya penuh kasih sayang. Renata menahan keras agar dirinya tidak menangis.


" Apa aku tidak pernah istimewa untuk menjadikan ku alasan kau menulis sesuatu di buku harianmu ?". Tanya Pitra kembali dengan membelai lembut kepala Renata, turun ke punggung, mengelusnya.


Renata menyadari bahwa Dia benar-benar jatuh hati dengan Pria ini. Semua bentuk perlakuan Pitra penuh dengan kasih sayang, tatapan matanya, sentuhannya, kalimat yang dia ucapkan. Renata menempatkan Pitra di bagian terdalam hatinya,


Pitra melepas pelukannya, menatap Renata


" Hei... ada apa ?". Tanya Pitra


Renata tidak ingin  berkata jujur akan perasaannya, rasa takut akan sebuah hubungan menghantui Renata.Renata menahan perasaannya untuk dirinya sendiri. Renata takut kejujuran itu akan menyakitinya pada akhirnya.


" Menjadi anak SMA itu susah " Ungkap Renata mengalihkan pembicaraan


Dan mereka tertawa bersama


" Iya kau benar... aku baru saja lepas dari hal itu " Ucap Pitra


" Ahhhh iya, Abang baru lulus SMA " Ucap Re bersemangat


" Ada rencana lanjut kemana ?". Tanya Re kembali


" Belum tahu, aku belum ingin kuliah, mungkin aku akan coba bekerja " Ucap Pitra


" Merantau kemana ?". Tanya Re


" Kurang tau, mungkin Batam, Jakarta, atau Medan" Ucap Pitra


" Apa kau akan menyusul ku ke kota dimana aku merantau nanti ?".Tanya Pitra


" He... terlalu panjang percakapan ini " Ketus Re


" Kenapa ?" tanya Pitra


" Itu masih lama, sekitar tiga tahun lagi, dan itupun kalau kita masih bersama" Ucap Re


" ohh.. kau ada rencana melepasku dalam waktu dekat ini ?" Tanya Pitra penuh kecurigaan


" Tidak, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi " Ucap Re


" Iya memang, kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi berpisah dengan mu tidak ada dalam daftar ku " Ucap Pitra


Renata kembali tertawa mendengar hal tersebut,


" ohhhh kau tertawa lagi, tidak percaya dengan ucapanku" celetuk Pitra mencoba kembali meraih wajah Renata

__ADS_1


" Iya... aku percaya" Ucap Re menghindar dari cengkraman Pitra


__ADS_2